
Tanpa dia sadari,Rania sudah ada di belakangnya.Memperhatikan Renata yang masih melamun, entah apa yang di pikirkan nya.Seandainya bisa,ingin rasanya Rania mengeluh,bilang bosan terus makan nasi goreng sebagai menu sarapan mereka.
Dia juga manusia biasa yang mudah bosan dan menginginkan sesuatu.Tapi,dia tahan berusaha untuk tidak meminta sesuatu di luar batas kemampuan mereka,apalagi sang kakak sudah kena fitnah.Menjadi wanita paling di benci dan di hujat di medsos.
"Sekuat-kuatnya wanita,dia tetap lemah".
Suara yang begitu lembut,namun jelas terdengar.Membuyarkan lamunan Renata tentang kehidupan masa lalunya yang di warnai oleh kebahagiaan berselimutkan keharmonisan dalam keluarga.
Renata menoleh pada sumber suara yang di kenalnya."Rania".
Rania, duduk di dekat renata.Melayangkan ulasan senyum nya sebagai sapaan selamat' paginya."Jangan banyak melamun kak".Kata Rania,menyentuh lengan renata.
Renata,balas tersenyum."Iya,maaf dek mungkin efek beban masalah".Sahut Renata,tertunduk sedih.
Rania,mengambil gelas berisi air dan menegaknya dalam satu tegakkan.Jawaban dari sang kakak memang ada benarnya.
"Namanya juga hidup kak, masalah pasti ada aja datang silih berganti tanpa tau situasi dan kondisinya.Kuatkan bahu mu,dan maaf untuk beban yang tak sengaja aku berikan untuk mu". Nasehat Rania,di akhiri dengan kata penyesalan.
"Gak papa dek,aku yang harusnya minta maaf untuk semua penderitaan yang tak sengaja aku berikan pada mu". Ulasan senyum getir dia berikan untuk rania,yang sudah mengeluh pada keadaan.
Baik Rania maupun Renata, keduanya saling terdiam tertunduk dalam diamnya.Merenungi nasib dan jalan hidup yang di lalui selama ini,banyak rintangan dan masalah seperti apa yang di katakan oleh rania.
Jalan hidup mereka tak semulus dan semudah orang-orang kebanyakan,menjadi yatim-piatu di usia muda dengan beban hidup yang tak sedikit pula.
Berbeda dengan sang adik,renata mampu mengendalikan pikiran negatifnya.Kembali fokus menata hidup nya kembali.
"Katanya jangan ngelamun,tapi kok kamu sendiri yang ngelamun?".Kata Renata,menyentuh lengan rania.
"Kamu nih,sok menasehati orang tapi kamu nya malah lebih buruk".
"Aku sedang berusaha menutup aib ku".Celetuk renata,sembari mengunyah sesendok nasi goreng.
Renata, bergeleng-geleng kepala.Memang tingkah laku Rania ini seperti pelipur lara,obat segala obat dari segala permasalahan hidup nya.
Dialah yang menjadi alasan dia untuk tetap bertahan hidup,tetap semangat meski lelah jiwa melandanya.Senyumannya menjadi obat penawar luka di hatinya dan kebahagiaan nya adalah kebahagiaan nya juga.
Renata,masih asyik memandang Rania makan dengan lahapnya padahal barusan dia seperti ogah-ogahan menyantap menu sarapan andalan mereka yang hanya berupa nasi goreng saja.
Merasa seperti ada yang memperhatikan,Rania menghentikan kegiatan makan nya."Kenapa kak?". Refleks Rania bertanya dengan mulut penuh makanan.
"Kalau makan jangan sambil mengunyah,dek". Sahut renata sembari mengelap makanan di pipi rania.
"Maaf kak".Kata Rania,menyentuh lengan renata."Jangan hanya melihat ku makan saja,kakak juga lebih membutuhkan asupan energi bola di bandingkan dengan ku".
Renata tersenyum simpul."Iya dek".Sahut Renata, melepaskan tangan nya dari pipi rania.
Renata pada akhirnya ikut bergabung sarapan bersama dengan Rania.Walau nasi gorengnya tinggal beberapa suapan saja, hampir habis di makan oleh rania.
"Maaf kak,kalau lapar aku suka lupa diri".Kata Rania,menunduk penuh penyesalan.
"Aku tau, bahkan lebih tau dari mu".