
Pria itu membanting segala perabotan ke sembarang arah.Melampiaskan segala emosinya yang memuncak kala bertemu langsung dengan rania.
Entah kenapa,dia selalu emosi bila berhadapan langsung apalagi menatap langsung wajah polos rania sebab wajahnya hampir mirip dengan wajah renata.
Dia yang tadinya ingin menaklukkan hati wanitanya,berubah pikiran dan rasa yang ada sudah tak sama lagi.Renata, wanitanya.
Yah, wanitanya.Deon lah selama ini yang menjadi dalang di balik menghilang nya Rania dan bahkan tak ada kabar sedikitpun.Membuat Renata khawatir karena nya.
Deon,punya alasan khusus di balik penculikan Rania.Tepatnya,dia sengaja menyembunyikan rania, berharap hati renata luluh akan kesombongan yang berusaha dia pertahankan lewat sikap diamnya.
"Arghhhh"Deon,berteriak frustasi.Segala upaya nya di rasa tak membuahkan hasil.Belum lagi, hatinya masih tersimpan rasa untuk wanita yang dulu pernah menguasai tahta tertinggi hatinya.
Deon,yang tadi meninggalkan Rania setelah dirinya memberikan ucapan salam di pipi kiri Rania, dirinya melenggang pergi menuju ruang kerjanya.
Ruang kerja yang kedap suara ini sudah seperti kapal pecah saja dengan barang-barang antik kesayangan mommy danita pecah disana-sini,mengotori ruangan Deon yang selalu di jaga akan kebersihannya.
"Wanita memang racun dunia".Teriak Deon,sembari memukul-mukul kepalanya merutuki mahkluk lemah.Namun,bertenaga dan mampu menghancurkan hati seorang preman sekalipun.
Deon,mengatur napasnya yang tersengal akibat tak kuasa menahan emosinya.Dirinya memang terlalu lemah dalam urusan wanita.Dulu saja dirinya tak memperjuangkan cintanya hingga cintanya memilih pergi dan menerima pinangan dari orang lain.
Deon,berjalan menghampiri kulkas 4 pintunya untuk mengambil air dingin, berharap bisa meredakan emosi nya yang tiba-tiba memuncak di tengah malam dengan angin yang terus berhembus menambah suasana dingin.Tapi,tidak untuk diri Deon.
Gleg...Gleg...Gleg...
Deon, menghabiskan sebotol air mineral dengan sekali tegukan hingga airnya lumer membasahi kemeja kerjanya.
Dia, lemparkan bekas botol air mineral ke sembarang arah,tak peduli itu bisa mengotori raung kerjanya.Toh,dia punya banyak asisten rumah tangga yang sedia setiap saat kapanpun dia mau tanpa harus bersusah payah dirinya membersihkan sampahnya.
Cintanya yang tak kunjung dia dapatkan dan cinta di masa lalunya terlintas begitu saja dalam pikiran dan hatinya.Dia tak menampik,cinta untuk Alifa masih lah ada, apinya belum lah padam meski sudah di padamkan oleh air cinta milik Renata.Tapi, ternyata airnya belum lah cukup untuk memadamkan api cinta untuk Alifa, wanita yang dia cintai namun terlambat menyadarinya.
Deon,kembali duduk diatas kursi singasana nya sembari menyilangkan kaki kanan ke kali kirinya.Matanya fokus ke layar laptop dan jari-jemarinya menari-nari diatas keyboard laptop dengan begitu lincah dan lihai memainkan setiap tools laptop.
Deon, nampaknya tengah fokus dengan layar laptopnya,entah apa yang dia cari.Dia sesekali mengerutkan keningnya,sesekali mengusap dagunya dengan sebelah tangan.
Brak
Berkas-berkas dan beberapa barang yang ada di atas meja jatuh berantakan ke bawah lantai.Deon,deon lah pelakunya.Diq bagai di rasuki mahkluk tak kasat mata,mengamuk dan menjatuhkan barang yang ada di dekatnya.
"Shittt".Umpat Deon,sembari melotot tajam."Gadis tengil,brengsek bisa-bisanya kau lari dari ku".Gertak Deon.