My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 42



"Renata,Renata.Kau jarang berbicara,sekalinya berbicara langsung menampar mental orang lain".


Di puji seperti itu tak membuat Renata besar kepala.Toh, menurutnya itu bukan hal yang baru bukan pula sebagai pujian.


"Ah bapak, sindirannya itu loh".Kilah Renata,menyangkal ucapan pak Budi.


Pak Budi mengenggam tangan renata."Apa yang aku katakan benar,Renata.Diam mu adalah emas dan setiap kata mu adalah berlian yang bisa membungkam mulut orang-orang yang menghina mu".Jelas pak Budi,menatap lekat pada renata.


"Bapak tau betul,sikap diam ku karena apa?".Renata,menunduk.Teringat kembali masa-masa sulit nya hingga menyebabkan dia menjadi pendiam.Hanya pada pak Budi dia berani berbicara dan berkata jujur.


Pak Budi,mengelus lengan Renata."Aku tau,tapi kamu jangan hanya diam saja ketika kamu terus di injak-injak.Ingat,semut yang di injak saja bisa melawan,apalagi kamu ".Nasehat pak Budi,melepas genggaman tangan nya."Sesekali kamu harus bisa melawan,bicaralah dengan sejujur-jujurnya nya".


"Aku bukannya tidak mau membalas.Tapi_".


"Tapi,perkara membalas bukan urusan mu?".Sahut pak Budi,hapal betul dengan jawaban pamungkas,renata.


Renata,mengangguk."Bapak pun tau,aku harap bapak mengerti.Tak semua orang pendiam berarti kalah ada kalanya kita harus mengalah"Jelas renata.


Yah,Renata dan pak Budi bisa saling mengobrol satu sama lain karena mereka ada di ruangan kedap suara dan termasuk tempat yang sepi,tak jarang orang yang berada di ruangan itu.


Renata,memang pendiam.Tapi,diamnya renata hanya pada orang yang baru di kenalnya dan orang asing yang tak sefrekuensi dengan nya.


"Aku paham renata,tapi bagaimana dengan masalah mu". Rasanya pak Budi ingin sekali menuntaskan masalah renata yang terus berlarut di biarkan tanpa penyelesaian.


Renata tak menjawab pertanyaan pak Budi,dia melangkah maju."Aku pun tidak tau".Ucap renata, tatapan menerawang ke segala penjuru ruangan."Aku tidak tau harus bagaimana menyikapi masalah ku sendiri".


Pak Budi ikut maju, menyesuaikan posisi renata."Segeralah kau selesaikan masalah mu sebelum masalah menjadi besar dan tak terkendali seperti api yang kecil kau biarkan menjadi besar". Nasehat pak Budi.


Renata,masih terdiam.Mencerna penjelasan pak Budi yang selain dia adalah merupakan atasannya tetapi dia juga sudah seperti ayah bagi renata,mengingat pak Budi merupakan pamannya sendiri.


Hanya kepada pak Budi lah dia bisa bebas bercerita, menumpahkan segala keluh kesahnya dan meminta pendapat kendati tidak banyak yang tau hubungan diantara keduanya.Baij Renata maupun pak Budi, keduanya memilih bungkam.


Bukan bermaksud merahasiakan,tetapi Meraka rasa tidak penting terus membicarakan hubungan kekerabatan di lingkungan kerja.Toh,mereka juga sama.Sama-sama kerja di orang lain,mau tak mau harus tunduk dan patuh pada aturan yang ada.


Tapi,pada Rania.Renata tak berani bersikap terbuka,bukan tidak percaya tapi dia tidak ingin membebani adiknya dengan masalah nya sendiri.


Disini lah,di ruangan ini dia dan pak Budi bisa berbicara sepuas dan semau mereka tentu tak sembarang.Mereka harus melihat situasi dan kondisi nya terlebih dahulu.


"Ya wis,kalau kamu masih belum mau menyelesaikan masalah mu.Paman gak maksa,satu yang harus kamu ingat".Pak Budi menjeda ucapannya,menoleh pada renata."Kau juga harus hati-hati pada si anak baru itu".Peringat pak Budi.


Renata,menoleh."Maksud pak Budi?".


"Nanti juga kamu tau".Jawab pak Budi,sembari berlalu pergi meninggalkan Renata dengan beribu pertanyaan.