
Menepis segala keraguan Rania,dan mendapatkan sebuah Lou hijau dari sang adik setelah perjuangan panjangnya meyakinkan sang adik akan perasaannya dan semua resiko yang mungkin akan terjadi.Renata, akhirnya bisa bernapas lega dan bisa melanjutkan aktivitas seperti sedia kala.
Tak lagi sendiri,menyusuri jalanan yang padat penduduk.Renata siap sedia melanjutkan aktivitasnya, pekerjaannya yang dulu sudah dia lakoni untuk menyambung kehidupan nya.
Renata,mengandeng tangan Rania sembari menebar senyum sumringah,tak lagi menekuk wajahnya apalagi bermuram durja seperti dulu-dulu.
Kebahagiaan jelas terpancar di wajah cantiknya, hatinya berbunga-bunga merasakan jatuh cinta lagi walau pada pria yang sudah merusak hidupnya dan juga menculik adiknya sebagai alibi untuk mendapatkan cintanya.
Rania,yang melihat kebahagiaan yang terpancar jelas dari wajah renata pun sampai tak tega bila seandainya dia merusak kembali kebahagiaan sang kakak.
Bertahun-tahun lamanya,senyum sumringah itu hampir tak pernah terlihat di wajah Renata yang berselimut duka dan beribu masalah tiada kesudahan.
"Ayo,Ra kita harus jalan cepat nanti kamu atau aku kesiangan!".Seru Renata,memaksa Rania berjalan cepat.
'Aku atau kamu kak?,secinta itu kah kakak terhadapnya hingga tak sabaran rasanya ingin cepat-cepat sampai ke resto dan bertemu dengan dia'.Ucap batin Rania,tak habis pikir dengan tingkah laku Renata yang seperti anak kecil tak sabaran.
Tangan Rania yang berada di genggaman Renata,memaksa Rania berjalan cepat tak bisa mengelak apalagi melarikan diri padahal dia memakai rok span selutut agak susah baginya berjalan cepat menyeimbangi langkah kaki renata.
Penderitaan Rania, akhirnya menemui jalan akhir dimana dia dan sang kakak harus berpisah di persimpangan jalan karena arah tujuan mereka yang berbeda.
Dengan berat hati,Renata melepaskan genggaman tangan nya.Menatap sang adik untuk sekilas.
Rania, mengepalkan tangan ke udara menyemangati Renata yang mungkin akan mengungkap perasaan nya pada pria yang di cintainya.
Renata,balas melambaikan tangan nya."Hati-hati dek".Teriak Renata,di angguki kepala oleh Rania.
Resmi sudah Renata harus berjuang sendiri,sedari tadi hatinya bertalu-talu tak karuan.Sekian lama tak merasakan jatuh cinta,sekian lama tak merasakan kebahagiaan.Kini, kebahagiaan itu mulai terlihat ada dan senyuman tak lepas dari bibir renata.
Tak sedikit orang lewat menatap heran pada renata yang menebarkan senyuman bahagianya,tapi tak sedikit pula yang memaklumi.
Langkah kaki Renata, sengaja di cepatkan tak sabar rasanya ingin segera sampai, mengungkapkan semua perasaan nya dan berharap semua sesuai dengan ekspektasi nya.
30 menit,waktu yang terasa begitu lama tak seperti biasanya yang menurutnya terasa lebih cepat.Berbeda, dengan kali ini.Renata,mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum dia membuka pintu masuk,siap melangkah dan bertemu dengan orang nya langsung.
"Bismillah".Tak lupa Renata mengucapkan kata ' Basmallah' agar semua berjalan dengan harapan nya.
"Renata"
Baru juga Renata hendak melangkah,suara teriakan yang keras dan menggema itu mengurungkan langkah kaki Renata yang hendak masuk ke dalam.
Renata,menoleh kearah sumber suara."Ah,si kutu kupret lagi".Gerutu Renata,merasa terganggu dengan teriakan Alek yang memanggil dengan cukup keras dan lantang.
"Re,tunggu aku".Pinta Alek,sembari melangkah mendekati Renata di ambang pintu.