
Demi sang istri apapun pasti akan di lakukan, walau nyawa menjadi taruhannya.Akmal harus berputar arah demi mencari makanan keinginan istrinya,tak memperdulikan jarak yang di tempuh,tak memperdulikan waktu yang terus merangsek naik keatas,tak peduli aral melintang.Akan dia lalui demi istri dan anak dalam kandungan.
Alifa tersenyum puas, suaminya mau menuruti keinginan ngidamnya.Sebenarnya tadi dia hanya mengetes saja, seberapa peka suaminya ternyata oh ternyata tingkat kepekaan suaminya di luar batas harapan nya.
"Maafkan aku".Gumam Alifa.
Sebagai calon ayah,tentu dia harus mempersiapkan sedini mungkin agar anak dan isteri nya selalu merasa aman dan nyaman.
Sebuah resto cepat saji yang jaraknya lumayan jauh dari tempat semula.Namun, menyajikan masakan khas Sunda sesuai keinginan istrinya.
Wajar,jika Alifa menginginkan masakan Sunda.Toh,dia pernah menetap di daerah pedesaan.Nasi liwet beserta dengan lalapannya menjadi menu yang di pilih oleh Alifa.
Antara rindu dan nafsu makannya bertambah.Alifa tak segan-segan memesan menu dalam jumlah besar.
Akmal, menatap bengong pada istrinya."Kita hanya berdua,tapi pesan makanan kayak buat sekampung".
"Kita mau ngadain hajatan".Semprot Alifa, menatap tajam pada Akmal.
Gleg...Gleg..Gleg
Susah payah Akmal menelan salivanya,ibu hamil kalau lagi sensitif akan terasa mengerikan.
"Memang benar,diam adalah emas".Gumam Akmal.
"Mbak".Kata Alifa,sembari mengangkat tangannya ke udara.Memberi instruksi.
Kebetulan tak jauh dari meja Alifa.Renata lah yang dekat dengan meja mereka, sehingga dialah yang maju.
"Aku pesan nasi liwetnya dua,tahu goreng,tempe goreng,sambal yang banyak,lalapan nya dan ayam goreng yah mbak".Cepat sekali Alifa memesan menu makanan beruntung pramusaji yang satu ini terbilang cekatan sehingga mampu menyeimbangkan ucapan Alifa yang terbilang cepat.
Akmal,selaku suaminya pun sampai menatap tak berkedip mendengar istrinya berbicara dalam kecepatan tinggi seperti kereta ekspres saja.
"Udah itu saja mbak".Alifa mengakhiri pesanan nya,yang katanya buat acara hajatan.
Tepat,saat pramusaji itu hendak undur diri.Tak sengaja Alifa melihat nametag pramusaji yang ada di depan dadanya.
"Renata Kusuma".
Merasa terpanggil,pramusaji yang bernama Renata menoleh pada pelanggan yang memanggilnya.
"Yah ".
"Nama mu sama seperti adik dari pelakor perusak rumah tangga orang tua ku".
Deg
Penjelasan itu, seperti menghujam jantungnya.Bagaimana tidak,jika perkataan tanpa bukti akan timbul fitnah sama halnya dengan ini, apalagi pelanggan sedang ramai-ramainya.
Beruntung pria di sebelah nya menenangkan wanita yang menuduhnya sebagai adik dari pelakor orang tuanya.Walau dia,merasa sedikit lega tapi perkataan itu berhasil di dengar dan mungkin di rekam melalui ponsel pintar milik pengunjung.
Malu,mungkin dia akan merasakannya nanti.Di lain waktu,fitnah lebih kejam daripada pembunuhan memang benarlah adanya.
"Renata".
Panggilan itu, seakan menyelamatkan dirinya dari tuduhan pengunjung wanita yang mungkin itu akan menghancurkan kredibilitas nya dan juga masa depan nya.
"Maaf"Satu kata itu yang di ucapkan oleh renata sebelum dia berlalu pergi.
Kata 'maaf'saja mungkin tak cocok untuk diri renata yang di permalukan,dia pula yang meminta maaf.
Tak masalah baginya, daripada harus menjelaskan hal yang tidak dia tau sebelumnya, menjelaskan pun akan terasa tidak ada artinya.
Sebelum pergi,renata menyempatkan diri untuk menoleh kearah pasangan pria dan wanita itu.Prianya terus menenangkan sedang wanitanya terus mengomel.Renata beralih ke perut wanita.
"Pantas, ternyata dia sedang hamil".Gumam renata.