My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 72



Deon,bersitatap dengan wajah pak Budi yang menunjukkan keterkejutannya atas ucapan nya yang seakan menunjukkan bahwa dia adalah pemilik asli dari cabang resto yang dia sendiri belum pernah bersitatap dengan nya,hanya tau namanya tapi tidak tau wajahnya.


Adu tatap antara atasan dan bawahan ini masih berlangsung seperti kucing jantan yang hendak berkelahi memperebutkan kucing betina atau tak sengaja bertemu di jalan atau di tempat-tempat tak terduga.


Deon dengan kilat kemarahannya sedang pak Budi bertanya lewat tatapan matanya.Ada rasa penasaran dan amarah di dalamnya, karyawan sekelas Noel bisa bertindak di luar batasannya apalagi yang dia hadapi adalah managernya.


"Turunkan pandangan mu,bila kau masih ingin bekerja disini".Gertak pak Budi, memecahkan keheningan yang sempat melanda.


Deon,terkekeh."Haruskah?,apa hak anda disini?".


"Aku managernya dan aku berhak mengatur dan bahkan memecat karyawan seperti anda".


"Usaha anda akan menjadi sia-sia,sebab tanpa persetujuan CEO,bos mu yang sebenarnya tak akan ada artinya aturan murahan mu itu".


"Siapa,kau sebenarnya?".Sedari tadi,pak Budi ingin bertanya tentang diri Noel.Yah Noel.


Sudah,sejak beberapa hari bukan tadi karena sikap, penampilan dan tutur kata Noel telah memancing rasa penasaran dirinya.Dia boleh saja, berpenampilan culun tapi kharisma yang terpancar tak bisa membohongi dirinya.


Deon,mundur beberapa langkah.Dia berbalik badan, mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah.Di dalam ruangan itu, terdapat beberapa foto pimpinan cabang resto,dan beberapa proyek bangunan.Memang tak ada foto pemimpin cabang resto yang terpampang seperti foto bangunan proyek.Sengaja,agar orang-orang tak mengetahuinya.


"Apa kau,tau wajah dari bos mu itu?".Tanya Deon, tanpa menoleh.


"kau,menguji ku?". Bukannya menjawab,pak Budi malah melontarkan pertanyaan balik, bermaksud menjebak balik diri Noel.


"Jawab!".Seru Deon,berteriak dengan kencangnya.


"Aku tanya sekali lagi,siapa kau sebenarnya?".Balas teriak pak budi,tak mau kalah.


Deon,terkekeh.Dalam hatinya dia bertepuk tangan, mengapresiasi tingkat kepercayaan diri managernya yang menunjukkan keberanian nya dan juga sikap ketegasannya.


Deon,berbalik kembali bersitatap dengan pak Budi."Aku akui,sikap mu memang tegas dan penglihatan mu begitu tajam padahal usia mu tak lagi muda".Puji Deon, bertepuk tangan.


Seperti tertantang pak Budi,berjalan mendekat kearah Noel."Aku tau kau bukan karyawan seperti kebanyakan,jujur saja".Tantang pak Budi.


Mata bertemu mata,bahu bertemu bahu,warna rambut yang sama tapi isi pikiran berbeda.Berbeda generasi pula, mereka berdua kembali beradu tatap.


"Aku memang bukan karyawan biasa seperti perkiraan mu..Dan selamat,anda telah lulus". Puji Deon lagi, sembari mengulurkan tangan.


Pak Budi hanya melirik sekilas tangan yang terulur di depan nya.Tak Sudi balas menjabat karyawan baru yang bersikap sombong, layaknya pemilik resto.


"Tak Sudi aku berjabat tangan dengan mu". Gertak pak Budi,menepis tangan Deon yang terulur.


Deon,terkekeh.Bukan tidak merasa sakit hati hanya saja orang seperti pak Budi bukanlah seseorang yang mudah percaya hanya dengan sebuah kata-kata.


Dirinya,mulai membuka wig nya,rambut palsu yang sengaja dia tempelkan pada rambut aslinya,mencabut tompel palsu lu kemudian merapikan bajunya.Sedang,pak Budi masih diam mematung.Memperhatikan Deon yang membuka penyamarannya satu persatu.


"Apa anda mengenal saya?".Tanya Deon,begitu wajah tampan nya terpampang nyata di hadapan pak Budi.


Pak Budi,bergeleng kepala.Tak tau menahu tentang siapa yang di maksud oleh karyawan barunya,lebih penting sekarang adalah bahwa dia sudah seperti penyelundup.