
Alek menggeleng-gelengkan kepala."Fahri Fahri,apa bedanya kamu dengan renata?,dia pelakor sedang kamu pebinor".Kata Alek,sembari menatap siluet tubuh renata.
Seperti kata Fahri,Alek seperti sudah terkena hipnotis renata, terkena mantra cinta nya dengan sikapnya yang pendiam,cuek, sederhana dan cantik belum lagi attitude nya yang baik itu menjadikan dia terus merasa jatuh cinta pada sosok renata yang penuh misteri.
"Sebelum janur kuning melengkung,sebelum berita itu benar.Tak akan hati ini berpaling dari mu,Renata".
"Sebelum janur kuning melengkung,mau masih bisa mendapatkan nya".Celetuk Fahri.
Alek, menoleh."Dasar hama".Sindir Alek.
"Dasar Playboy cap kapak yang sebentar lagi pensiun demi seorang pelakor ".
"Dan kamu, pebinor nya".
Kedua rekan kerja renata yang pro dan kontra,antara hatter dan fans saling beradu argument.Antara membela dan membenci,kedua kubu tak mau mengalah,tetap ngotot mempertahankan argumennya.
"Ehem". Ketegangan diantara keduanya harus terhenti."Mau sampai kapan kalian terus berdiam diri?".Sentak pak budi.
Alek dan Fahri, kedua langsung kembali ke tempat semula.Berdebat pun tak mungkin,kalau pun iya pekerjaan nya menjadi taruhannya.
Pak Budi bergeleng-geleng kepala dengan kelakuan kedua karyawan nya,dia juga tau tentang perasaan Alek untuk Renata begitu pun dengan Fahri,dia tau betul latar belakang dan kehidupan kedua laki-laki yang saling bertolak belakang tentang renata.
Dia juga tau,Renata bukanlah seorang pelakor seperti yang di tuduhkan padanya, sebab nya dia tak terlalu mengambil pusing tentang berita yang tak benar.
"Cobaan macam apalagi yang datang silih berganti seperti ingin menggoyakkan jabatan ku".Gerutu pak Budi.
Dia juga tak habis pikir dengan fitnah yang tertuju pada karyawan pendiam nya.Dia bukan bermaksud membela,tapi dia lebih tau dengan kehidupan pribadi karyawan pendiam nya,untuk itu dia belum bisa mengambil keputusan secara sepihak,menunggu kebenaran secara keseluruhan akan terasa tidak adil jika keputusannya di ambil secara sepihak.
"Renata ku sayang,Renata ku malang".Gumam pak Budi,kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sedang Renata,yang sedari tadi mendapatkan tatapan jijik dan juga cemoohan baik dari rekan kerjanya maupun dari pengunjung,sebisa mungkin dia terlihat cuek.Tak menanggapi ucapan mereka yang menghinanya bahkan memfitnah nya,diam akan lebih baik bukan berarti dia kalah,tapi untuk menghindari masalah.
Dia memang diam,tapi tidak dengan pendengaran nya yang tak sengaja mendengar kata cacian dan hinaan yang terlontar untuk dirinya.Sekuat tenaga mengabaikan,akan tetapi hatinya terlanjur sakit.
"Sabar,Renata".Ucap Renata,mengelus dadanya yang terasa sesak.
"Pelakor,masih kerja disini.Gak tau malu".
"Mungkin urat malunya sudah putus kali".
Kata-kata pedas penuh hinaan terucap dari bibir pelanggan yang tidak tau menahu tentang akar permasalahan nya, sekuat itu pula dia berusaha menahan lelehan air mata yang sudah menganak di pelupuk matanya.
Puncaknya saat tatapan sinis di sertai dengan kata hinaan terlontar padanya,menambah luka di hatinya apalagi itu menyangkut dengan orang tua nya.
"Orang tuanya pasti malu punya anak gadis pelakor seperti dia".
Deg
Hati anak mana yang tidak merasa sakit saat permasalahan nya di kaitkan dengan orang tuanya.Orang tua yang sejatinya tidak tau menahu tentang hidup nya,apalagi mereka tidak ada di dunia ini.