
Renata,tentu dia bisa berada di ruangan Deon dan tanpa sengaja mendengar nama adiknya beserta dengan kata-kata ancaman belum lagi kata-kata pedas terlontar dari bibirnya.
Dia tak mempercayai apa yang dia dengar dari mulut busuk pria yang sudah menghancurkan kehidupan nya,3 tahun yang lalu.Sekarang,sekarang dia mengincar adiknya sebagai umpan nya untuk mendapatkan dirinya.Yah, mendapatkan dirinya.
Renata,yang siang tadi mendapatkan perintah untuk mengantarkan makanan untuk big boss mereka dari Sarah.Si wanita centil yang mencintai Deon.
Meski,dia ogah-ogahan mengantarkan makanan untuk big boss nya tapi demi profesionalitas nya mau tak mau Renata menuruti perintah Sarah dengan harapan dia mendapatkan jawaban atas teka-teki misteri kepergian dan kepulangan Rania yang mendadak dan perubahan sikap Deon meski sekilas tapi mampu dia lihat dengan mata kepala sendiri.
"Demi mengungkap sebuah misteri yang belum terpecahkan".Gumam Renata,sembari melangkahkan kaki siap pergi menuju ruangan Deon.
Tok...Tok...Tok
Dengan membawa keberanian yang mumpuni dan siap dengan segala resiko yang ada.Renata,mengetuk pintu ruangan Deon.
Ketukan tangannya di daun pintu tak mendapatkan sahutan dari dalam.Lama Renata,menunggu sebuah jawaban yang pasti dari dalam ruangan.
Tak ada.Tak ada, jawaban dari dalam meski dia sudah menunggu dengan waktu yang lama hingga kakinya terasa pegal dan kesemutan.Sup jagung panas pun kini menjadi dingin di terpa angin lalu.
"Ada orang gak sih di dalam kandang singa ini?".Keluh Renata,mengomel panjang lebar.
Renata, menyimpan nampan berisi menu makanan yang di pilihkan Sarah untuk Deon ke atas meja samping pintu masuk.Dirinya mengintip ke dalam ruangan,melalui jendela yang terbuka.
"Pantesan gak di dengar,ternyata dia sedang asyik mengobrol di telpon".Kata Renata,yang mengintip ruangan Deon melalui kaca jendela.
Renata,kembali berjalan menuju nampan yang dia simpan diatas meja.Dia bukannya patuh terhadap perintah Sarah tapi dia tentunya tidak ingin menjadi orang yang khianat karena tak amanah hanya di titipin sebuah nampan yang isinya tak seberapa.
Dia berjalan masuk ke dalam ruangan Deon, tanpa memperdulikan jawaban dari si pemilik ruangan.Toh,dia juga sudah mengetuk pintu sebanyak 3 kali.
Klek
Renata, berjalan dengan mengendap-endap seperti seorang maling yang memasuki rumah targetnya.Hati-hati sekali,tanpa mengeluarkan bunyi sekecil pun agar tak menganggu obrolan Deon di balik ponsel pintarnya.
Sayup-sayup Renata, seperti mendengar suara nama adiknya yang menangis ketakutan lewat suara telpon yang tak begitu jelas dia dengar.
Deon,pun terdengar seperti tak henti-hentinya mengintimidasi lawan bicaranya yang di sertai dengan ancaman.
"Rania Kusuma Atmaja".
Deg
Begitu jelas Deon menyebutkan nama adiknya beserta dengan nama dirinya,begitu jelas pula dia memberikan sebuah ancaman dan menghubungkan nya dengan kehidupan nya sendiri.
Ternyata benar, kepergian Rania yang menjadi misteri dan kepulangan nya pun yang mendadak ada sangkut-pautnya dengan Deon.
Deon lah dalang di balik semua yang terjadi pada Rania.Renata, mencengkram ujung nampan dengan sangat kuat.Kebencian dan kemarahan jelas terlihat di pelupuk matanya yang memerah.
Deon,tak menyadari keberadaan Renata,dia terus asyik mengomel di sertai dengan ancaman dan kata-kata pedas yang dia lontarkan untuk lawan bicaranya di sebrang sana.
"Jika,Rania mengadu pada ku?,apa yang akan terjadi padanya dan kepada ku?".Renata yang terbakar api kemarahan, rasanya tak kuat terus berdiam diri di kala Deon terus-menerus mengancam Rania.
Deon,yang asyik menelpon pun terhenti di kala suara seorang wanita menginterupsi suara betisi ancamannya.
Deon,berbalik badan demi melihat suara seorang wanita yang bertanya pada dirinya di sertai dengan kemarahan yang terselip lewat pertanyaannya.
Deg
Terkejut,itu kata yang pertama yang mewakili perasaan Deon terhadap keberadaan Renata yang tiba-tiba ada di hadapannya.