
Rania yang tengah di sibukkan dengan pekerjaannya,sedari tadi dirinya selalu hilir-mudik mengantarkan dan membawa nampan berisi beberapa gelas atau bahkan botol wine kepada pengunjung bar yang melampiaskan emosi dan masalah ke dalam minuman beralkohol.
Sudah sedari tadi juga kakinya terasa pegal akibat terlalu banyak gerak sedang dirinya memakai high heels dengan tinggi,3cm.
Orang suruhan Mike juga masih setia menguntit pergerakan Rania,berharap bisa menemukan kesalahan dari diri Rania.Berhasil,dia telah menemukan kesalahan Rania.Dia manfaatkan kelelahan Rania dalam membujuknya.
Yah,Rania tengah duduk selonjoran sembari memijat-mijat kakinya yang terasa pegal,beruntung bar terlihat sepi bila sore hari seperti ini dan hal ini pula yang di manfaatkan oleh Rania untuk bersantai sebentar sebelum dirinya pasti akan kembali di sibukkan oleh para tamu yang semakin malam,semakin ramai.
Ada yang sekedar berjoged ria,melepas beban pikirannya.Ada pula yang menegak beberapa gelas bahkan botol wine di temani oleh pemandu lagu dan beberapa kegiatan lainnya yang menurut Rania sendiri terasa jijik dan mengerikan.
Kalaupun mengikuti kata hati sudah sedari awal dia menolaknya,tapi lagi tuntutan ekonomi memaksanya untuk menghalalkan segala cara apapun resikonya.
"Permisi,mbak".Pria itu berusaha melancarkan aksinya.
Rania,menoleh."Yah mas".Sahut Rania, sembari menurunkan kakinya di sandaran kursi pojok.
"Lagi istirahat yah mbak?".
"Yah".
Pria itu menyodorkan minuman kemasan yang sebelumnya dia sudah berikan obat tidur."Mbak pasti lelah,ambillah".Kata si pria yang mengerti raut wajah penuh tanya dari Rania.
Rania memang ragu-ragu mengambil air kemasan yang di berikan oleh pria tak di kenalnya,takut dan waspada jelas harus dia lakukan mengingat tempat kerjanya merupakan sebuah bar ternama.
"Ambil".Pria itu masih memaksa agar Rania mengambil air mineral pemberiannya.
Rania hanya menatap air mineral yang di sodorkan oleh pria misterius nan tak di kenalnya.Ragu,sudah pasti apalagi curiga atas pemberian air mineral yang di sodorkan yang tak kenal lelah dan oleh pria misterius itu.
Perlahan tapi pasti,Rania akhirnya mengambil air mineral yang di sodorkan pria misterius itu.Pertahanannya goyah juga dengan bujukan dan rayuan dari pria tak di kenalnya.
Rania,mengambil minuman yang di sodorkan oleh pria asing,membuka botol kemasan yang sudah tidak tersegel tanpa menaruh curiga dia menegak minuman itu dengan sekali tegak.Di akuinya dia memang kehausan dan membutuhkan air mineral yang susah dia dapatkan.
"Terimakasih".Kata rania, menyimpan kembali botol air mineral yang seperempat nya dia habiskan untuk membasahi kerongkongannya yang terasa panas.
"1..2".Pria itu mulai menghitung waktu obat tidur beraksi mulai merambat dalam tubuh gadis belia yang ada di sampingnya.
"3".
Tepat di hitungan yang terakhir,tubuh rania jatuh bruk ke bawah beruntung tangan pria itu sigap menangkap tubuh munggil nan putih terbalut pakaian minim.
Pria itu menidurkan tubuh rania diatas kursi,menunggu perintah selanjutnya yang akan di berikan oleh tuannya dengan bayaran yang menggiurkan dan menguntungkan dirinya.
"Hello..Target sudah berhasil di lumpuhkan,sekarang bagaimana?".Pria itu terlihat berkomunikasi dengan tuannya dan menganggukkan kepala begitu mendengar perintah selanjutnya."Baik,akan ku laksanakan perintah tuan".Pria itu menutup panggilan telepon nya dan menaruhnya kembali di saku celananya.
Tubuh rania di gendong menuju ruangan yang entah itu apa yang pasti pria itu terlihat patuh terhadap perintah tuannya,tak membantah sedikitpun.
Tubuh rania berada dalam gendongan seorang pria berperawakan tegap dan gagah dibawa menuju kamar VVIP.Disana Deon sudah menunggu pria suruhannya.
"Tak sia-sia aku membayar mu mahal".Puji Deon,begitu orang itu sudah ada di hadapannya.
"Terimakasih atas pujiannya,aku memang pantas untuk di andalkan".Sahut pria itu,semakin masuk ke ruangan yang di sediakan oleh Deon.