
Renata sudah seperti orang linglung saja,berjalan gontai antara menapak dan tidak,antara sadar dan tidak dirinya berjalan sesuai kemana arah kaki melangkah,sedang pikiran nya melanglang buana dan juga matanya yang kosong.
Deon,yang berdiri tak jauh dari pojok ruangan dengan menyilangkan kedua tangannya di dadanya,menelisik raut wajah Renata.
"Apa mungkin dia menjadi seperti ini karena kasus Rania?,kalau begitu aku ini keterlaluan yah?".Deon berperang batin dan pikiran.Antara kasihan dan benci yang menguasai hatinya.
Deon,masih memperhatikan gerak-gerik Renata yang semakin kesini malah semakin parah.Lihatlah dia,tak hanya salah menaruh menu makanan saja bahkan dia sering menabrak pelanggan lain tak hanya satu tapi sudah beberapa kali dan terulang.
Hatinya ternyata yang menang,menampik segala logika dan pemikirannya tentang rencana yang susah payah dia susun untuk menghancurkan kesombongan renata.Deon,berjalan menghampiri Renata yang terduduk lemas di ambang pintu dapur.
"Re".Panggil Deon,ikut duduk di samping Renata.
Dia yang tengah memijat pelipisnya tak mampu mendengar panggilan deon.Kepalanya kepalang sakit,tak mampu mendengar kata-kata dari sekeliling nya.
"Re,kamu sakit?".Tanya Deon,sembari menyentuh keningnya.
Renata,masih belum sadar ada seseorang yang bertanya bahkan menyentuh keningnya.Rasa lelah dan juga pusing, membuatnya tak berdaya.
"Panas".Deon,tanpa permisi menggendong tubuh renata di bawah tatapan karyawan nya,termasuk Alek dan fahri.
Kedua predator yang di sibukkan dengan pekerjaan mereka sehingga tak mampu mendekati dan bertanya secara langsung kepada renata,dan membiarkan Renata terduduk lemas.
Tiba-tiba big boss mereka datang menghampiri dan bahkan dengan seenaknya menggendong tubuh mangsanya,tanpa banyak perkataan.
"Aish,kalah cepat".Keluh Alek dan Fahri secara bersamaan.
Alek dan Fahri saling pandang, lagi-lagi mereka satu suara dan satu pemikiran jika menyangkut masalah Renata.Padahal dulu,Fahri agak risih dan tak terlalu suka dengan Renata.
"Yah,satu pemikiran lagi".
kedua predator itu seolah menyesali ucapan mereka yang lagi-lagi di ucapkan secara serempak dan kompak.Tom and Jerry memang terkadang suka akur.
Deon,membawa tubuh renata dalam gendongan nya menuju ruangannya.Renatq tak melawan,toh dia sudah seperti orang kepayahan.Tak punya tenaga bahkan sekedar menggerakkan tangan pun,tak mampu.
Tanpa banyak bicara,Deon terus melangkah maju di bawah tatapan penasaran karyawan dan pelanggannya.Ada pula yang merasa iri dengan perlakuan Deon terhadap renata.
"Si pramusaji pendiam itu menang banyak nih".
"Iya,gak nyangka.Diam-diam begitu ternyata emang dapet menghanyutkan".Sahut temannya ikut menyuarakan pendapatnya.
Yah, bagaimana tidak jika selama ini Renata terkenal pendiam dengan segala kehidupan nya yang tertutup.
Banyak yang iri dan dengki terhadap kehidupannya,yang di perebutkan oleh cowok ganteng dan juga paras nya yang ayu menambah daftar rasa itu hati mereka.
"Tapi,gak papah kesempatan buat dapetin Fahri atau Alek terbuka lebar".Kata Sarah,ikut bersuara.Dia bukannya merasa iri, justru dia merasa senang.
"Yah,tapi gak se kaya big bos kita".
"Gak papah yang penting ganteng".Sahut Sarah,begitu antusiasnya berbicara tentang kedua cowok ganteng idolanya.
Deon, mendudukkan Renata pada sofa di ruangannya.Dia memang tak bermaksud menidurkan nya apalagi membuatnya merasa nyaman.Toh, tujuannya adalah agar dia tidak di cap sebagai pemimpin yang dzalim dengan membiarkan salah satu karyawan nya terkapar dengan keadaan lemas dan linglung.