
"Silakan lanjutkan, Daniel."
"Huh, sampai mana tadi ... oh! Sebelum membahas pengkhianat itu aku lupa menambahkan, ternyata ada naga lain di dalam portal. Naga kelas Elite, dan naga itu sudah mendekati kelas General."
Elite?! Astaga, itu ... mendadak terasakan bulu kudukku berdiri, karena Elite tingkat atas berarti sederajat dengan yang kami lawan di wahana Dream Land! Dan mereka hanya berempat---ah, tunggu, bertiga kalau tidak dihitung dengan ... um, si pengkhianat.
"Anehnya waktu naga Elite muncul, kami enggak bisa bergerak. Dan saat itu aku langsung ingat. Si pengkhianat, Neor, kasih kami makanan. Aku enggak ngerti ternyata dalam makanan ada obat yang membuat pergerakan kami jadi lambat."
Neor? Jadi Neor pengkhianatnya? Tidak kuduga bisa setega itu ... tunggu! Tuhan, bagaimana dengan Fate?! Apa ia juga---ah, Daniel langsung mengangkat tangan kirinya seakan tahu apa yang aku khawatirkan dari ekspresi wajahku.
"Tenang, Red. Fate enggak memakan makanan dari si Neor, ia menolak karena katanya sudah makan dan masih merasa kenyang. Jadi cuma aku dan Domiguez yang kena."
Tanpa sadar, aku mengembuskan napas lega dan bersandar pada bangku setelahnya. Tuhan, tak terbayang bagaimana jadinya kalau gadis itu ikut terjerumus dalam jebakan. Dan entah mengapa hal tersebut membuat ketiga orang lain di ruangan ini memberikan senyuman ... nakal, ke arahku.
Eh, memang kenapa? Apa ada yang salah merasa khawatir terhadap teman sendiri?
Profesor Caterine pun terbatuk sedikit, seperti isyarat meminta Daniel untuk melanjutkan laporannya.
"O-oh ... habis si naga Elite muncul, ia langsung menyemprotkan semacam racun gitu ke arah kami. Aku berhasil menghindar dengan bantuan Fate, meski tangan kananku kena oleh serangannya. Tapi Domiguez enggak berhasil kami selamatkan. Karena tubuh Fate kecil, ia hanya bisa bantu satu orang. Dengan posisi kami saat itu, akulah yang paling dekat untuk ditolong."
Profesor Caterine mengangguk, sedangkan Crist mengernyit dan langsung mengetik sesuatu dalam layar holografi.
"Racun yang disemprot itu ngebuat manusia yang kena jadi Pawn. Domiguez perlahan berubah menjadi Pawn, tapi mungkin tubuhnya enggak kuat ya? Jadi ... enggak lama ia mati."
Seketika Daniel memeluk tubuhnya sendiri, seperti menahan rasa merinding terlebih wajah turut berubah masam.
"Hih, hampir aku menjadi Pawn, soalnya bagian tanganku kena. Beruntung Fate berhasil berhentiin efeknya dengan bekuin tanganku. Haaah, ia yang selamatin aku tapi malah minta maaf, telat bekuin racun katanya. Soalnya pas ia cek, racunnya sudah kena syarafku. Habis itu kami terus bersembunyi ... tapi selalu terdeteksi. Fate langsung analisis dan akhirnya sadar kalau kita selalu terdeteksi karena efek kontaminasi yang ada di tanganku."
"Begitu ... sebab itu tanganmu dipotong?" Aksen wanita yang begitu khas mengumbar. Tapi kali ini, hawa sekitar terasa sedikit mencekam.
Merasakan auranya, Daniel menelan ludah tapi mengangguk membenarkan. "Iya, aku yang minta Fate buat potong tanganku. Itu keputusanku sebagai ketua tim. Aku enggak mau merepotkannya lebih jauh lagi. Fate satu-satunya yang bisa bertarung dengan kondisi penuh. Ia sempat terdiam dan agak bimbang. Jadi kubilang 'aku lebih memilih enggak bisa bertarung daripada harus membahayakan anggotaku sendiri'."
