
Entah mengapa, pandanganku hanya tertuju pada satu.
Mata jelaga tak henti terfokus pada riak tenang genangan air membias sempurna secercah cahaya yang lolos dari langit. Anehnya, bayangan diriku tak tampak di sana.
Sejauh mata memandang; termasuk tempatku berjongkok, terselimut oleh genangan air. Setiap rintik yang berjatuhan menciptakan gelombang menyebar sedikit demi sedikit; membuat air berubah sesaat warnanya bagai sebuah ilusi.
Tapi aku terus memperhatikan setiap rintik berjatuhan pada kolam nan besar ini, karena mengingatkan pada sebuah impian tak pasti. Sebab bagiku yang bahkan tidak bisa mengangkat jari ... terasa kesedihan menelan secara perlahan dan tak lama aku merasa kasihan lantaran, lagi-lagi, kepala tak dapat berpikir.
Aku mati rasa.
Jika diri ini memiliki sayap, bisakah aku terbang bebas menggapai segalanya? Namun, apa pun itu, semua berakhir sama. Lihatlah ke depan, semua orang terdistorsi dan lama kelamaan menghilang. Jadi, aku kembali menutup mata.
Sebab, semua, sia-sia ....
Tapi bukankah seharusnya menatap langit, tempat segala memori disimpan? Karena andai tubuh terjebak dalam palung laut, langit akan terus berkilauan; menakjubkan, ketika memandangnya. Maka aku merentangkan tangan seolah-olah mencapai langit---
Seketika ada yang menarik tanganku.
Aku terkejut sampai mengerjap beberapa kali lantaran pandangan begitu pudar dan menyilaukan, memaksaku mengerutkan dahi tetapi terus saja mendongak seraya menyipitkan mata; memfokuskan penglihatan pada orang yang berbuat demikian.
Meski berbayang, samar-samar terlihat Profesor Kaidan yang ternyata menarik tangan kiriku tinggi-tinggi. Ekspresinya ... mengerikan. Apa beliau marah?
"Bangun!" serunya dengan nada amat ditinggikan, wajah berang turut memandang dingin ke arahku memperkeruh keadaan.
Namun, tak mampu menuruti perintah. Rasanya ... lemas, sebab beku mulai memenuhi. Ujung jemari pun terasa dingin. Napasku berat. Apa lagi beliau menekan pergelangan tanganku kuat-kuat hingga terasa kebas.
"Cepat, bangun!" perintah beliau ke sekian kali, tapi kini dengan merangkul badanku dari belakang walau tangan kiri belum dilepaskan.
Ketika tubuh lemas ini diangkat, suara denting kaleng terjatuh membuatku sadar banyak orang mengelilingi kami. Pandangan mereka jelas sekali melukiskan suatu kekhawatiran, hingga ada yang menutupi mulut seperti apa yang terjadi bukanlah hal biasa.
Dan benar saja.
Baju bagian depanku berlumuran darah hingga menetes pada beton penghalang air mancur akademi, menciptakan sedikit pecahan noda merah pada genangan air. Dan tangan kiriku tak henti mengalirkan cairan merah tersebut meski sudah Profesor Kaidan tekan kuat-kuat.
Dan mereka membicarakan sesuatu? Gelagat tampak amat panik namun ... mataku, berat.
Mereka berteriak 'kan? Sayang, aku tak bisa mendengar apa-apa karena dengung memenuhi telinga, kelopak mata juga hanya mampu terbuka sebagian bersamaan dalam pusing menghantam kuat. Seluruh tenagaku hilang, bahkan untuk menutup mulut pun tak mampu.
Lantas kepalaku terkulai.
Perlahan, kesadaranku pun menghilang.
...****************...
"Caterine, serius cuma dengan kaleng minuman bisa melukai diri separah itu?! Dia sampai kehilangan banyak darah dan pingsan berhari-hari!"
"Tentu saja, orang yang memiliki niatan melukai diri pasti menemukan celah ... meskipun dari sebuah pensil. Tapi untuk sekarang, dia sudah baik-baik saja."
"Bagaimana? Ini tidak masuk akal."
"Tidak masuk di akal kita yang berpikiran normal, tapi tidak untuknya. Apa lagi kepala masih berantakan, kemungkinan terjadi semakin besar. Kau pasti sudah dengarkan Red terkena serangan panik ketika mendapat kabar kita kehilangan dua murid Departemen Eksekusi? Saat itu Fate hanya terluka dan sudah dalam penanganan, tidak begitu parah tapi itu lumayan mengguncangnya. Bagaimana dengan hal ini? Melihat Fate tumbang di depan mata. Otaknya tidak mampu memproses apa yang terjadi, Kaidan."
"Jadi---"
"Iya, syok berat. Dia menjadi bingung luar biasa dengan masalah yang tertimpa dan tidak tahu bagaimana cara menangani itu. Berakhir kosong. Ketika kosong, maka otak secara refleks akan berusaha membuatnya hidup kembali dengan menyakiti diri sendiri. Hal ini dikarenakan fungsi otak yang berperan dalam memberikan respons rasa sakit itu sama. Sebagai contoh jika kita merasa sakit hati, seluruh badan juga merasakan sakit atau lemas karena keduanya saling memengaruhi. Tapi kalau ini tidak segera ditangani ... dia akan berakhir kecanduan. Biar pun immortal, kita tentu tidak tahu efek samping lain jika dia terus seperti ini bukan?"
