
Renata yang berjalan sendirian dengan memakai Hoodie hitam dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku Hoodie berjalan melewati danau buatan.
Entah angin apa yang membawanya untuk melewati danau buatan yang ramai oleh orang-orang atau sepasang muda-mudi yang tengah menjadi kasih.Rasa rindu terhadap Rania, mungkin itu menjadi alasannya.
Mata yang mulai mengantuk dan pandangan yang kabur,membuat Renata sering sekali berhalusinasi melihat sesosok wanita mirip dengan Rania.Tak hanya satu kali tapi itu sampai terjadi untuk yang kedua kalinya.
Rasa penasaran membawanya untuk mengikuti sesosok wanita yang mirip dengan Rania,semakin dia ikuti semakin tak jelas.Dia kucek matanya,agar pandangannya jelas tapi saat dia membuka mata, sesosok wanita itu menghilang entah kemana.
"Mimpi apa aku semalam".Renata yang memang penakut,dia berlari sekencang mungkin.Takut yang tadi di lihatnya memang benar merupakan hantu.
Dia semakin berlari, berusaha menjauhi tempat remang-remang minim pencahayaan.Tak seperti di pinggir danau buatan yang ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang,meski pencahayaan minim.
"Huh..Hah.."Renata,mengatur napasnya yang tersengal akibat berlari bak pelari profesional.
Dia membungkukkan badannya,akibat napasnya yang tersengal dan tak beraturan.Dia bisa bernapas lega karena dia pada akhirnya sampai di rumah sewanya,kendati rasa pegal dan capek menjalari tubuhnya.
"Apa iya yang tadi itu hantu?".Bulu kuduk Renata kembali berdiri kali ini lebih parah di bandingkan tadi.
Matanya celingak-celinguk kesana-kemari,sembari memegangi tengkuknya.Sesosok bayangan mirip Rania begitu terlihat jelas, senyuman di bibirnya,rambut yang di biarkan tergerai dan memakai dress selutut berwarna merah menambah kesan horor,di tengah malam yang sunyi dan sepi.
Tak cukup sampai disitu saja.Renata yang harus kembali tidur sendiri karena ketiadaan Rania di sampingnya,tak ada sosok pendamping di malam sunyinya.
Tapi, ternyata Renata belum juga mau menutup matanya.Pikirannya di sibukkan dengan penglihatannya sewaktu di danau buatan.Sesosok wanita itu memang benar-benar mirip dengan Rania.Ranianya yang tak pulang-pulang,memberi kabar pun tidak.
Dia mencoba menutup matanya, mengenyahkan segala pikiran buruk.Tapi, tetap tidak bisa meski dia sudah mencoba berganti posisi tidur.Di mulai dari miring ke kanan,miring ke kiri, menyelimuti seluruh tubuhnya hingga telentang.Dia lakukan,rasa kantuk itu belum lah terbit di pelupuk matanya.
Renata,bangkit berdiri.Matanyq tak sejalan dengan pikirannya kendati rasa lelah mengajaknya untuk mengistirahatkan tubuh dan otaknya memintanya untuk berhenti memikirkan yang tidak-tidak.
"Susah...Susah..Susah..Ayo,mata tidur".Bujuk Renata,sembari memukul-mukul kepalanya,mencoba berkompromi dengan pikirannya.
Brak
Saat dirinya tengah membujuk matanya agar terlelap tidur,saat itu pula kaca jendela mengeluarkan bunyi keras seperti ada orang iseng yang sengaja melempar batu kearah kaca jendela.
Semakin takut saja diri Renata,mau melihat situasi dan kondisi pun tak berani.Di kalahkan oleh rasa takut dan paranoid terhadap hantu yang parah.
"Hiiii,Serem".Renata,berbaring kembali sembari menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.Takut itu adalah kelakuan mahkluk tak kasat mata.Menguji keimanannya di tengah malam sunyi dan sepi,tiada satu orang pun yang menemani dirinya tidur.
" Bismika Allahumma Ahya wa amut..Aamiin".Do'a dia panjatkan sebelum tidur, berharap matanya terlelap tidur,hantu di luar sana tak menjahilinya lagi dan Rania esok,lusa pulang menyambut hari-hari nya yang penuh lika-liku dan perjuangan.