
Deon,tersenyum licik kala orang suruhannya menjalankan perintahnya dengan begitu cepat dan tanggap.Tak perlu membutuhkan waktu lama apalagi dirinya harus di buat menunggu pria suruhannya membawa targetnya.
Tak cukup sampai disitu Deon memerintahkan pria suruhannya,membuka kancing baju Rania satu persatu dan dirinya berfoto di samping tubuh rania yang hampir telanjang,bum puas rasanya Deon menjebak Rania dalam permainan yang dia ciptakan sendiri.
Belum puas dia memberikan pelajaran untuk si bocah tengil,Rania dan si sombong Renata.Dia perintahkan pria suruhannya untuk menanggalkan pakaian Rania dan dirinya.Tak lupa dia juga menyuruh pria itu untuk tidur di samping tubuh rania yang telanjang bulat tapi sudah tertutup oleh kain selimut,sengaja agar tak terlihat vulgar.
Hanya ikut tidur bukan berarti menodai mahkota nya apalagi menghancurkan gadis belia yang masih mengharapkan sebuah masa depan yang layak.
Deon masih punya hati,dia masih punya sedikit belas kasih agar mahkota Rania rak ternoda.Toh,pria suruhannya hanya di suruh tidur dengan keadaan telanjang tertutup selimut bukan berarti pria itu melecehkan Rania.
Beberapa pose foto diambil oleh Deon,tak sedikit yang dia ambil ada beberapa yang di rasanya mampu menghancurkan kesombongan Renata dan memberikan sedikit pelajaran untuk si tengil,Rania.
Pria itu sudah memakai pakaiannya kembali, tapi tidak dengan Rania.Sengaja deon, membiarkan Rania masih dalam keadaan telanjang bulat tertutup kain selimut.
"Ini bayaran untuk mu,ingat jangan berani-berani nya kau membocorkan rahasia ini apalagi bermain-main dengan ku".Ancam Deon,sembari melemparkan amplop coklat berisi cek yang sudah di sepakati dan di tandatangani oleh dirinya.
Pria itu terlihat tersenyum puas,mengambil amplop itu dan berlalu pergi setelah mengangguk-angguk tanda menyetujui perintah nya.
Sedang Deon,masih berada disana,memandang tubuh rania sebentar.Mengirimkan foto Rania kepada renata sebelum dia akhirnya beranjak pergi.Tersenyum penuh kemenangan.
.....
Di lain tempat,Renata masih betah memandang keluar halaman.Menanti dan menunggu Rania pulang dari tempat kerjanya.Sudah pukul 11 malam,sang adik masih belum menampakkan batang hidungnya,cemas,gelisah, khawatir dan takut yang di rasakan oleh Renata.
Sedari tadi dia terus mondar-mandir kesana-kemari tak mau diam apalagi bisa memejamkan mata, mencemaskan adik satu-satunya,adik perempuannya dan amanah terbesar baginya.
Semakin di Landa gelisah saja Renata dalam menanti kepulangan Rania yang sudah 1 jam dia nanti tanpa kabar,ponsel nya pun tak aktif di hubungi.
"Kemana anak itu perginya?".Gelisah sekali renata,memandang halaman rumah, sesekali dia melirik ponsel nya,siapa tau ada kabar dari adiknya.
Hanya keajaiban dan mengandalkan keberuntungan selama proses menunggu Rania.Mencari secara langsung pun,dia tak berani.Mau minta tolong,tapi pada siapa.Hidupnya hanya tinggal berdua,dia anak tertua dan dia sudah bertanggungjawab atas diri rania.
Mau meminta bantuan pamannya saja,terasa segan apalagi sang paman sedang di Landa musibah.Tak mungkin rasanya dia terus membebani pamannya dengan masalah nya sendiri.
"Semoga kau selalu berada dalam lindungan Allah SWT..Aamiin".Tak henti-hentinya Renata berdoa,memohon atas keselamatan dan perlindungan adiknya dari sang maha kuasa.
Ting.
Bunyi notifikasi yang dia harapkan ternyata muncul juga, harap-harap cemas dia membuka ponselnya yang barusan berbunyi,tanda ada pesan masuk.
"Bismillah".Tak lupa Renata berdoa,semoga notifikasi sesuai harapan nya.
Deg
Alangkah terkejutnya Renata,saat membuka notifikasi layar ponselnya yang di kirim oleh nomer tak di kenal yang berisi beberapa foto Rania beserta dengan satu pesan menohok.
"Jangan sombong dengan sikap mu yang pendiam,ada kalanya seseorang bisa menghancurkan kesombongan mu".