
Entah mengapa sunyi justru menyelimuti, bahkan detak jarum jam terdengar ritmis dalam ruang yang hanya disinggahi oleh kami.
Sepertinya, memang salah ucap ....
Crist masih dalam suatu ekspresi yang tak kumengerti, mungkin lebih seperti terkejut? Tapi heran juga. Ah, tak paham. Setidaknya, a-aku harus katakan sesuatu demi memecah hening!
Namun, ketika hendak membuka mulut Crist sudah lebih dulu berkata, "Aku ada waktu istirahat satu jam, kamu mau tidak menemaniku jalan-jalan? Nanti kubelikan soda, kamu sukakan?"
Langsung aku membalas dengan wajah berseri. "Iya! Baru di dunia ini minum sesuatu yang rasanya unik seperti soda, aku suka!"
"Seperti digigit semut?"
"Benar-benar! Apa lagi kalau diminum sekali tenggak semua habis, lalu ketika sampai perut udara seperti berkumpul jadi satu. Rasanya lucu!"
Ah, kali ini aku tertawa kecil diiringi suatu senyuman, karena ... memang unik! Kadang sampai aku berserdawa dan ada rasa seperti menusuk-nusuk dalam hidung. Yang pasti, aku tak mau berserdawa keras di depan orang. Heh, memalukan!
Mendadak Crist menyunggingkan setengah senyum dan kembali dengan makan siangnya---eh, apa itu? Senyumannya berbeda! Apa reaksiku berlebihan? Tunggu! A-aku ingat Crist pernah bilang kalau aku selalu jujur pada perasaan sendiri. Aaaaa, pasti ekspresiku memalukan tadi. Terlalu terbawa suasana! Spontan aku menutup wajah dengan kedua tangan.
"Kamu boleh cerita, termasuk yang tadi kamu bicarakan dengan Daniel."
Eh?
Lantas aku menurunkan tangan dan kulihat Crist sudah berdiri, terlihat ingin mencuci piring. Setelah semua selesai, dia berjalan ke arahku, lebih tepatnya berdiri di belakang bangku yang aku duduki. Kemudian dia memberikan suatu isyarat untuk pergi, aku pun mengikuti ke mana pemuda ini berjalan.
Ketika sampai pada pintu dan memasuki lorong gedung club, Crist berkata, "Yang kamu ingat masalah Tiamat. Kamu boleh cerita padaku."
"Eh, tidak apa-apa? Nanti kamu terganggu ...."
"Tidak, Red. Justru bisa menjadi laporanmu bukan?"
"Benarkah? Boleh?!" tanyaku penuh antusiasme dalam hati kian menyala, membuat Crist menangguk ringan atas sebuah senyuman.
Mungkin reaksiku berlebihan, tapi tak bisa berbohong kalau merasa sangat berseri-seri ketika ada orang di sisi mendengarkan apa yang kukatakan. Bisa jadi memang aku egois. Namun, juga menghargainya.
Dengan terus berjalan, akhirnya aku mulai bercerita.
"Waktu itu pernah kukatakan masalah si kembar bukan? Saat kembali ingat, akhirnya aku merasa aneh ketika Mei kadang berbicara tak jelas, seperti 'kakakku tidak mau bangun!' pada sang uskup. Bukannya dari awal memang tidak mau bangun? Mungkin, ia juga terkena pengaruh Tiamat karena si kembar adalah satu yang dibelah dua!" ucapku berusaha meniru aksen seorang wanita.
Tentu itu konyol, buktinya Crist tertawa. Tapi senang melihat ekspresi lepasnya, lagi pula memang begitu yang ada dalam kepalaku.
"Lalu ... lalu, benarkan kalau sang uskup itu pengguna dragonic? Sama seperti penyihir di desa yang telah hilang--Nifle."
"Iya, Red. Pada dasarnya orang dengan kekuatan spiritual tinggi hanyalah pengguna dragonic. Pengawas besar kemanusiaan rata-rata pengguna dragonic. Tapi mereka tidak terikat dengan kita dan hanya boleh menggunakan kekuatan dragonic jika keadaan sudah genting atau kita sulit mencapainya, termasuk untuk kepentingan tradisi atas izin petinggi Vaughan. Kuyakin kamu tahu kenapa."
"Pantas saja! Oh, ya, kasus data yang bocor itu juga akukan? Karena Neor intel untuk Tiamat! Ia dan naga-naga yang bersikap nekat membuka portal dekat akademi ingin mengawasiku bukan? Hanya orang yang membaca masa laluku tahu kalimat si Malaikat Jatuh tetapi Dominguez mengetahuinya. Mungkin ia tahu dari Neor, maka dari itu setelah sparing giliranku, semua langsung kacau! EVE tidak salah Crist, jangan menuduh yang tidak-tidak pada EVE. Ia baik!"
Aku ucapkan itu semua dengan menggebu-gebu sampai mencondongkan badan ke arah Crist, tapi balasannya justru wajahku didorong menjauh menggunakan satu tangan ... dan dia terkekeh kecil. Astaga, aku serius! Karena kejadian waktu itu rasanya gaduh sampai---tunggu, langkahku sontak tersentak dengan kelopak mata menggulung perlahan.
