My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 43



"Pak,tunggu pak".Sekuat tenaga Renata mengejar pak Budi,meminta penjelasan atas ucapan nya yang tidak sepenuhnya dia mengerti.


Tapi,pak Budi tak memperdulikan pertanyaan renata yang sifatnya mendesak,ingin tau dengan maksud perkataannya padahal dengan jelas semua ada dalam gambaran dirinya.


"Diam-diam menghanyutkan"Kata pak Budi,melirik sekilas pada Renata dengan raut wajah bingung.


"M_"Belum sempat renata melayangkan pertanyaan,pak Budi melenggang pergi.


Bahkan Renata, sampai melongo tak percaya dengan apa yang di lakukan. oleh pak Budi.Main pergi begitu saja,di saat dirinya bertanya-tanya.


Renata memilih untuk ikut pergi meninggalkan ruangan rahasia mereka daripada dia mati kutu,diam dengan membawa rasa penasaran yang siap menikam nya secara perlahan.


Toh,masih ada banyak hal yang harus dia lakukan daripada berdiam diri, memikirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sendiri.


Bertepatan dengan dirinya keluar dari ruangan rahasia nya, langkah kakinya menapak diantara lantai dan juga udara, seperti mengambang diantara keduanya,di saat pikiran nya linglung,di saat itu pula tanpa sengaja dia menabrak tubuh seorang pria.


Bruk


Tubuh renata menabrak tubuh seorang pria, kakinya tersengal hingga tubuhnya hampir jatuh.Beruntung tangan pria itu menangkap tubuh renata sebelum tubuhnya mendarat sempurna di lantai.


Seketika tatapan renata bertemu dengan kornea mata pria yang menjadi karyawan baru,dia yang tak lain dan tak bukan adalah Noel Arga Winata.


Semakin lama Renata memandang wajah Noel,semakin dia teringat pada laki-laki yang dulu pernah hadir.Bukan,bukan dia yang membawa kebahagiaan dalam hidup nya tapi sebagai penghancur hidupnya.


Begitu pun dengan noel,sudah lama dia nantikan momen seperti ini.Saling pandang satu sama lain dengan wanita.Cantik seperti biasa.


"Kendalikan diri mu,Deon".Deon mencoba menyadarkan pada diri sendiri,agar tak melampaui batasannya.


Pikiran dan hati Deon tak sejalan hingga tanpa sengaja dia melepaskan pegangan tangan nya di tubuh renata.


"AW".Sontak saja,Renata mengaduh kesakitan begitu tubuhnya sudah mendarat dengan sempurna di bawah lantai.


Deon, gelagapan.Wanitanya tanpa dia sadari malah di jatuhkan ke lantai.Panik dan perasaan bersalah begitu menguasai diri deon.


"Heh,kalau gak niat nolongin.Gak usah pura-pura nolong".Gertak Renata,menatap penuh kebencian pada deon.


"Maaf saya tidak sengaja ".Kata Deon,sembari mengulurkan tangannya.


Renata,menatap wajah Deon,beralih menatap tangan Deon yang terulur, menatap wajah Deon lagi terus saja begitu.


"Gak usah".Dengan Renata,menangkis tangan Deon.Dia bangkit berdiri sembari menepuk-nepuk bokong nya.


Untuk menghindari rasa malu yang berlebihan,Deon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal menggunakan tangan yang tadi terulur untuk membantu renata.


"Gak usah jadi, pahlawan kesiangan ".Ledek renata."Anak baru gak usah belagu".Omel renata.


"Maaf".Hanya kata itu yang mampu terucap di bibir Deon.Kehadiran Renata di dekatnya seperti magnet,di dalam dirinya seperti ada magnet segitiga Bermuda yang siap menghilangkan benda-benda besi di sekitarnya.


Deon alias Noel,dia berdiri tak berkutik.Tadinya dia ingin bertanya lebih banyak,mengobrol bahkan berbasa-basi sampai nasi sudah menjadi bubur dan bubur tak bisa kembali ke bentuk semula.Tapi, seperti perkiraan nya.Renata seperti magnet segitiga Bermuda.


"Biasa aja natap nya".Gertak renata.Membuyarkan lamunan deon.