
Tawa di sertai dengan sindiran begitu terdengar membahana,di ruangan tengah resto yang lumayan banyak orang.Bukan masalah menertawakan apalagi menyindir dirinya akan tetapi semua itu berawal dari diri Deon.
Yah,dari dialah semua bermula.Ksmbing hitam yang memperkeruh suasana, ibaratnya dia sedang mengotori dan mencemari air jernih nan bersih.
Renata, mengepalkan tangan kebencian kian dalam tertuju pada diri Deon yang sejak dulu memang menjadi biang permasalahannya.
Renata, perhatikan satu persatu orang yang menertawakan nya,tentu tanpa Alek dan fahri.Kedua predatornya,justru berdiri di samping kanan-kiri nya bak bodyguard yang siap pasang badan kapan pun dan dimana pun bila di perlukan.
Deon menghentikan tawanya dan mengangkat tangannya ke udara, mengisyaratkan agar mereka berhenti tertawa.Lihatlah Renata,dia menatap dirinya dengan tatapan tajam,jelas terlihat ada kilat kemarahan di matanya.
Deon tersenyum smirk,dia melangkah maju menghampiri Renata yang diam mematung."Apa kau menyukainya?".Tanya deon,berbisik di telinga renata.
Renata,menoleh."Maksud kamu?".
Deon,mundur dua langkah menjaga jarak antara dirinya dan juga renata.Pandangan mereka saling beradu,saling melemparkan tatapan tajam mereka seperti mengisyaratkan genderang peperangan diantara mereka akan terjadi secepat mungkin.
Yah,Deon sudah tidak respect lagi pada diri Renata yang menurutnya terlalu sombong dengan sikap pendiam dan cuek nya mengalahkan dinginnya kutub Antartika
"Turunkan pandangan mu,Noel atau Deon?".Gertak. Alek.
"Siapa kau?,dan siapa dia?.Dia bukan ratu dan kau bukan pengawalnya,dia bukan artis dan kau bukan bodyguard nya dan dia bukan presiden kau pun bukan Paspampres".
"Gak sekalian Dewi aja".Celetuk Fahri.
Alek,Deon,dan Renata menoleh kearah Fahri secara bersamaan.Dia memang terkenal sering ceplas-ceplos,tak tau situasi dan kondisi sekali.
"Apa?".Dengan polosnya Fahri malah balik bertanya.
Alek,Deon dan Renata kembali membuang pandangan mereka.Mata bertemu mata,kemarahan bertemu kemarahan dan api bertemu dengan api.Merekq masih setia saling memandang seakan tengah menatap idola mereka.
Pandangan mereka harus terputus karena ada pelayan yang datang ke resto mereka di jam pertama bekerja.Alhasil mereka terpaksa harus membubarkan diri di komandai oleh Deon selaku big boss mereka.
"Semua bubar".Perintahnya.
Renata,juga ikut membubarkan diri.Toh,buat apa juga terus memandangi musuh dalam hidupnya,orang yang menghancurkan masa depannya secara perlahan-lahan.
"Kamu ke ruangan saya,Renata".Perintah Deon, menginterupsi langkah kaki Renata.
Yang di perintah tidak menjawab,menoleh pun tidak.Dia malah seenaknya melengos pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Dasar gadis tengil,di kasih hati malah minta jantung".Umpat Deon,sembari memandangi kepergian renata.
Renata, bukannya tidak mendengar perintah Deon akan tetapi dia ingin membersihkan dan mengganti pakaiannya yang terlihat lusuh dan basah karena keringat.
Renata,pergi ke lokernya menyimpan tas slempang lusuh dan Menganti pakaiannya,mungkin nantinya dia akan di anggap tak sopan.Tapi,dia tak peduli sekalipun harus di keluarkan, baginya dia tidak ingin bertemu dengan laki-laki yang menghancurkan masa depannya.
Langkah kakinya gontai,dia ogah-ogahan pergi ke ruang manager yang di dalamnya ada Deon yang memerintahkan dia untuk pergi ke ruangannya.
"Mau kemana?".Tanya Alek.
Renata,menunjuk ruang manager dengan memanyunkan bibirnya."Tuh". Begitu maksud ekspresi wajahnya.
"Hati-hati".Peringat Alek.
Renata, mengangguk.Tak bisa Renata pungkiri walau Alek sering mengganggunya tapi sebenarnya dia peduli apalagi ada perasaan cinta di hatinya untuk dirinya.
"Andai kau bukan playboy,sudah sedari dulu aku membalas cinta mu".Gumam Renata,sembari berlalu pergi.