Sebentar-sebentar! Ya Tuhan, waktu itu memang payah sekali sampai menyakiti hati Profesor Kaidan. Membuat Fate marah dan menghajarku. Lalu Crist khawatir dan menemaniku, mengatakan kita sahabat ... wahaaa! Red, waktu itu kamu memang---
"Hah!"
Seketika aku terkejut karena dingin nan menusuk menempel pada pipi, refleks aku terkesiap dengan menyentuh muka sebelah kiri. Heh, rasa beku benar-benar lekat seperti terkena bongkah es ... bukan, itu kaleng minuman---eh? Soda!
"Ambillah, kita duduk di sana."
"Ah, terima kasih ...."
Lagi-lagi aku mengikuti si pemuda, duduk pada bangku taman tak jauh dari mesin jual otomatis. Aku kembali menatap wajah yang tenang namun terlukiskan sarat akan kesedihan pula, matanya melihat jauh membuat iris seakan samar oleh biru langit; seakan melihat banyak kilas balik. Embusan napas terumbar kemudian. Lalu Crist memejamkan mata sampai angin membelai lembut rambut ungunya.
Aku tak mengerti arti gelagat itu, mulai menikmati senyap ... mungkin?
Aku pun menunduk, bersandar pada bangku dengan menjulurkan kaki lurus ke depan. Meski sudah lewat waktu tengah hari, jalan tampak basah juga udara segar terhirup setara dinginnya dengan es. Ya, musim gugur memang menyejukkan lantaran sinar sang raja siang redup, terbias pada jemariku yang sibuk menggenggam kaleng minuman di tengah paha.
Sunyi mengisi taman ini, sampai Crist akhirnya buka suara. "Red, walaupun kamu menyukai soda ... aku harap kamu bisa menjadi sebotol air."
Lantas aku menatapnya, dia meneguk teh botol sebelum lanjut berkata, "Kenapa? Mari kita katakan, botol minuman adalah kamu dan isi botol itu adalah emosi dari reaksimu. Orang yang membenci atau iri padamu berusaha untuk mengguncangmu, dari waktu ke waktu. Kalau kamu mengocok soda, ketika membukanya maka akan langsung meledak. Tapi kalau kamu mengocok botol air, dalam waktu yang sama akan tenang sebelum dibuka."
Crist menoleh padaku, dalam suatu ekspresi yang tidak kumengerti. "Jangan sampai biarkan sesuatu mengganggu ketenanganmu. Fokuslah pada segalanya yang membuatmu bahagia ... dan menjadikanmu bahagia. Hidup selalu memberi kita ujian. Kita harus bisa mengontrol emosi sebelum emosi itu justru yang mengendalikan kita."
Dia berpaling dan menutup botol minumannya. Jujur, aku sedikit bingung kenapa Crist berkata semua ini, tapi entah mengapa menenangkan juga. Mungkin itu yang tadi Crist rasakan ketika aku berbicara yang tidak-tidak? Aku semakin ingin tahu, apa maksud dari kebaikan yang dia berikan secara cuma-cuma?
Mungkinkah berharap ... seseorang juga memperlakukannya dengan baik, seperti dia menolong orang lain?
"Dulu ada seseorang yang berkata padaku jika ingin melakukan sesuatu, besar atau kecil, selalu pikirkan apa itu baik atau tidak. Untuk itu, perlu menganalisa apa akan berakhir menyakiti seseorang atau tidak. Itu menguntungkan atau tidak. Maka dari itu, percayalah ...."
Kedua tangannya yang tegak; menyangga badan dengan mencengkeram di samping paha, mulai bergetar bak mati-matian menahan isak. Begitu pula dengan vokalnya yang sedikit melengking pun terputus-putus. "Dan biarkan aku ... membantumu."
Mendengar itu, spontan pandanganku sayu.
"Sekarang aku tahu kenapa Fate bertingkah begitu, kata-katamu terasa panas."
Tuhan, benarkan karena salah ucap?! Seketika aku langsung merasa panik. "A-aah! Aku tidak bermaksud---"
"Sangat panas sampai melelehkan hati yang beku."
Dan wajahnya kembali menoleh ke arahku dengan seulas senyum simpul; sangat sederhana, matanya hanya menyipit; tak sampai terpejam seperti biasa. Suatu ukir sambit nan hangat yang pertama kali dia perlihatkan sepanjang sepengetahuanku karena gemuk air matanya tumpah, membuatku terasa tercekat sebab terlalu banyak emosi tertahan dalam relung dada.
"Aku senang kamu menghargai segala hal kecil yang aku katakan padamu ... tapi aku menghargaimu, melebihi kamu menghargaiku."
Seketika aku merangkulnya karena tak tahan. Sungguh. Semua terasa sesak pun dia pasrah; menunduk; membenamkan wajah. Dan pertama kali bagiku berkesempatan memberikan pundak padanya.
Sebab kata-kata yang diucap ... sama seperti yang Aion ucapkan padaku, 'Aku mencintaimu, melebihi kamu mencintaiku'.