
Menu yang sederhana dan tersaji di setiap paginya begitu menggoda selera Rania yang perutnya sudah kerongkongan,minta si isi barang sesuap nasi setelah pikiran nya berkutat dengan tugas-tugas sekolah yang lumayan menumpuk.
Dia bereskan buku-buku dan alat tulis yang berserakan di samping kanan dan kirinya,maklum lah dia tidak hanya mengerjakan satu tugas saja melainkan tiga sekaligus.
"Hmmm,memang beda yah kalau dah laper gini".Ucap Rania,siap sedia meluncur ke dapur.
Renata, bahkan bergeleng kepala atas tingkah laku Rania,sekali lagi sikapnya selalu aneh bila lapar melanda,tak ada toleransi apalagi harus menunggu dalam keadaan muka berminyak karena belum sempat mencuci muka Rania langsung melahap satu sendok nasi goreng panas dari wajannya langsung seperti orang yang tak pernah makan saja dia.
"Hati-hati masih panas".
"Aw".Rania memuntahkan nadi dalam mulutnya."Ini panas sekali,kak".Pekik Rania, kesakitan.
Renata mengambilkan segelas air kepada Rania, menyodorkannya agar lidah sang adik tak terasa terbakar lagi akibat tak sabaran mencicipi nadi goreng panas langsung dari wajannya.
"Kan kakak sudah bilang, hati-hati masih panas".Sahut Renata,sembari menuangkan nasi goreng ke dalam piring.
"Kakak sih,ngasih tau nya telat".
"Kamu,kalau udah laper kayak orang yang gak pernah makan selama setahun".
"Mati dong aku".
Renata terkekeh,Rania adik satu-satunya mampu menghibur dirinya dan juga sering kali membuat nya tertawa hanya dengan tingkah polosnya.
"Mandi dulu gih,biar segar tubuh kamu".Usir renata.
Rania,memberenggut sebal.Bukannya di suruh makan dulu,malah di suruh mandi.Alhasil,dia berjalan dengan sedikit kesal dengan perintah sang kakak.
"Anak itu,pasti melakukan mandi ekspres lagi".Gumam Renata.
Tepat, setelah dia menyelesaikan ucapannya,Rania keluar dari kamar mandi dengan kondisi rambut yang sedikit basah dan handuk tersampir di lehernya,sudah siap menyantap menu sarapan yang berhasil menggoda perutnya.
Renata, tersenyum.Dugaannya benar sang adik lahi-lagi melakukan mandi ekspres bila perut sudah minta di isi.
"I'm coming kakak ku sayang".Teriak Rania,mencium pipi kiri Renata.
Renata,hanya mampu bergeleng kepala terhadap tingkah laku Rania.Wnak bungsu dari keluarga Atmaja ini memanglah selalu bersikap berubah-ubah bak bunglon yang sering berubah sesuai tempat tinggal,tapi untuk Rania berubah sesuai mood.
Dengan di awali oleh kata'bismillah',Renata dan rania keduanya mulai menyantap menu sarapan mereka meski itu sering di makan dan di masak oleh Renata,tapi bila lapar melanda apapun bisa di makan tanpa protes.
Rania mengganti bajunya sedang Renata mencuci piring dan gelas bekas mereka makan,di setiap paginya hampir seperti itu.Rutinitas mereka sebelum melanjutkan aktivitas di luaran sana.
Semua sudah siap sedia berangkat menuju rutinitas mereka masing-masing,Renata pergi bekerja sedang Rania pergi ke sekolah.
Jalan kaki, seperti hari-hari yang lalu,tak pernah bosan apalagi mengeluh yang ada mereka bahagia karena dengan jalan kaki bisa membuat tubuh sehat dan bisa bercanda satu sama lain,mengingat waktu kebersamaan mereka sangatlah terbatas.
Rania dan Renata berjalan sembari bergandengan tangan, berlari-lari bak anak kecil tanpa beban masalah.
Tanpa, mereka sadari sebuah mobil Mercedez Benz melaju dengan kecepatan rendah,sengaja demi mengawasi kedua wanita yang hanya terpaut 6 tahun.
"Renata, renata.Kau manis ternyata'.Gumam seorang pria, pandangan nya tak pernah lepas dari diri renata.