My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 150



Ajakan renata berhasil mengalihkan perhatian Rania yang semula bermuram durja.Takut sang kakak akan terus mengulik fakta dengan melontarkan beberapa rentetan pertanyaan yang jujur saja saat ini dia belum siap bila harus menceritakan masalah yang dia lewati dengan tidak mudah.


Sarapan pagi dengan menu yang sama tapi di buat oleh orang yang berbeda menjadi pengalihan isu atas rentetan pertanyaan Renata yang sebenarnya ingin dia tanyakan.Di otaknya saja,sudah ada beribu pertanyaan yang siap menyerang Rania.


Renata,bukan lah kakak yang egois.Sejak baru pertama dia melihat Rania pun dia tau bahwa Rania telah melewati Bandai ombak permasalahan yang tak dapat di jelaskan atau bahkan di ceritakan secara gamblang.


Kepergian Rania yang mendadak apalagi tanpa kabar dan jejak,tentu ada dalang di balik nya,ada orang yang seperti nya sedang bermain-main dengannya.


Pertanyaan terbesarnya adalah mengenai foto tak senonoh yang di kirimkan oleh orang tak di kenal melalui aplikasi hijaunya.


Renata diam memperhatikan Rania yang lahap makan nasi gorengnya,kendati dirinya seringkali bermuram durja, seperti ada yang di pikirkan oleh nya.


Dapat Renata lihat,sang adik duduk dengan gelisah nya di balik makannya yang lahap.Pengslih isu handal sekali Rania, seperti dirinya.


"Tunggu, sampai aku menemukan fakta nya".Gumam Renata,pelan.


Yah,Renata sengaja tak bertanya lebih dan bahkan terkesan cuek terhadap kepulangan Rania yang misterius dengan kepergiannya saja penuh dengan misteri apalagi kepulangannya.Banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin dia lontarkan,tapi sekali lagi dia harus bersabar sampai waktunya tiba.


Rania, bangkit berdiri sembari memegang piring kosong yang isinya sudah tandas di lahap oleh dirinya seorang.


"Mau kemana?"Tanya Renata,menelisik kepergian Rania.


"Ke dapur,cuci piring".Sahut Rania,sembari melenggang pergi.


"Anak itu, rupanya sedang belajar bersandiwara".Gumam Renata,kembali melanjutkan sarapan nya yang tertunda.


Renata,tak tau betul dengan keadaan Rania yang terpuruk.Kejadiwn demi kejadian yang menimpanya menimbulkan trauma baginya,hingga wajah dan nama orang yang mengurung nya tak ingin dia ingat kembali.


Rania, terduduk dengan memegang kedua lututnya.Susah payah dia berusaha menunjukkan masalah nya kepada sang kakak,susah payah juga dia menjalani sandiwaranya.Tapi,tak di pungkiri dia terluka.


Orang itu,telah menimbulkan trauma di hatinya.Inginnya dia bercerita terus terang pada sang kakak,tapi dia tak mungkin melakukannya secepatnya ini.


"Apa yang harus aku lakukan kak?".Tanya Rania,menerawang seisi ruangan.


Rania,yang masih polos dan juga emosinya yang lain.Tentu,dia mudah terbawa oleh suasana dan perasaan hatinya.


Orang yang menyekapnya dalam sangkar besi emas yang terlihat berkilau di kejauhan namun ternyata itu adalah sebuah jebakan belaka telah mewanti-wanti dirinya agar tak pernah bertemu dengan sang kakak apalagi bercerita terus terang.


Yah,Rania pernah melihat Renata di danau buatan maupun di rumah sewa mereka.Tapi,sayang sang kakak menganggap nya sebagai mahkluk tak kasat mata.Dia,tak bisa menyalahkan sang kakak karena memang begitu lah adanya.


Dia melihat Renata dari kejauhan.Hanya dari kejauhan,dari dekat tak boleh hanya menyampaikan rindunya dengan berada di dekatnya.


Dia juga tau sang kakak sering begadang, menunggunya pulang dengan menatap cahaya bintang yang berkedip seakan bisa menyampaikan rindu untuknya.


Dia ada, dimana pun Renata berada,dia ada di dekatnya tapi tidak bisa memeluknya apalagi bertegur sapa seperti mahkluk halus dan seperti perkiraan sang kakak terhadapnya.