
Harapan dan do'a Rania sebenarnya tak terkabul untuk yang satu ini.Harapan agar tak di ketahui oleh Deon ternyata tak terwujud,dimana Deon hampir menangkap kembali dan menjebloskan tubuh ringkih nya pada sangkar besi miliknya.
Sayang,seribu sayang mangsa yang sudah ada di depan matanya harus rela di lepaskan kala panggilan telpon membuyarkan konsentrasi nya dan memaksanya untuk mengurungkan niatnya.
Yah,tentu Deon bisa mengetahui keberadaan rania atas jasa rekaman cctv yang memperlihatkan Rania kabur dengan menumpang mobil pick up arah tambora,mobil pick up yang selalu mengantarkan barang pesanan nya.
Dalam beberapa langkah saja Deon bisa kembali menjebloskan Rania dan ikut dalam permainannya.Tapi, langkahnya terhenti kala panggilan telpon itu terus berdering tanpa henti,tak mau mengalah begitu saja.
Dengan kesal,Deon menerima panggilan telpon di tengah malam dan dari sekretaris perusahaan nya.Mau tak mau dia harus menerima panggilan itu,takut itu adalah masalah perusahaan.
"CK, seandainya bukan dari si seksi Amara tak akan aku terima panggilan telpon sialan ini".Gerutu Deon,mengomel tak jelas
Meski mengomel dan mengoceh tak jelas,tapi dia tetap menerima panggilan telpon itu.Mangsa yang ada di depan mata dia biarkan pergi.Toh,nanti juga dia bisa mendapatkan nya kembali.
[Hello..]
[........]
Deon, yang mendengar informasi dari sekretaris nya langsung bergegas menuju kantornya.Yang di takutkan terjadi juga, sesuatu yang jarang dia dengar tapi sudah tak asing lagi bagi dirinya yang sudah lama malang-melintang di dunia bisnis dengan segala resiko yang ada.
Deon,kembali menunggangi kuda besinya.Si merah yang selalu menemani perjalanannya dalam keadaan darurat meski tadi sempat dia biarkan tergeletak di sembarang tempat.
Perusahaannya yang telah mendapatkan kritik dari beberapa perusahaan lain dan penggiat save world tak mengurungkan niat Deon untuk tetap menjalankan proyek perusahaannya apalagi merubuhkan kembali bangunan yang di taksir milyaran hingga triliunan rupiah ini.
Seperti tisu bekas pakai yang sudah di pakai lalu di buang, seperti itu lah Deon memperlakukan motor ninja nya dengan seenaknya saja, setelah dirinya mendapatkan jasa dari si merah, seenaknya pula dirinya meletakkan si merah di sembarang tempat.
Langkah kakinya yang lebar dan cepat,tak membutuhkan waktu lama dirinya masuk ke ruang meeting dadakan yang kesemuanya sudah di siapkan oleh sekretaris,Amara.
"Pak bos, kesiapan meeting sudah rampung semua,kolega bisnis juga sudah datang sejak setengah jam yang lalu.Tinggql menunggu anda".Lapor Amara,begitu Deon sudah terlihat di dalam bangunan yang super mewah dengan penjagaan yang ketat.
Deon,tak menggubris laporan amara, fokusnya adalah ke ruang meeting yang diadakan dadakan.Itu pun atas panggilan sekretaris nya bukan atas inisiatif dirinya yang seenaknya mengadakan meeting, seenaknya pula membubarkan.
Amara, sekretaris Deon yang menggunakan sepatu high heels setinggi 3, meter ini kesusahan menyeimbangkan langkah kaki Deon yang lebar dan cepat.
"Gak kasihan apa dia sama aku?".Keluh Amara,yang berusaha mengejar langkah kaki Deon.
Tentunya Deon tak peduli dengan sekretaris nya apalagi cara jalannya yang lambat kayak siput, seperti model yang berlenggak-lenggok di catwalk begitu anggun nya.
Deon,menoleh ke belakang.Ternyata Amara cukup jauh tertinggal."Hah.."Deon tersenyum smirk."Itu akibatnya kamu berjalan tak tau situasi dan kondisi".Gumam Deon,kembali melanjutkan langkahnya.Tak peduli dengan Amara yang harus berjuang menyeimbangkan langkah kaki Deon.