My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 106



Renata begitu terkejut bukan main, kata-kata dari orang di sebrang sana begitu menohok dan menghujam jantung nya.Perasaan nya dia hanya sekedar bertanya tentang keberadaan adiknya bukan berkaitan dengan masalah politik apalagi masalah yang baru-baru ini terjadi.


Perlahan tapi pasti Renata menempelkan kembali ponselnya di dekat telinga nya.


"Aku menghubungi mu bukan untuk menanyakan apalagi mengalihkan perhatian,aku hanya sekedar bertanya tentang adik ku.Bukankah kau semalam yang mengirimkan foto adik ku?,apa salah aku bertanya pada mu?,apa salah aku meminta penjelasan dan klarifikasi dari mu?".Terbawa suasana,Renata tanpa sadar terus memberondong nomer yang ternyata seorang laki-laki di sebrang sana.


[ "Tanyakan itu pada adik mu sendiri,aku tak punya waktu untuk menjawab pertanyaan receh mu itu".]


"Aku ha_".Belum sempat renata menyelesaikan ucapannya, panggilan di putus secara sepihak.


Renata banting ponselnya ke lantai hingga tak beraturan.Emosinya kembali memuncak kala pria di sebrang sana main memutus panggilan nya secara sepihak.


"Bangsat,orang gila loe".Umpat renata, hidungnya kembang-kempis tak kuasa menahan amarahnya.


Dia tarik napasnya, menghembuskan napas nya secara perlahan,tarik lagi, hembuskan lagi terus saja begitu.Jika menurutkan perasaannya dan terbawa emosi, bisa-bisa dia naik darah bahkan terkena serangan jantung.


Ibaratnya di kasih hati malah minta jantung, dirinya sudah baik-baik bertanya malah mendapatkan respon yang tidak menyenangkan.


Renata duduk sembari memeluk lututnya, tangisnya menjadi pecah membayangkan kejadian yang tak seharusnya terjadi dan yang di waspadai nya terjadi.


Dia sudah merasa gagal menjalankan amanah orang tuanya untuk selalu menjaga adiknya,menjaga kehormatan dan juga masa depan adiknya.


Di balik pintu kayu dapat Rania dengar suara tangisan dan teriakan frustasi dari kakaknya.Yah,Rania sudah pulang 10 menit yang lalu di saat dirinya sudah merasa baik.


Dia yang hendak mengetuk pintu mendadak mengurungkan niatnya.Kembali menarik tangan nya yang tergantung di daun pintu demi mendengar suara tangisan dan teriakan frustasi renata.


Dia tak berani masuk ke dalam,sebab sudah pasti dirinya akan di cecar dengan banyak pertanyaan dan dia takkan mungkin sanggup menjawabnya apalagi menghadapi amukan Renata.


Perlahan,Rania melangkahkan kaki mundur selangkah demi selangkah agar tak menimbulkan suara sedikitpun.Dia belum bisa bertemu dengan Renata,belum saat ini,belum waktunya dia bertemu dengan renata.


Pada langkahnya yang entah ke berapa,Rania berbalik badan dan berlari sejauh mungkin tanpa tujuan dan tanpa arah sembari menangis dalam usahanya berlari sejauh mungkin.


"Maafkan aku,kak".Gumam Rania,terus berlari tak tentu arah.


Dengan memakai baju seragamnya,tak lagi menggunakan pakaian minim kurang bahan dan sepatu high heels penyiksa kaki nya.Rania terus melangkah pergi seiring air matanya yang mengalir deras.


Tak pernah ada dalam bayangan nya hidupnya seperti ini,niat hati ingin membantu kakaknya mengumpulkan pundi-pundi uang demi bertahan hidup,malah berakhir mempermalukan kakaknya dengan kelakuannya sendiri.


Rania,si bocah polos tanpa orang tua dan hanya tinggal bersama kakaknya dengan membawa masalah yang begitu besar,dia menyusuri jalanan gang sempit dengan Isak tangisnya yang tak terbendung.Sesekali langkah kakinya harus terhenti karena kelelahan,berjalan kemanapun kakinya melangkah yang terpenting dia tidak bertemu dengan kakaknya,bukan tidak ingin tapi belum saatnya.


"Arghhh".Teriak Rania,diantara deru mesin knalpot dan deru mesin mobil yang saling bersahut-sahutan,membalas kebisingan dan berlomba-lomba dengan suara angin yang berhembus kencang, memberikan kesegaran di panasnya kehidupan di ibu kota.