My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 31



Sinar mentari menerobos masuk melalui celah-celah pintu dan kaca.Memberikan penerangan pada penghuni rumah yang hanya mengandalkan cahaya lilin untuk menyinari ruangan.


Rania,terbangun dari tidurnya.Tak lupa,mengecek ponselnya berharap unggahan video itu telah lenyap di telan bumi.


Rania,meski dia sudah terlelap tidur dengan nyenyak nya.Pikirannya masih berkelana,tak mau diam di tempat walau raga sudah merasa lelah.


Susah untuk diajak berkompromi di tengah kekalutan pikiran.Semalam,dia bisa merasakan kesedihan Renata atas unggahan video yang memfitnah nya tanpa sebab.Yah,dia belum sepenuhnya tertidur.Dapat dia rasakan belain lembut di pipinya.


"Semoga,video itu sudah di hapus".Harap Rania,bangun dari tidurnya.


Di ambilnya ponsel yang tergeletak di sampingnya.Hati Rania tak menentu,saking merasakan hati yang tak karuan, tangan nya sampai bergetar.


Begitu dia, membuka salah satu media sosial bergambar burung ternyata tidak ada,pindah ke media sosial tetap tidak ada,terus aja begitu setidaknya sudah ada 5 aplikasi yang di lacak oleh rania.Tapi, unggahan video itu sudah tidak ada bahkan ulasannya pun tak ada jejak sedikit pun.


"Terimakasih ya Allah, akhirnya do'a ku terkabul".Ucap rania sembari memeluk ponselnya.


"Do'a apa yang terkabul?".


Rania,terlonjak kaget dengan suara yang tiba-tiba mengagetkan nya di tengah rasa bahagianya.


"Kak renata".Ucap rania,memelas.


Renata, duduk di samping rania.Tersenyum manis."Kamu nih,bangun tidur langsung buka handphone.".Kata Renata,lembut."Aku jadi iri sama ponsel mu yang selalu kau pegang dan selalu ada bersama mu, bahkan sepertinya kakak mu ini tak pernah di anggap".Rajuk renata.


Rania,memeluk tubuh renata."Jangan pernah menjadi ponsel,sebab ponsel hanya di butuhkan saat ada maunya dan ada perlu nya".Rania menjeda ucapannya,dia melepas pelukannya lalu kemudian menatap Renata."Sedang kau,tetap aku butuhkan apapun dan bagaimanapun keadaannya". Ucapnya,sembari mencium pipi Renata.


Rania,mundur satu langkah dia palingkan mukanya ke sembarang arah."Lah,kan aku biasanya seperti ini".Kata Rania, berpura-pura merajuk.


Renata tersenyum,maju satu langkah."Aku tidak pernah mendapatkan ciuman termanis di pagi hari yang insha Allah berkah ini".


"Aamiin semoga,berkah kak".Sahut Rania,menoleh pada renata.


Renata,memeluk rania dari belakang, begitupun Rania balas memeluk tangan Renata yang tersampir di bahu nya.


"Aku harap kita akan selalu bersama apapun dan bagaimanapun keadaannya ".Harap rania,sembari memejamkan mata.Merasakan pelukan hangat dari renata.


"Insha Allah dek".


Lama keduanya saling berpelukan,lupa waktu,lupa diri.Saling memberikan ketenangan dan juga ketentraman antar satu sama lain seakan memberikan kekuatan untuk diri mereka agar lebih kuat dalam menghadapi berbagai ujian hidup.


Saat pikiran nya tenggelam dalam pusaran indah bayang-bayang masa lalu,saat itu pula Renata mengerjapkan mata.Teringat,akan aktivitas yang harus mereka lalui.


"Astaghfirullah,Rania". Teriak renata panik,dia melepaskan pelukannya dari tubuh rania.Bangkit berdiri,kala melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 7.


"Ayo bergegas mandi,rania".Teriak Renata,sembari melemparkan handuk ke wajah rania.


Rania,tak kalah panik.Dengan kecepatan kilat,dia berusaha untuk lebih cepat masuk ke kamar mandi, melakukan mandi ekspres layaknya tentara.


Tak,butuh waktu lama hanya 10 menit saja,dia sudah selesai dengan baju seragam putih abu-abu nya,sembari menentang tas punggungnya.Siap menyongsong hati dengan semangat.