"Ada, tentu ada. Crist pasti sudah menemuimu bukan? Hanya itu satu-satunya cara, Kaidan."
"Kamu yakin dengan yang dia derita?"
"Selalu teringat kejadian traumatis bahkan merasa seakan mengulang kejadian tersebut; kecenderungan untuk mengelak; menyendiri dan sulit menjalin hubungan dengan orang lain; perubahan emosi yang tidak stabil; sulit berkonsentrasi ... diagnosis awal, iya. Tapi aku belum bisa memutuskan lebih lanjut tanpa pemeriksaan mendalam. Jika ingin melakukan pemeriksaan, tentu kita butuh izin darinya."
"Mungkin ini yang dia dimaksud tenggelam dalam kegelapan? Kalau iya, dia lumayan ... lemah, dan ini terjadi lagi. Bisa jadi kedepannya dia akan terus begini."
"Itu masalahnya, Kaidan. Hmmm, mungkin ... karena keabadian beserta hidup sendiri tanpa arah dan sering melihat kejadian yang membuat syok, dia berakhir seperti ini. Ya, menurutku kekosongan dalam hidup memperparah keadaan. Pengarahan lebih lanjut bisa membantu."
"Tidak apa-apa kita membicarakan ini di depannya? Red ... duduk dan melihat ke arah sini."
"Aku mengerti kau khawatir. Tapi disayangkan, aku ragu dia memahami pembicaraan ini. Atau menyadari apa yang terjadi. Memang dia sudah sadar, tapi tidak sepenuhnya. Kuyakin dia dalam episode psikotik singkat; tak bisa membendakan mana pikiran dan mana kenyataan, apa lagi sehabis kehilangan darah sebanyak itu. Kita bisa mencoba mengajaknya berbicara, akan sangat bagus kalau dia bisa merespons."
"Caterine, sampai di sini ... boleh aku yang menanganinya? Aku juga akan meminta izin lebih lanjut pada Lucian."
"Sampai kapan kau mau melanjutkan ini, Kaidan?"
"Sekarang dan seterusnya. Dari awal Red merupakan tanggung jawabku."
"Hoya, oya, aku sudah perkirakan kau akan menjawab itu. Tapi ketahui batas dirimu, Kaidan. Aku akan mengutus satu orang terbaikku untuk membantumu, kau juga sibuk seperti kakakmu. Kamu sendiri tahu anakmu ini tidak pernah baik-baik saja dari awal, 'kan?"
"Ya, aku tahu. Maka dari itu aku bangga padanya ...."
Mendadak terasa ada yang menyentuh kepalaku dan itu sukses membuatku terkejut. Sontak aku merasa cemas; ke mana mata menyapu sekitar, semua hanya seperti pecahan kaca yang kabur. Aku takut. Takut. Apa ini? Apa yang terjadi? Detak jantung berpacu; napas terasa sesak; pusing bagai dihantam sesuatu sampai perut seperti dijerat kuat.
"... Karena telah bertahan sampai sejauh ini."
Namun, berangsur pucuk kepala terasa dibelai lembut seakan takut melukai walau sekadar menekan.
"Red, apa kamu mau menerima Bapak?"
Perlahan terasa pernapasan berangsur baik, mata turut mencoba memfokuskan ke mana aku melihat. Di depan, ada wajah yang begitu kukenali. Sedikit membingungkan tetapi ... tenang, dan ekspresi itu begitu teduh.
"Fate masih hidup. Sekarang ia dalam perawatan. Jika kamu sudah membaik ... mau menjenguknya bersama?"
Huh?
Seketika kepalaku menunduk karena terasa ada tangan yang menjulur di sana. Tangan besar. Terlihat kukuh. Tunggu, Profesor Kaidan? Profesor Kaidan ... aku ingin menyebut namanya tetapi tak mampu. Sungguh lemas, berakhir hanya membungkam mulut bergetar ini rapat-rapat.
Satu sisi, suara samar nan mencekam memenuhi kepala. Seolah-olah berbisik bahwa aku akan kehilangan genggaman itu jika tidak meraihnya, sekarang. Mengetahui ini, sontak sesuatu seperti menyayat isi dalam rusuk.
Tidak mau. Tidak terima. Tidak mau.
Dan tangan kanan terasa dikepal hingga hangat menjalar pada jemari pucatku. Ternyata, aku sudah memegangnya dan beliau semakin menggenggam tanganku. Seketika perasaan lega muncul. Berakhir mendapat suatu rangkulan nan lembut dari beliau.
Ini sungguh nyaman, sampai hatiku bergetar kecil.
"Profesor ... Kaidan."
"Iya, Red, ini Bapak."
Dan elusan di punggung begitu menenangkan bagai mengusir seluruh jerat dingin yang melilit diri. Seketika aku ... Ayah, aku takut---ah, lagi-lagi aku menangis.