
Bram yang tadi memancing keberanian Deon agar dia sama berusaha nya seperti kedua pria rendahan dalam mendapatkan cinta renata saja sampai tertawa terpingkal-pingkal.Bagaimans lah tidak,seorang big boss mampu di kalahkan oleh dua bocah tengil.
"Haha..Haha..Tak ku sangka kau kalah oleh bocah kemarin sore.Ksu memang tak pandai merebut hati wanita".Tawa Bram semakin menjadi saja.
Renata sudah pergi untuk melanjutkan aktivitasnya,Fahri dan Alek pun sama memilih pergi membiarkan pria tak di kenalnya terus berdiri sembari memberenggut wajah kesalnya.
Yah,Deon Wilson nama pria yang mengaku-ngaku sebagai calon suami Renata di hadapan kedua bocah tengil menurutnya.Dia yang bermaksud menyelamatkan Renata dari predator liar,kini berbalik di mangsa.Dia di permalukan begitu kejamnya, kebaikannya tak di hargai dan ketulusannya hanya mendapatkan sebuah penghinaan.
Emosi yang belum mereda,membuat Deon terus berdiri di taman belakang resto sembari menikmati semilir angin yang berhembus menyapa tubuhnya memberikan sedikit kesegaran dalam tubuh yang terbakar api kemarahan.
Lelah terus duduk,Deon duduk di kursi taman belakang yang halaman nya di tumbuhi oleh berbagai macam bunga dan disana pula terdapat pohon kelapa.Taman yang dulu dia desain untuk merenungkan diri atas rasa patah hati nya di tinggal menikah oleh orang yang dia cintai,belum lagi wanita itu.Wanita yang tanpa sadar menumbuhkan cinta di hatinya,dia juga sama pergi tanpa jejak.
"Malangnya nasib ku".Deon meratapi nasib percintaannya yang beberapa kali menemui kegagalan.
Rasa sejuk dan segar belum lagi Indra penglihatannya di manjakan oleh tanaman bunga yang begitu indah membuat siapapun tak mau beranjak dari tempat itu.
Pikiran Deon melanglang buana, pikiran nya tertuju pada wanita bersuami.Wanita itu menjadi alasan dia menyukai bunga mawar merah yang warnanya begitu terang, menggambarkan semangat hidup.
Dulu,dia selalu bahagia berada di sisi wanita itu hingga wanita itu memilih pergi tanpa alasan hanya karena dia lebih mementingkan masalah keluarganya daripada harus memperjuangkan cintanya.
Deon yang tengah melamun,terlonjak kaget dengan suara berat nan lantang yang tetiba bertanya sembari menepuk pundaknya.
"Kau".Deon, terkejut bukan main pada Bram yang tetiba menepuk pundaknya.
Bram,tersenyum ikut duduk di bangku taman yang di penuhi oleh tanaman bunga mawar yang warnanya begitu terang.Pantas,jika Deon betah berlama-lama duduk disana sembari memikirkan masa depan atau mungkin seseorang yang dia cintai.
Deon, membiarkan Bram ikut duduk bahkan menikmati semilir angin yang berhembus menyejukkan hati dan pikiran.Toh,dia sekarang tak ingin berdebat panjang, membiarkan hatinya tenang dan pikirannya jernih.
"Bagaimana rasanya berjuang tapi tak di hargai?, bagaimana rasanya berjuang sendirian saat hati mu yakin pada orang itu tapi orang itu malah tak mencintai?".Sengaja Bram bertanya yang memancing emosi Deon,mengaduk-aduk perasaannya.
Hening.
Hanya keheningan yang Bram dapatkan,Deon tak menjawab pertanyaannya dia terlanjur di buai oleh kesejukan angin dan di butakan oleh tanaman bunga mawar yang begitu indah dan menggoda.Ocehsn Bram,tak dia pedulikan.
Masa bodoh dengan cinta,saat ini dia hanya ingin sendiri.Sendiri menikmati pemandangan tanaman resto yang dia desain sendiri,sejenak pikiran nya ingin dia jernihkan agar menghasilkan keputusan yang tepat dan benar,tak seperti yang dulu-dulu apalagi terhasut rayuan maut Bram yang menjatuhkan mentalnya.