
Selesai mengadakan meeting dadakan,Deon merasa dirinya belum sempat memperkenalkan diri dengan karyawan resto nya padahal itu hal yang penting sebagai langkah awal mendekatkan diri, setelah dia depak jauh-jauh jabatan Budi yang selama ini dia banga-bangga kan.
Sesi pengenalan dan serah terima jabatan,dia lupakan Seenaknya saja saat pikirannya terus tertuju pada seorang wanita cantik yang selama 3 tahun terakhir dia cari.
Sesi pengenalan dirinya sebagai manager sekaligus big bos mereka,dia lewatkan bahkan terlupakan dari agenda rencananya.Beruntung dia mengadakan meeting dadakan sehingga dia teringat akan sesi pengenalan bersama karyawan nya.
Pukul 1 siang, bertepatan dengan karyawan nya sedang break,dia bermaksud melaksanakan agenda rencananya yang sempat terlupakan.Namun,dia yang baru terjun langsung menanggani restonya tak tau pasti dimana letak tempat berkumpulnya para karyawan saat break itu terjadi.
Bukan Deon namanya,jika dia menyerah.Toh,seisi dalam ruangan resto itu miliknya,dia bebas keluar masuk tanpa takut di curigai apalagi di tuduh sebagai penyusup seperti kemarin-kemarin terjadi.
Semakin dia melangkahkan kaki,semakin banyak karyawan yang melihatnya.Tatapan karyawan itu seperti tatapan orang yang mendamba.
Wajah rupawan dan kharisma nya sudah seperti menghipnotis para wanita bahkan laki-laki yang tak sengaja bertepatan lewat dengan nya.
"Selamat siang".Sapaan itu terucap begitu saja,padahal mereka belum mengenal betul dengan sosok pria rupawan yang ada di hadapannya.
Seulas senyuman,Deon berikan untuk orang yang menyapa nya demi formalitas saja bukan pencitraan seperti yang mereka lakukan.
"Sombong,tapi kalau orang nya sombong kayak dia.Gak papa".Puji Sarah,si primadona resto.
"Iya,andai aku punya suami seperti dia".
"Tobat wey tobat,loe udah punya laki".Mita, mengingatkan temannya yang memuji pria tampan yang lewat di hadapannya.
Dia paksa kakinya terus melangkah menyusuri setiap ruangan kendati langkah kakinya seringnya terhenti akibat sapaan dan kata-kata pujian yang hanya sebagai pencitraan saja.
"Ganggu aja".Keluh Deon,sembari tetap melangkahkan kaki.
Dirinya sudah merasa lelah sebab terus memaksakan diri mencari keberadaan sosok renata yang belum dia temukan dimana pun, padahal dia belum sempat memakan sesuatu bahkan minum pun belum sempat setelah meeting dadakan itu terlaksana.
Sayup-sayup dia mendengar suara perdebatan dua orang pria yang saling merendahkan entah sedang memperebutkan siapa,tapi yang jelas suara perdebatan itu mengundang rasa penasarannya,siapa tau memang kedua pria itu sedang bertengkar,akan sangat tidak lucu jika pertengkaran itu terjadi di resto nya dan di hari pertamanya bekerja.
Perdebatan itu berasal dari arah taman belakang resto yang memang tempatnya terbilang sepi namun nyaman bagi orang yang ingin menyendiri,sengaja dia desain sedemikian rupa tempat nya untuk merenungkan diri.
Deg
Alangkah terkejutnya dia saat dia menyibak kaca jendela pembatas.Dimana ada dua orang pria yang sedang berebut perhatian.Perhatian dari pramusaji pendiam mereka,tak lain dan tak bukan adalah Renata Kusuma Atmaja.Si cantik dengan sikap pendiam nya yang mengundang rasa penasaran dari kaum hawa.
"Apa aku harus melakukan hal yang sama seperti mereka?".Tanya Deon pada diri sendiri untuk kedua kalinya.
Iri hati,jelas terlihat dalam diri Deon terhadap dua pria yang saling berlomba demi mendapatkan sebuah perhatian dari seorang renata Kusuma.
Mentalnya seakan tertampar,dimana dia ingin semua berjalan sesuai keinginannya namun dia tidak mau mengusahakan nya dan tak sabaran dalam mendapatkan keinginannya.
"Malu aku pada mereka yang berjuang,sedang aku tidak ada usaha sedikitpun untuk mendapatkan hati seorang renata Kusuma Atmaja".Gumam Deon.