My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 146



Deon yang tengah terburu-buru untuk mengadakan meeting dadakan tanpa persiapan apalagi di berikan briefing terlebih dahulu dengan pengikut setianya yang tak lain dan tak bukan dia merupakan sekretaris perusahaan.Lain hal dengan renata,yang sampai tengah malam ini dia belum kunjung menutup matanya.


Kejadian beberapa malam yang lalu belum lagi perasaan rindu nya pada sang adik membuat renata tak kunjung menutup matanya.Pikirannya terus mengarah pada sang adik.


Malam ini, seperti malam-malam yang lalu dia selalu menatap cahaya bintang yang berkedip seakan memperolok dirinya, berharap sang bintang mau menyampaikan pesan rindunya pada sang adik.


Sudah beberapa jam yang lalu,dia asyik menatap bintang tak pernah jemu apalagi bosan.Selagi masih ada harapan,tak pernah sedikitpun dia menyerah pada keadaan berharap alam semesta mampu mengembalikan jiwa Rania ke dalam pelukannya,bisa berkumpul kembali seperti hari-hari yang lalu dan berbagi kasih serta sayang layaknya sebuah keluarga utuh.


Renata,tak pernah berputus asa.Di setiap sujud nya selalu berdoa,di setiap malamnya dia tak pernah lepas dari harapan termasuk malam ini.Setelah dia melaksanakan sholat tahajud,dia tak lupa berdoa dan yang menjadi favoritnya adalah menatap cahaya bintang.


"Bintang,tolong sampaikan rindu ku padanya".Ucap renata.


Walau angin berhembus sangat kencang dan mendinginkan tubuh manusia di tengah malam buta,semakin nyenyak tidur di buai mimpi indah,tak sedikit yang menarik selimutnya kembali.Tapi,Renata mampu melawan hembusan angin yang kencang menyapa tubuh mungilnya.


Matanya tak mau diajak kompromi, tubuhnya pun sama saja tak mau beristirahat barang sejenak setelah beraktivitas seharian.Pikirannya terlampau rindu pada sang adik yang sampai sekarang belum kembali dalam pelukannya.


Secangkir kopi instan menemani malam panjangnya, sebagai penghangat tubuh yang tak dapat dia pungkiri memang hawanya dingin dan siap menyerang tubuhnya bila tak siap.


Renata,duduk di beranda rumah sewa yang hanya terdapat satu kursi plastik itu pun dia bawa dari dalam kamarnya.Sesekali Renata menyesap kopi instan nya, sesekali pula dia menatap jalanan.Berharap Rania pulang malam ini.


Dia kucek matanya, berharap dia mampu bertahan barang 1,2 menit saja.Mencoba kembali untuk tetap bertahan di sana.


"Jangan tidur dulu,mata.Aku masih ingin melihat kepulangan adik ku.Please".Kata Renata,sembari merem-melek.


Di saat itu pula bayang-bayang tubuh rania seakan menghampiri dirinya yang tengah terduduk dengan kondisi mata sayu,akibat terlalu sering begadang dan sekarang matanya kembali di paksa untuk terus terbuka.


"R-Ra-Nia".Saking terkejutnya,Renata sampai terbata-bata menyebutkan nama adiknya yang seperti mimpi baginya.


Sesosok bayangan mirip Rania itu perlahan tersenyum begitu manisnya, berjongkok lalu menyentuh tangan renata."Iya kak ini aku,bukan hantu yang seperti kemarin kamu pikirkan,bukan pula orang jahil.Aku adalah adik mu,Rania Kusuma".Jelas Rania,secara perlahan.


Mata yang tak bisa di paksakan, pendengaran yang mulai tuli dan pandangannya yang kabur.Jelas Renata,tak mampu mencerna penjelasan Rania.


Bugh


Tubuh renata perlahan jatuh ke bawah, akibat tak kuasa menahan rasa kantuknya yang sedari tadi di tahan nya akibat terlalu memikirkan Rania.


"Renata".Teriak Rania,histeris