My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 81



Bram,menghela napas kecewa kala dengan sengaja Deon membuang cerutunya seakan tidak mengizinkan dia untuk ikut bergabung menghisap dan menghembuskan cerutu secara bersama-sama.


"Lah,gas asyik".Keluh Bram.


Deon,tersenyum kecut.Dia sebenarnya tak berniat merokok di tempat umum hanya membasahi bibirnya saja,hanya itu saja sebab dia bukan perokok handal seperti Bram.


Bram ikut menyandarkan tubuhnya di badan mobil,memandang kearah jalanan yang padat oleh kendaran-kendaraan baik roda dua maupun roda empat.Lewat silih berganti,berebut jalanan dan saling mendahului seperti di kejar waktu.


Kendati panas terik matahari begitu menyengat dan debu serta polusi udara memenuhi Indra penciumannya,tak membuat Deon beranjak dari tempatnya begitu pun dengan Bram.Dia setia menemani tuannya,ikut bersandarkan badan mobil sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Menurut mu,kenapa mereka saling berebut jalan,saling mendahului satu sama lain seperti di kejar waktu?".Tanya Deon,memecah keheningan.


"Dan menurut mu,kenapa kamu masih mengejar satu wanita sedang masih ada ribuan wanita di luar sana?".Tanya balik Bram.


Deon,menoleh kearah Bram.Dengan gampang nya dia bertanya tentang perasaan nya dan wanita yang sedang dia perjuangkan.


Bram,memang tau seluk-beluk kisah cintanya, pengorbanannya dan juga perjuangan nya untuk mendapatkan hati renata dia mengubah indentitas dan juga menjadi karyawan biasa pun atas usulan Bram.


Bram,sudah seperti menjadi adik baginya,teman curhatnya di samping pekerjaannya yang menumpuk dan menjulang tinggi.Hubungannya dengan Bram tak ubahnya bak kakak-adik.


"Di tanya,malah balik nanya.Gak sopan".Hardik Deon.


Bram, tersenyum."Sama halnya pengguna jalan,kenapa mereka saling mendahului?,sebab ada tugas dan tanggung jawab yang mereka harus emban.Diantara para pengguna itu ada yang berprofesi sebagai ojek online,pemuat batu,besi dan lainnya.Mereka bekerja,Deon".Jelas Bram,menoleh pada Deon."Mereka kerja di jalanan dengan resiko yang tak sedikit juga". Jelasnya lagi.


Bram paham betul,Deon tidak paham dengan penjelasannya.Jelas tak mudah di pahami antara pertanyaan dirinya dan juga pertanyaan Deon,jelas berbeda hanya memiliki makna yang sama bila di pahami secara detail.


"Pahamilah setiap kata-katanya,kau tidak akan mungkin memahaminya hanya dengan sebuah kata.kau akan memahami nya ketika kau merasakannya sendiri ".Nasehat Bram,tersenyum kecut.


Deon, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.Sekali lagi penjelasan Bram tidak bisa di mengerti oleh akal pikirannya yang buntu akibat terlalu memikirkan cara untuk menaklukkan hati Renata yang di bentengi oleh sikap pendiam nya.


Bram,kembali menatap jalanan.Membiarkan Deon mencerna ucapan nya dan menyimpulkan nya sendiri,itu lebih baik daripada sekedar penjelasan yang ujung-ujungnya tidak bisa di mengerti dan dia pula yang harus menjelaskan kembali.


Memang betul banyak pengendara yang saling mendahului antar sesama pengendara yang lain nya.Jelas,dia memahami pengendara yang lainnya sebab dia juga adalah seorang supir yang harus siap sedia mengantarkan tuannya sampai ke tujuan dengan selamat,tak kekurangan satu apapun dan menjemputnya kembali dalam keadaan utuh seperti sedia kala.


Dia dapat pahami perjuangan mereka dan pengorbanan mereka demi anak dan istri di rumah,rela panas-panas an dan rela kehujanan demi sesuap nasi.


Tak hanya Bram yang memandang ke jalanan sembari bernostalgia tentang perjuangan nya dulu yang menjadi kurir demi membiayai kuliahnya.Namun,Deon juga sibuk dengan pemikirannya sendiri.Di sibukkan oleh pikiran tentang Renata, wanitanya yang terlampau pendiam dan susah untuk di taklukkan,entah dengan cara apalagi.


"Bagaimana cara menaklukkan hati wanita pendiam?".Gumam Deon,sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Dekati dia dan pahami seluk-beluk kehidupan nya".Sahut Bram, memberikan masukan.


Deon,menoleh kearah Bram."Saran mu tidak berlaku untuk Renata yang sedingin kutub Antartika".


Bram,terdiam.Kalau memang begitu,tentu sulit untuk menaklukkan nya.Bram mencoba berpikir namun pikiran nya buntu terhalang oleh pikiran nya tentang bayang-bayang masa lalu.