My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 143



Deon,berdecak kagum atas keberanian dan insting petarung milik Rania.Satu yang dapat dia pelajari dari diri Rania,bahwa kita tak boleh menyerah pada keadaan.Tak hanya itu saja,tapi ini juga bisa menjadi pembenahan untuk anak buahnya.


Selama ini anak buahnya hanya makan gajih buta saja, bekerja saat dirinya ada dan bersantai saat dirinya tak ada.Pintar sekali mereka,tapi ternyata kepintaran dan bangkai busuk mereka tercium juga berkat kejadian kaburnya Rania dari basecamp nya.


Deon menoleh kearah Rendi dan Redi.Penjaga ruang cctv yang di jaga oleh di kembar.Namun,kalau dalam bekerja,terlihat profesional namun nyatanya mereka pemain handal.Pandai bermain-main dengan tuannya.


"So.."Deon, memainkan kursinya ke depan dan ke belakang."Pada saat kejadian,apa yang sedang kalian lakukan?".Tanya Deon, tanpa menoleh lagi kearah keduanya.


Rendi dan Refi saling pandang,jelas sulit menjelaskan apa yang sudah terjadi sebab tuannya sudah mengetahui fakta nya tanpa di jelaskan apalagi di beritahu.


"Gak usah main kode-kode an,kalian anak kembar sudah pasti tau satu sama lain karena faktor genetik".Sindir Deon.


Rendi dan Refi keduanya,duduk bersimpuh di bawah kaki Deon.Memohon ampun atas kelalaian yang sebenarnya tak sengaja mereka lakukan,jika seandainya mereka tak terbujuk oleh rayuan setan agar mereka ikut dalam kesenangan sesaat.


"Ampun tuan..Ampun".Ucap Rendi dan Redi,secara serempak.


Deon,tak menggubris permohonan ampun mereka.Dia sibak kaki mereka yang menyentuh kakinya dengan kakinya pula, memberikan jalan untuk dirinya pergi.


"Tak ada ampun untuk pekerjaan yang lalai seperti kalian!".Setu Deon,di ambang pintu.


Si kembar identik itu berdiri dengan kedua kaki yang bergetar hebat,takut akan menerima konsekuensi atas kelalaian mereka.Keduanya tak henti-hentinya saling pandang,saling menyalahkan satu sama lain seakan membela diri sendiri.


"Alah gak usah sok menyalahkan,kamu juga ikut senang kan?".Sahut Redi,tak mau di salahkan.


"Nasib ..Nasib..".Keluh Rendi


"Nasi sudah menjadi bubur dan bubur tak bisa kembali menjadi nasi, terima aja konsekuensinya".Sahut redi, dengan santainya dia melenggang pergi meninggalkan saudara kembarnya yang meratapi nasibnya.


.......


Rania, berjalan dengan tertatih-tatih sesekali dia menengok kearah belakang takut anak buah Deon mengetahui aksi kaburnya atau mungkin Deon yang sekarang ini tengah mencari keberadaan nya.


Rania,memang menggunakan pick up sebagai jalan untuk meloloskan diri tapi dia memutuskan untuk turun dari pick up yang membawanya pergi jauh,suatu kebetulan atau memang keberuntungan selalu memihak padanya.Mobil pick up itu berhenti kala dalam hatinya berkomat-kamit memohon agar mobil pick up itu terhenti.


Do'a Rania ternyata terkabulkan, harapan demi harapan nya di kabulkan oleh sang pencipta.Dalam hati pula Rania tak henti-hentinya bersujud syukur atas dirinya yang bisa meloloskan diri dari sangkar besi milik si tuan kuasa.


Bersiap untuk melepas rindu dengan sang kakak dan bisa berkumpul kembali dengan Renata yang selama ini dia ingin ceritakan satu persatu kejadian yang sebenar-benarnya tanpa ada yang di lebihkan atau di kurangi dalam cerita versi nya.


Tapi, bersamaan dengan itu Rania masih di hantui oleh bayang-bayang Deon.Takut jika dirinya akan di ketahui oleh Deon,apalagi dia belumlah jauh dari basecamp Deon yang hanya di huni oleh penjaga nya bukan mansion mewahnya yang terletak di luar negeri bukan pula istana megahnya yang ada di kawasan perumahan elit dan megah.


"Ya Allah,bantu aku untuk bertemu kembali dengan kakak ku".Do'a Rania sebelum kembali melangkahkan kaki.