
Dengan gagah berani,stelan formal dan rambut rapih,Deon siap bertemu dengan mantan kekasihnya.Setelah dia menghapus dan merombak penyamarannya sebagai karyawan culun.
Bram,memang sigap tanggap dalam bekerja.Dia tak hanya bertugas menjadi supir saja tapi sudah seperti merangkap menjadi asisten pribadi deon.Sepertinya siapapun yang bekerja dengan Deon harus siap-siap menjalankan dua peran sekaligus,sama hal nya dulu dialami oleh Alifa.
Dia yang menjadi supir,dia pula yang harus menyiapkan segala keperluan Deon beserta perintah-perintah lainnya.Dia memang kaya,tapi dalam memperkerjakan orang dia termasuk orang pelit.Memaksa orang lain menjalankan peran ganda di bawah perintah nya yang seenak jidatnya saja.Benarlah kata alifa'Maha benar tuan kuasa dengan segala kekuasaan nya' dan juga'The power of money'begitu melekat dalam diri deon.
Tadi,sebelum dia sampai ke tempat tujuan,Deon sudah bercerita mengenai usulan penyamaran nya sebagai karyawan biasa dan mengubah indentitas nya.Hasilnya di luar ekspektasi dan sesuai harapan.
"Kamu memang karyawan cerdas,aku naikan bonus buat kamu".
Mendapatkan ucapan seperti itu tak lantas membuat Bram senang,dia tau pasti ada udang di balik batu.Ada tujuannya di balik dia menaikkan bonus dan bahkan gajih nya, terbukti sekarang dia banyak permintaan.
"Dasar orang kaya pelit,gak mau rugi".Oceh Bram, beruntung dia berada jauh dari diri deon sehingga Deon tak mendengar ocehan tentang nya.
Bagi Deon,tak ada yang gratis di dunia ini.Semua harus ada timbal baliknya dan harus sesuai dengan bayaran yang dia terima bukan pelit tapi perhitungan.
Dia bukan nya tidak tau tentang Bram yang selalu mengomeli perbuatannya bahkan perintah nya,tapi dia sudah melakukan perjanjian dengan Bram.
"Bila tak kuat bahkan tak suka, silahkan mengundurkan diri".Begitu kata deon sebelum Bram di rekrut nya sebagai karyawan nya.
Bram memang menyanggupi kata-kata nya beserta dengan sederet perjanjian yang merugikan nya,tapi bila dia sudah di Landa jengkel.Apalah kata-kata janji,bila janji itu di buat untuk di ingkari oleh diri sendiri.
"Ayo Bram,kita tidak punya banyak waktu lagi".Perintah deon.
"Kita?,loe aja kali gue enggak".Lagi-lagi Bram hanya mampu bergumam tak berani berkata dengan lantangnya.
Deon Artama,dia dengan kepintaran dan kepiawaiannya dalam berdebat sama seperti Aisha alifa.Mantan kekasihnya sekaligus asisten dan merangkap sekretaris nya, sama-sama kuat dan pintar dalam berdebat.
Dengan segala kekuasaan dan juga kekuatan uang nya Deon mampu membujuk Alifa untuk bertemu dengan nya di malam-malam buta padahal dia sedang dalam keadaan hamil.
Bukan dia tak tega,tapi rasanya tidak adil jika wanitanya saja yang menderita karena berita tak benar yang entah siapa yang memulainya.
"Selamat malam,saya ingin bertemu dengan ibu Aisha alifa yang sebelumnya saya sudah ada temu janji dengan nya".Jelas deon pada sekuriti sembari menunjukkan layar ponsel nya.
Sekuriti itu mengambil ponsel dari tangan Deon, membacanya sekilas sebelum menyimpulkan nya dan mengizinkan Deon bertemu dengan atasannya yang kebetulan belum pulang meski sudah tengah malam.
"Bagaimana,saya di perbolehkan masuk?". Rasanya Deon sudah merasa pegal hanya demi mendengar izin dari mereka.
"Baru juga di baca,masa iya udah ada kesimpulan nya".Gumam Bram, bibirnya gatal jika tidak berkomentar mengenai sikap tuannya yang lagi-lagi hanya berupa gumaman saja.