
"So,kamu kesini ingin membalas dendam?".
Renata tersenyum,kecut.Balas dendam,pasti ada dalam pikirannya bahkan saat dia mengetahui bahwa dirinya di blacklist dari perusahaan manapun termasuk resto yang sudah menjadi keahlian.
Bukan balas dendam, tepatnya dia ingin merasakan si tuan kuasa berada di posisinya.Tak di terima di perusahaan manapun,sedang dia membutuhkan banyak uang untuk biaya sekolah adiknya dan juga kesehatan ibunya yang semakin hari,semakin memprihatinkan.
3 tahun yang tidak sebentar untuk dia menantikan momen yang indah ini,bertemu dan membalaskan dendam nya.3Tahun lalu.
Renata,berbalik badan,membelakangi Deon yang menatapnya seakan menerima tantangan darinya.Sedari tadi,dia memang sedang berusaha menyembunyikan rasa keterkejutannya atas pertemuan tak sengaja nya dengan laki-laki penghancur masa depannya.
"Aku tanya sekali lagi?,apa kau berniat untuk membalas dendam terhadap ku?".
Di tanya untuk kedua kalinya oleh orang yang sama,padahal orang itu pasti sudah tau Jawaban pasti nya namun berpura-pura tidak mengerti.Renata,memejamkan matanya,sakit dia rasakan atas penderitaan yang dia alami.
Depresi hingga nyaris bunuh diri itu yang terjadi di 3 tahun yang lalu.Sekarang orang itu malah seenaknya bertanya seolah-olah dia tidak tau apa-apa.
"Kamu tanya,aku kesini untuk balas dendam?". Perlahan tapi pasti Renata,membuka matanya seiring rasa sakit itu semakin terasa menyakitkan.
Deon maju, menghampiri Renata.Hampir dekat dengan tubuh munggil renata yang seperti tulang belulang,tak ada isinya.
"Yah,aku bertanya pada mu.Renata".Sahut Deon,sembari memejamkan matanya.
Renata,menghela napasnya.Selama 3 tahun dia berharap bisa bertemu langsung dengan pria yang menghancurkan masa depannya,selama itu pula kebencian dan dendam begitu terpatri di dalam hatinya.
Dendam?, bahkan saat ini saja rasanya Renata ingin meninju wajah rupawan pria di belakangnya hingga tak bisa di kenali oleh siapapun dan merobek bibir nya yang seenaknya memerintah tanpa memperdulikan penderitaan orang lain.
Sekuat tenaga Renata,mencoba untuk meredam emosinya yang memuncak saat wajah pria ini benar-benar ada di hadapannya dan nyata untuk dia hancurkan seluruh anggota tubuhnya.
Renata tak menjawab panggilan Deon,sulit memang meredam emosi pada orang yang telah tega menghancurkan masa depan apalagi orangnya ada tepat di belakangnya.
"Dendam?,yah aku bahkan ingin menghancurkan setiap organ tubuh mu".Gertak Renata,berbalik badan berhadapan dengan Deon.
"Lakukanlah".
Tangan yang mengepal ke udara,mendadak dia turunkan.Tadinya saat itu pula dia ingin memukul wajah si tuan kuasa hingga babak belur,tapi tiba-tiba nyalinya menjadi ciut.
Deon,paham atas emosi dari Renata,tadi saja saat dia memalingkan wajah kearah renata,dia jelas begitu terkejut sekaligus emosi.Dapat Deon lihat, besarnya kebencian Renata terhadapnya.
"Kenapa diam?,kau ingin memukul ku?,meninju ku?,menampar ku?, silahkan Renata dengan senang hati aku menerima setiap pukulan dari mu".
Jelas saja,Renata mengurungkan niatnya toh Deon seperti orang yang berbalik menantangnya.Lihatlah diri Deon yang berteriak seolah menyalahkan dirinya,dan dirinya lah yang bersalah bukan diri Deon nya.
Geram dan kebencian yang luar biasa sekarang malah menjadi bertambah,dia kira di tuan kuasa ini akan mengakui kesalahannya tapi ternyata tidak.Dia sama saja seperti dia,3tahun lalu.
"Kau memang benar-benar menyebalkan".Gertak Renata, menggemelatukkan giginya sembari berlalu pergi.
Sedang,Deon hanya bisa menatap kepergian renata dengan penyesalan yang teramat dalam.Berharap dia bisa memiliki hatinya, nyatanya wanitanya menyimpan dendam dan benci terhadapnya.
Kebencian teramat besar,itu pula yang menyebabkan Deon tetiba menjadi emosi di buatnya.Harapan nya hanya tinggal harapan,menyesal pun tiada guna.
"Arghhhh".