"Fate sempat diam dulu meliat ke arahku, enggak tahu sih apa yang ia lihat. Tapi setelah itu ia menganggukan kepalanya dan memotong tanganku secepat mungkin biar enggak terlalu membuatku merasa sakit."
Tanpa sadar, aku mengeratkan genggaman pada celana di atas paha lantaran berpikir ... Fate, aku tidak bisa membayangkan apa yang ia rasakan pada saat itu. Pandanganku nanar sekarang. Sebab jika itu aku, mungkin tak sanggup untuk melakukannya.
Membuat cacat teman sendiri bukan suatu pilihan mudah, meskipun Daniel yang memintanya.
"Setelah itu Fate ngegunain tangan yang terkontaminasi buat jadi umpan. Aku enggak ingat dengan jelas pertarungannya karena sudah setengah sadar. Yang kutahu, Fate berhasil mengalahkan Elite itu dengan mengganti-ganti class. Habis itu aku kehilangan kesadaran dan begitu sadar, sudah di rumah sakit."
Profesor Caterine mengangguk-angguk seakan mengonfirmasi sesuatu. "Baik. Laporanmu sama dengan apa yang telah Fate laporkan, dan ini memenuhi beberapa kekurangan dari laporannya."
"Oh! Kondisi Fate gimana sekarang, Bu? Aku merasa bersalah sudah maksa untuk motong tanganku. Aku tahu, itu bukan pilihan yang mudah."
Beliau memberikan senyuman kecil. "Meski masih sedikit terguncang dan kelelahan karena penggunaan kekuatan dragonic yang berlebihan, secara keseluruhan ia baik-baik saja, bahkan sanggup memberikan laporan cukup detail kepada Gil dan Lucian. Sebenarnya Fate sudah bisa keluar dari rumah sakit besok. Tapi untuk pemantauan lebih lanjut terhadap kesehatan fisik terutama mentalnya, Fate masih akan dirawat untuk beberapa hari."
Daniel menghembuskan napas lega. "Okelah. Aku merasa kaget juga karena terbiasa melihat ia tenang jadi suka lupa, seberapa pun kuatnya Fate ... ia juga manusia seperti kita."
"Oh, ada yang ketinggalan!" seru Daniel mendadak dengan duduk amat tegap, "waktu terkontaminasi, aku melihat kayak ada ilusi aneh dalam kepalaku; bisik-bisik enggak jelas dan bahasa yang enggak kumengerti. Tapi sosok bayangan yang muncul itu masih bisa aku ingat. Bayangan naga ... besar banget enggak tahu berapa meter. Kepalanya ada lima tapi yang tengah putus, tinggal leher doang."
Langsung aku mendongak dan memperhatikan Daniel lantaran merasa tak asing ketika mendengarnya, tapi memoriku samar. Kenapa ... sulit untuk mengingatnya? Bukankah memoriku memang aku tutup sendiri karena beratnya masa lalu? Dan baru bertemu mengenai naga di dunia ini---ack!
Mendadak rasa sakit luar biasa merebah dalam kepala, terasa mendidih sampai ke ubun-ubun dan refleks aku menjambak rambut dengan dua tangan---akh! Apa ... kenapa lagi?! Sulit bernapas---
Seketika terasa seseorang mencengkeram dua pundakku dari samping, membuatku tertegun dan ketika menoleh ... kudapati Crist berwajah serius tanpa berkata sepatah kata pun. Layar holografi di depannya juga menghilang.
Ha-ah, rasa sakit dalam kepala turut lenyap seketika, mungkin timbul ketika aku memaksa untuk mengingat? Tapi berkat itu, ada beberapa hal yang kusadari.
"Ah, aku tak apa. Tadi mendadak seperti mengingat sesuatu dan tidak tahu kenapa kepala langsung pusing."
"Hoya, oya, mengingat apa?" Kali ini sang dokter terbaik mengukir suatu seringai, beriringan menaikkan kaki pada salah satu paha.
Terasa Crist mulai melepas pegangannya dari pundakku. Aku pun berkata, "Waktu Daniel mengatakan soal naga besar kepala lima, aku mengingat sesuat ... bukannya, kepala tengah yang paling besar? Tanduknya lugas ada dua dan hiasan sirip di bawah---ah ...."
