My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 92



Berpura-pura bodoh dan tak tau apa-apa itu adalah cara renata melindungi diri sendiri.Apalagi dia sekarang sudah seperti masuk ke kandang harimau,salah melangkah saja sudah menjadi sasaran empuk.


Deon,tersenyum sinis.Sedari tadi Renata hanya diam mematung,tak mengeluarkan sepatah katapun persis seperti patung liberty entah patung Pancoran,yang jelas dia tak menyukainya.


Merasa tertantang akan sikap diam Renata,Deon bangkit berdiri mendekati Renata yang berdiri tepat di hadapannya bak patung lilin, menyerupai manusia,namun yang berdiri di hadapan nya memang benar lah manusia.


"Aku tau,kau pasti mengenal ku kan?".Tanya lembut Deon,berbisik di dekat telinga renata.


Renata,tetap berdiam diri.Tak merasa terusik walau bisikan maut itu telah membangkitkan bulu kuduknya,begitu lembut terdengar di Indra pendengarannya.


Deon,mundur beberapa langkah merasa usahanya tak membuahkan hasil.Orang pendiam memang sulit untuk diajak bercanda apalagi ucapannya bisa satu frekuensi dengan nya.


"Kau ini mendengar ucapan ku atau sedang menjalankan peranannya?".


Diam


Renata,tetap terdiam masih sama seperti tadi.Tsk berniat mengucapkan sepatah katapun,hanya lirikan mata tajamnya yang mampu menjawab suasana hatinya,jika Deon peka.Tapi,Deon tetap lah Deon dia bahkan tak pernah mengerti isyarat tubuh wanita sama tidak mengerti nya dia terhadap kepergian Alifa,dulu.


"Dimana,pak Budi?".Sekian lama terdiam,Renata memberanikan diri bertanya.Toh,yang dia cari adalah pak Budi bukan pria di masa lalunya.


Deon tersenyum getir,jawaban renata bukanlah jawaban yang dia harapkan.Jawaban itu malah balas bertanya.Bertanya tentang orang yang bahkan semalam telah dia permalukan di hadapan kolega bisnis dan jajaran manager lainnya.


Deon,kembali duduk di kursi singasana nya.Orang pendiam seperti Renata,tidak mempan di ajak bercanda apalagi di baik-baik in,dia cenderung melawan ibaratnya di kasih hati malah minta jantung.


"Untuk apa kau menanyakan si tua Bangka itu?".


Deon, sampai-sampai terlonjak kaget.Gertakan Renata berhasil mengagetkan nya,tak pernah dia sangka dan tak pernah ada dalam pikirannya.Seorang pramusaji pendiam bisa menggertak dirinya.


Demi harga dirinya,Deon berusaha menyembunyikan rasa keterkejutannya atas gertakan Renata yang baru pertama dia lihat langsung.Setau nya Renata adalah sosok wanita periang dan manis bahkan tadi saja dia tersenyum begitu manisnya kepada Rania.


"Dia sudah seperti singa betina saja.Setisp Auman nya bak menggetarkan bumi dan langit".Kata Deon,membatin.


Renata,maju beberapa langkah menghampiri meja Deon begitu angkuhnya,tak menampakkan ketakutan sedikitpun seperti orang yang meminta pertanggungjawaban atas kehancuran hidup dan masa depannya.


3 tahun yang lalu,dia sudah mempersiapkan fisik dan mentalnya demi bisa bertemu dan menantang balik diri Deon yang dengan tega menghancurkan kehidupan nya.


Deon,tak kalah menantang diri Renata dalam tatapan tajam nya,dia juga sama seperti Renata.Hanya saja Deon meminta penjelasan atas kepergian renata yang tiba-tiba dan tanpa penjelasan sedikitpun padahal dia lah orang yang menyelamatkan nyawa Renata saat dirinya hendak melakukan percobaan bunuh diri.


"Apa itu cara mu, bersikap?".Tanya Deon,ada alasan khusus baginya bertanya pada diri Renata yang tak kunjung sadar juga.


Renata, menghentikan langkahnya.Tepat di samping Deon."Dan apakah itu cara mu,bertemu dengan orang yang bahkan kehidupan nya telah hancur sehancur-hancurnya".Hardik renata.


Deg


Kata-kata Renata seakan menyadarkan dirinya saat peristiwa 3 tahun yang lalu,dimana untuk pertama kalinya mereka bertemu di salah satu resto tanpa sengaja.Yah,tanpa sengaja mereka di pertemukan dalam situasi dan kondisi hati yang berbeda.Dimana Deon,saat itu sedang mengalami patah hati akibat di tinggal menikah oleh wanita yang di cintai nya.


....


hello guys,jangan lupa beri like, komen vote dan hadiah nya.. Terimakasih...