
Di balik kemudi,Deon tak henti-hentinya tertawa saat dia melihat ekspresi kesal Rania di balik kaca spion,gadis yang menurutnya bar-bar yang dulu pernah menyebabkan dia terjatuh atas kecerobohan nya sendiri,dan gadis yang telah memberikan harapan palsu sekarang terlihat kesal dan marah.
"Aku sudah pernah bilang,Rania.Jangan pernah bermain-main dengan ku,kalau kau tak ingin menanggung resikonya". Katanya tegas.
Dia yang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi,tentu tak perlu membutuhkan waktu lama untuk sampai ke cabang restonya yang kepemilikannya sudah sepenuhnya berada di tangan nya dan pengelolaan nya,dia sendiri yang turun tangan.Tak lagi mengandalkan Budi Kusuma Atmaja.
Semalam,dia memang tak memberikan ampun bagi Budi atas tindakannya sendiri,dia tak perlu belas kasihan apalagi pengampunan yang dia pikirkan adalah balas dendam.
Yah,balas dendam terhadap tingkah laku Budi bukan pada Renata sebab pantang bagi dia untuk membalaskan perbuatan Renata,hanya mungkin akan memberikan sedikit gertakan agar Renata sadar.
Sekitar 15 menit dia sudah sampai ke resto nya sendiri, memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus pimpinan,bekas Budi dulu memarkirkan mobilnya.
Karyawan resto yang sudah datang menatap mobil yang terparkir, menatapnya tanpa berkedip dan mulut menganga melihat mobil mewah nan fantastis terparkir rapih.
Seingat mereka, managernya tak pernah membawa mobil mewah ke tempat kerja walau mereka tau pak Budi memiliki bahkan mengoleksi mobil mewah dan berharga fantastis.
Keterkejutan mereka tak sampai disana,saat si pengemudi mobil mewah itu turun dari mobilnya.Karyawan yang sedari tadi melongo,melihat mobil mewah terparkir,kini terpana oleh pemilik mobil yang rupawan,berkharisma, tubuhnya tegap, memakai baju formal nan mahal,satu yang pasti dia memiliki paras tampan bak dewa Zeus.
"Tampannya".Tanpa sadar,mulut mereka berucap bahkan menganga lebih lebar.
Deon,tak terusik oleh tatapan penuh damba dari mereka,satu yang membuatnya risih adalah karyawan laki-laki nya juga ikut membelalakkan mata dan mulut yang menganga lebar.
Dia palingkan mukanya ke sembarang arah,tak ingin pikiran nya terkontaminasi oleh pikiran negatif demi menjaga wibawanya di hadapan karyawan nya sendiri.
Pria yang di maksud, menganggukkan kepala tanpa bersuara.Madih terpana akan ketampanan wajah Deon dengan pahatan sempurna dari Maha sempurna.
"Good".Deon, mengacungkan jari jempolnya.
Semakin dia masuk ke dalam,semakin banyak karyawan yang terpana akan wajah sempurna tanpa celah bola di lihat dari kaca mata orang awam,tapi mungkin tidak untuk Renata sendiri yang masih punya 15 menit untuk sampai ke tempat kerjanya.
Yah,tertinggal 15 menit dari si tuan kuasa dengan segala kekuasaan nya,jelas berbeda dan tak bisa di tandingi oleh nya yang hanya mengandalkan kekuatan kakinya.
Walau begitu Renata,tak pernah mengeluh.Dia sudah terbiasa,memaksa kakinya untuk terus melaju di tengah lelahnya kehidupan tapi tak selelah beban dan tanggung jawabnya.
Sesantai dan sesimpel itu hidup nya,bila ada yang bertanya yah jawab,tidak pun yah diam.Bila ada uang,bisa buat sekolah Rania,kalau tidak,yah sabar.
15 menit berlalu, perjalanan dan perjuangan Renata untuk sampai ke resto nya akhirnya berakhir juga walau lelah dan peluh keringat membasahi tubuhnya.
"Hah,capek ya Allah".Keluh Renata, diakhiri hembusan napas yang terbuang sia-sia.
"Renata,di panggil ke ruang manager".Teriak seorang pria.
Renata,melongo.Baru juga dia sampai sudah harus ke ruang manager, seingatnya sang paman tak pernah meminta ke ruangannya di pagi buta ini,apalagi dia baru sampai.
"Ada apa ini?".Mendadak perasaan Renata tak enak.Tapi,dia berusaha menepis pemikirannya sendiri.