My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 147



Kokok ayam begitu terdengar nyaring,sinar mentari pun mulai menerobos masuk melalui celah-celah lubang kecil dan jendela yang terbuka tanpa gorden.


Sayup-sayup Renata,mulai membuka matanya.Masih terasa pusing dan asing baginya, sekuat tenaga dia mengumpulkan nyawanya yang terbang ke antah berantah saat dirinya terlelap tidur dalam pelukan seseorang yang dia rindukan.


"Dimana aku?".Tanya Renata,sembari bangkit berdiri.Dia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan dan alangkah kagetnya nya dia saat dia menyadari bahwa dirinya sudah berada di atas kasurnya.


Renata, memijat-mijat pelipisnya.Dia yang baru tersadar dari tidurnya,tetiba di dapati dirinya sudah berada diatas kasurnya tentu itu menambah rasa pusing di kepalanya.


Berbagai kejadian demi kejadian melintas dalam pikirannya.Di mulai dari dirinya yang tengah menantikan kehadiran Rania di tengah kondisi matanya yang kabur karena berusaha menahan kantuk yang mulai menyerang matanya, tiba-tiba dia melihat bayangan sosok mirip Rania, terlihat jelas dan nyata.


Saat dia hendak menyentuh lengannya, ternyata pertahanan nya runtuh.Tak kuat menahan rasa kantuk dan lelah yang mulai menyerang tubuhnya.


"Renata".Teriak itu, seakan nyata dan jelas di telinga nya yang mulai tuli dan tak bisa lagi mendengar apapun dan matanya mulai tertutup sempurna.


Rania,suara teriakan itu sangat mirip dengan suara teriakan Rania yang mencemaskan keadaan nya.Entah itu hanya karena dia terlalu merindukan Rania atau memang nyata.


Harum dari rempah-rempah khas masakan Indonesia ini seakan tercium di Indra penciumannya di kala pikiran nya berusaha mengingat kembali kejadian semalam,begitu harum hingga membuat perut Renata keroncongan.


Krucut...Krucut...


Cacing-cacing di perut Renata begitu terdengar nyaring nya di saat harum rempah-rempah dan itu menyerbak keseluruh ruangan dengan sekat pembatas yang tipis.


Tanpa sadar,Renata mengikuti aroma yang membuat cacing-cacing di perutnya meronta-ronta minta di isi barang satu,dua suapan.


"Makan...Makan...Makan".Cacing di perut Renata,sudah melakukan atraksi demo nya,meminta sang empu memberikan asupan nutrisi untuk mereka.


Tentu,Renata tak bisa berdiam diri saja membiarkan perutnya mendapatkan gejolak perang dari cacing-cacing nya yang terus meronta-ronta minta di isi barang satu,dua suapan.


"CK,siapa sih ini yang masak pagi buta gini?".Omel Renata,tanpa sadar langkah kakinya terus maju kearah dapur.


Rasa lapar dan penasaran telah menjadi satu kesatuan,tekad yang pasti untuk menemukan orang yang akan di mintai pertanggungjawaban nya atas cacing-cacing di perut Renata yang terus melakukan aksi demo.


Selangkah demi selangkah dia menapaki lantai tanpa keramik menyusuri ruang dapur yang menjadi sumber segala sumber rasa laparnya terbit.


Dapat,dia lihat ada sesosok perempuan yang memakai kaos oblong berwarna putih,celana pendek,rambut di sanggul dan tangannya cekatan mengaduk-aduk nasi dalam kuali kecil,begitu lihainya seperti sudah terbiasa.


Langkah kaki Renata terhenti begitu pikirannya kembali normal, seingatnya tak ada orang lain selain dirinya.Rasa takut yang berlebihan tanpa sadar Renata memegang sapu untuk berjaga-jaga dari kemungkinan yang tidak di inginkan.


Renata,sudah siap dengan sapu ijuk di tangan kanannya, bersiap jika wanita yang ada di hadapannya adalah seorang maling, bertepatan dengan langkah terakhirnya.Orang itu berbalik badan,dan tangan Renata sudah terangkat memegang sapu ijuk.Dan...


Deg


Renata,dia mematung.Sapu ijuk yang sedari tadi di pegang nya jatuh ke bawah tanpa sadar.Renata,tak mempercayai apa yang dia lihat.Lihatlah Rania berada tepat di hadapannya tengah tersenyum dengan manisnya, alih-alih dia marah terhadap Renata yang memegang sapu ijuk di tangan nya.


"Selamat pagi,kakak ku sayang".