
Bram,ikut menikmati semilir angin dan pemandangan yang dia akui sangat indah berbeda dengan tempat-tempat lainnya.Entah darimana tuannya ini mendapatkan ide yang brilian,tapi desain tanaman ini seperti pernah dia lihat.
Terus mengoceh yang pada akhirnya tak di dengarkan,terus bertanya tanpa ada jawaban dan terus memancing tapi tak mendapatkan respon.Lelah sendiri,pada usaha nya yang tak di hargai.
Memilih ikut menikmati bersama dengan tuannya yang mungkin merasa di permalukan dan patah hati lagi,enyah frustasi yang dia rasakan atas usahanya yang belum kunjung juga menemui keberhasilan.
Deon,menoleh kearah Bram.Matanya merem-melek antara menahan kantuk atau memang sudah lelah,dalam hati dia tertawa melihat tingkah Bram yang menahan kantuknya.
"Sudah ngantuk?".Tanya Deon,sembari bangkit berdiri.
Bram,mana mendengarkan Indra pendengarannya mendadak tak berfungsi kala rasa kantuk menyerang dirinya.
Senyum seringai terbit di bibir tebal Deon.Dia dengan segera mengambil kunci mobil yang ada di genggaman Bram.
"Bagaimana?,kau ternyata payah,baru mendapatkan sedikit kesegaran saja sudah membuat mu tumbang".Tepat Deon, menyelesaikan ucapannya,tubuh Bram ambruk ke atas kursi,tertidur di buai angin segar.
Tanpa mau membangunkan Bram,Deon beranjak pergi.Pikiran dan hatinya sudah bisa di ajak kompromi,sesi pengenalan harus kembali tertunda dan saatnya dia kembali ke stelan pabriknya.Pergi ke bar.
Deon, melangkahkan kaki pergi dari restonya dengan meninggalkan supir merangkap asisten pribadinya,tak peduli mungkin nanti sang supir akan mengoceh panjang lebar bak emak-emak mengomeli anaknya yang pergi bermain tak tau aturan dan waktu.
Tak sedikit kaum hawa bsok karyawan maupun pelanggan nya yang sampai meneteskan air liur nya,ada juga yang sampai membelalakkan matanya melihat keindahan di hadapan mereka yang jarang mereka temui.
Deon,sudah seperti artis papan atas saja dimana setiap langkah kakinya seperti menghipnotis orang-orang di sekitarnya, wajahnya yang tampan membuat orang salah tingkah dan kharisma yang terpancar membuat orang menghentikan kegiatannya sebentar.Dia tak ubahnya magnet pengikat.
Satu yang tak terpengaruh oleh ketampanan dan kharisma nya,tak lain dan tak bukan adalah Renata Kusuma.Dia malah dengan cueknya,lewat di hadapan Deon tanpa berbicara sedikitpun.
Begitu pun dengan Deon,dia juga sama cueknya dengan Renata bahkan pundak mereka saling bertabrakan dengan tatapan lurus ke depan pun,tak membuat mereka saling bertegur sapa.
Lebih memilih diam, mengikuti alur aliran air tak terhenti meski banyak halang rintang di hadapannya.Tak menggoyahkan kepribadian Deon, ibaratnya Renata jual,dia beli.
Renata,menoleh berbarengan dengan Deon yang ikut menoleh.Tapi, tatapan mereka hanya sekilas dan sebentar yang pada akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka yang bertolak belakang.
Deon dengan tujuan bar dan Renata melanjutkan pekerjaannya.Dua insan yang berbeda,saling diam dan cuek terhadap satu sama lain.
"Akan aku ikuti permainan mu,Renata".Gumam Deon, melangkah semakin menjauh dari restonya sendiri menuju tempat tujuannya.Jauh dari wanita yang sejak 3 tahun membuatnya kalang kabut,sekarang pun masih sama.Sama-sama di buat gila dan frustasi.
Deon,menginjak pedal gas mobil melesat begitu kencangnya,sekencang hembusan angin.Tak peduli bahaya mengintai,tak peduli nyawa jadi taruhannya,yang pasti tujuannya pasti.Pergi menjauh.