Aku tak menduga.
Tanpa basa-basi Profesor Caterine langsung beranjak dari duduk dan memegang dua pipiku hingga tak dapat bergerak---astaga, apa aku berbuat salah? Bahkan wajah beliau dekat sekali; begitu dekat sampai-sampai kening kami bersentuhan. Mata berlian kecubung pun berkilauan menatap lurus pada iris jelaga dan aku menjadi gugup lantaran pergerakannya begitu tiba-tiba, membuat jantung berdegup kencang.
"O-oi Crist! Bantu Red, dia terkena pelecehan!"
"Miss Caterine tidak pernah seserius ini ... dan jangan melebih-lebihkan, Daniel."
Akhirnya beliau melepasku dan menjentikkan jari setelahnya. Spontan aku menyentuh kening dengan kedua tangan---Tuhan, aku benar-benar terkejut sampai tak mampu berpikir apa pun tadi.
Lantas tanpa berkata, derap Profesor Caterine lugas meninggalkan ruangan. Saat itu juga Crist beranjak dari bangku tetapi telunjuk beliau menghentikan pergerakannya, menuding tepat pada si pemuda dari kejauhan.
"Jaga temanmu." Kemudian beliau melihat ke arah Daniel dan tersenyum seakan mendukung. "Sesuai dengan laporan Fate, kamu pemimpin yang baik Daniel. Bahkan Kaidan dan Lucian berkata kamu melakukan hal yang tepat dan mengakuimu. Kamu ingat itu baik-baik."
Itu ucap terakhirnya, sebelum benar-benar pergi menyisakan Daniel yang melebarkan mata karena terkejut. Sedangkan Crist dibuat kebingungan, jelas dari gelagatnya memaksakan diri untuk duduk kembali dan memijat kening yang mengernyit kasar.
Mendadak Daniel mengeluarkan tawa yang terasa tawar. "Parah ... aku pikir, aku bisa menyembunyikannya. Tapi enggak mungkin bisa menyembunyikannya dari Kepala Departemen Konsultasi."
Dia pun mengembuskan napas dan melihat tangannya yang beristirahat di paha. "Aslinya, aku berpikir ... apa ini semua gara-gara aku enggak becus memimpin dengan baik?"
Hal tersebut membuatku dan Crist saling bertukar tatap.
Sebelum kami sempat mengatakan apa pun, Daniel menaikkan tangan. "Aku enggak apa-apa. Bu Caterine sendiri tadi bilangkan? Tidak hanya Fate, bahkan Pak Kaidan dan Pak Lucian si kepala sekolah kita yang gila itu mengakuiku. Untuk saat ini, aku rasa itu sudah cukup."
Kemudian Daniel mengeluarkan senyum kecil yang lembut dan aku merasa ... ini pertama kalinya melihat senyuman tulus di wajah yang biasa tampak iseng. Sebuah kehangatan dan bahagia memancar kuat di sana, dibantu oleh serbuk cahaya yang merambat masuk dari jendela. Dan entah mengapa, aku dan Crist terbawa untuk tersenyum juga. Hingga mendadak dia melihat Crist dengan ekspresi tidak enak.
"Eh, omong-omong ... oi, kacamata! Tadi Red kenapa sampai digituin?"
Yang dituju kembali membisu, seperti memaksakan diri untuk memikirkan sebuah jawaban ... mungkin? Sedikit tak enak hati melihatnya kesulitan begitu, sepertinya dia begitu mengkhawatirkanku---ah! Mungkin kalau aku ingat lebih banyak lagi, bisa membantu mereka.
Aku memutuskan untuk bertanya, "Crist, kamu selalu tahu daftar misi para murid 'kan? Apa aku pernah dikirim misi untuk menghadapi naga kepala lima?"
"Tidak ada misi menghadapi naga seperti itu. Tidak untukmu, atau untuk siapa pun ... sampai detik ini," tegasnya seraya sia-sia menelan saliva di tenggorokkan.