My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 75



Dia akui memang dia belumlah pernah melihat atau bahkan bertemu dengan pemilik asli cabang resto ini,tapi kata-kata Noel seakan-akan dialah pemilik asli dari cabang resto yang sedang menyamar demi mengetes karyawan dan bawahan nya selama dua tidak ikut memantau cabang resto nya sendiri.


Pak Budi jadi paranoid sendiri,takut jika memang benar Noel lah pemilik asli dari cabang resto yang di kelola oleh dirinya sendiri.


Berbagai pikiran negatif begitu berkecamuk dalam kepala pak Budi.Harap-harap cemas dia menepis segala pikiran negatifnya.Tapi,semakin di lupakan,malah semakin terus terngiang-ngiang bak suara nyamuk yang berdenging di Indra pendengaran.


'Kau hanya seorang manager,kau juga sama seperti mereka mendapatkan gajih dari CEO'.


'Apa kau tau wajah pemilik asli cabang resto ini'.


Kata-kata Noel tak pernah hilang dalam pikiran pak Budi,merusak mentalnya,merusak Indra pendengaran nya.Andai bisa,pak Budi memilih lebih baik dia memutar kembali waktu yang telah terlalui.Akan lebih bijaksana dalam bersikap dan menjaga tutur kata.Namun,waktu yang sudah terlalui tidak akan pernah bisa di putar kembali apalagi bisa di lalui.


Sayangnya kisah hidupnya nyata bukan seperti cerita dongeng-dongeng pengantar tidur bukan pula seperti film kartun kesayangan 'Nobita dan Doraemon ',yang bisa mengubah waktu, memutarnya bahkan kita bisa masuk ke dalam masa depan dengan menggunakan mesin pengatur waktu.


Bukan,bukan seperti itu hidupnya.Tapi,sebuah kisah yang hanya di lakukan dan di jalani sekali saja dalam umurnya yang entah sampai kapan.


Pak Budi,duduk kembali di sandaran kursi kebesarannya.Mengatur ritme napas yang tersengal-sengal bukan karena sudah melakukan lari maraton,tapi kata-kata Noel telah meresahkan nya.


Pak Budi mengatur napasnya,mencoba menenangkan diri pada pikiran yang kusut dan berprasangka yang aneh-aneh.


"Semoga, ucapan nya tak benar dan dia hanya laki-laki gila penuh ambisi dan kekuasaan hingga menyebabkan dia stress dan mengaku sebagai pemimpin cabang resto ini".Harap pak Budi,kini pikiran nya kembali tenang.Di tenangkan oleh praduga nya sendiri.


"Selamat pagi Paman ku sayang".Teriak Renata,tak tau situasi dan kondisi sekali.


"Re-Na-Ta".Saking kagetnya pak Budi hingga berbicara pun sampai terbata-bata.


"Kenapa paman?".Tanya renata, dengan polos nya dia malah duduk di hadapan pak Budi, begitu anggunnya.


Pak Budi,menghela napasnya.Jika,saja dia bukan keponakan nya sudah di pastikan orang itu akan mendapatkan sebuah Omelan pedasnya.


Tapi,berhubung renata merupakan keponakannya,mau tak mau dia harus bersabar.Memasang senyuman palsu untuk keponakan tercintanya,yang di tinggalkan oleh kedua orang tuanya dengan memikul beban di pundaknya yang tak sedikit.


Senyuman penuh kepalsuan dia berikan demi mengalihkan perhatian renata."Selamat pagi juga, keponakan ku tercinta".Senyum mengembang begitu merekah.


Renata, sampai-sampai mengerutkan keningnya.Pasalnya pamannya tak biasanya tersenyum begitu lebarnya hingga menunjukkan deretan gigi-gigi putihnya.


'Paman aku kenapa nih?,kesambet setan kali yah'.Gumam Renata,membatin.


Pak Budi bangkit berdiri,berpindah posisi duduknya menjadi di samping Renata,senyuman nya tak lepas dari bibirnya."Ada gerangan apa kau datang kemari?". Tanyanya.


"Kenapa?, biasanya aku selalu kesini di setiap pagi".Tanya balon Renata,semakin di buat heran saja.


'Mati,aku.Kenapa pula aku sampai lupa?'.Gumam pak Budi,membatin.