
Tak hanya Deon,yang kembali mendapatkan semangat untuk menjalani hari-harinya yang dulu sempat tak di rasakan nya.Tapi,juga Renata yang sudah tau akar permasalahannya dan juga bisa mengendalikan perasaan aneh yang menjalar dalam hatinya.
Di temani sang adik yang kembali bisa beraktivitas seperti dulu,tak bermuram durja apalagi mengurung diri di kamar,Renata siap memulai hari dengan semangat baru.Percikan-percikan api cinta yang menyala dan tumbuh subur di hatinya telah menjadi amunisinya dalam menjalani hari.
Sampai-sampai Rania pun di buat terkejut dengan perubahan sikap dari renata.Dia yang biasanya tak sesemangat ini,menjadi semangat lebih mengebut lagi dari hati kemarin-kemarin.
Lihatlah Renata,di saat sarapan saja dia senyum-senyum sendiri seperti orang yang sedang di mabuk asmara.
"Kenapa nih orang,kayak orang yang kerasukan"Gumam Rania,yang tak mengerti dengan sikap Renata.
Yang di bicarakan mana mendengarkan dia terlanjur menutup mata dan telinganya, omongan orang seperti angin lalu baginya,tak di dengar oleh seorang Renata yang tengah di mabuk asmara.
Rania, sendiri memilih untuk melanjutkan sarapan nya di bandingkan dengan terus memperhatikan tingkah laku kakaknya yang seperti orang tak waras.
"Rania".Kata Renata,sembari mesam-mesem.
"Yah".Sahut Rania, tanpa menoleh
"Menurut mu,apa jatuh cinta itu wajar?"
Deg
Rania mendongakkan kepalanya menatap Renata,yang tiba-tiba bertanya urusan cinta padahal dia tau sang kakak seolah membentengi diri sendiri dengan namanya jatuh cinta agar dia tak merasakan sakit hati dan jatuh ke dalam lubang yang sama.
"Kenapa,kakak bertanya seperti itu?,apa kakak jatuh cinta pada seseorang?".Tanya Rania,penuh dengan selidik.Dia yang sempat fokus ke nadi goreng di piring nya, tiba-tiba menatap lurus kearah Renata.
Bertanya kepada Rania,sama saja menjerumuskan diri sendiri sang adik hapal betul dengan tabiatnya.Renata seperti menjilat ludahnya sendiri,bilang tidak akan jatuh cinta pada siapapun tapi hari ini,dia malah bertanya seolah dia sedang jatuh cinta.
Belum mendapatkan jawaban dan alasan yang pasti,Renata kembali menyendok nasi goreng dan menyuapkan nya ke dalam mulutnya hingga dia punya waktu untuk menjawab pertanyaan adiknya.
Rania,tersenyum hapal betul dengan tabiat sang kakak.Bila,dia di Landa gugup dan bimbang tentu dia akan mengulur-ulur waktu dalam mencari jawaban yang pasti.
"Jatuh cinta wajar kak,yang gak wajar itu jatuh cinta pada sesama jenis".
Pletak
Rania, mendapatkan sebuah hadiah berupa toyoran di kepalanya dan pelakunya adalah Renata sendiri.Dia seenaknya menoyor kepala adiknya sendiri.
"Jaga,bicara kamu dek".Hardik Renata,tak terima dirinya di tuduh yang tidak-tidak.
Rania,mengelus kepalanya yang terasa sakit akibat mendapatkan sebuah hantaman di kepalanya.
"Lah emang bener kan,kakak selama ini tak pernah terlihat jatuh cinta apalagi sampai jalan berduaan dengan laki-laki".Sahut Rania,membela diri sendiri.
Benar,kata rania selama ini dia tak pernah terlihat seantusias ini bila membicarakan masalah cinta apalagi jalan berdua dengan laki-laki,pantas lah sang adik bicara seperti itu.Mungkin aneh baginya.
Renata,beranjak dari duduk nya menghampiri Rania yang masih mengelus puncak kepalanya mungkin masih merasa sakit,dia duduk di samping Rania dan memeluk rania dari arah samping.
"Maafkan kakak dek".Kata Renata,memeluk sang adik penuh sayang.