
Kedua,kakak beradik ini saling merangkul untuk mengurangi beban masalah,saling menguatkan dan saling menumbuhkan perasaan diantara sesama nya.
"Kau adik ku yang paling aku cintai dan aku sayangi".
"Kau juga,kakak ku yang aku cintai dan aku sayangi, selamanya akan tetap seperti ini".Rania dengan antusiasnya memeluk dan berucap seperti takut kehilangan.
Pelukan di pagi hari seperti candu dan penyemangat Renata dalam menjalani hari-harinya,terlepas itu banyak masalah yang menghimpit datang silih berganti, bahkan 3 tahun yang lalu dia pernah melakukan percobaan bunuh diri.
"Jadilah adikku,penyemangat hidup ku di kala masalah datang silih berganti".Gumam Renata di angguki oleh Rania.
"Pasti,akan aku usahakan kak".Sahut Rania.
Pelukan kali ini tak membuat keduanya terlena akan rutinitas yang akan mereka lalui,tak seperti kemarin-kemarin.
Rasa lega seperti minum air mineral le-mineral,begitu plong,terasa ada manis-manis nya.Begitu pula dengan Renata,plong saat pelukan itu terasa seperti penyemangat hidup nya.
Renata membereskan piring dan gelas bekas mereka pakai,tak lupa mencucinya sampai bersih sebelum keduanya berangkat menuju tempat tujuan masing-masing.
Klek
Bunyi pintu terbuka dari dalam,di buka oleh Rania bukan lagi oleh Renata.Bermaksud berjaga-jaga kalau-kalau kejadian kemarin akan terulang kembali,melindungi kakaknya dari amukan massa yang termakan fitnah keji tanpa bukti.
Tapi,yang di lihat oleh rania bukan lah coretan tulisan'pelakor' dan tulisan-tulisan lainnya yang menghina sang kakak, halaman rumah kontrakannya sekarang sudah bersih jauh dari kata kotor.Bahkan Rania sendiri sampai melongo,tak percaya.
"Lah,kok bersih?".
"Kamu yang membersihkan nya dek?".
Rania, menggeleng-gelengkan kepala."Bukan aku kak,aku mana sempat".Kilah Rania.
Belum sempat keterkejutan mereka dan rasa penasaran mereka terkejut.Tiba-tiba datang segerombolan ibu-ibu biang gosip datang menghampiri mereka sambil menundukkan kepala mereka, seakan ada penyesalan dalam diri mereka.
"Renata,Rania".Kata salah satu ibu-ibu sembari menghampiri Renata."Atas nama ibu-ibu,saya mewakili mereka".Ibu itu menjeda ucapannya, mengangkat kepalanya yang sedari tadi terus menunduk,tak berani menatap wajah Renata.
Renata,di buat bingung dengan sikap ibu-ibu yang kemarin-kemarin sempat menghujatnya bahkan melempar buah-buahan busuk pada dirinya,kini tertunduk diam membisu seperti orang yang menyesal.
Ibu itu,bersimpuh di hadapan renata menundukkan kepala begitu memprihatinkan."Maafkan kami Renata,atas perlakuan dan juga ucapan kamu yang tak pantas dan bahkan menghina mu tanpa bukti".Kata penyesalan dan tulis dari ibu itu begitu menarik simpati Renata.
"Ak_".Belum sempat renata berucap,Rania menarik tangan renata.
Pergi sejauh mungkin,tak memperdulikan tatapan bersalah mereka bahkan rela menjatuhkan harga diri mereka hanya demi mendapatkan kata'maaf'dari Renata,tapi dengan seenaknya Rania menyeret paksa tangan renata.
"Ra,mereka ingin mengucapkan_".
"Sttt"Rania menempelkan jari telunjuknya di bibir Renata."Jangan banyak bicara dan yah, sebaiknya kakak jangan mudah tergoda oleh ucapan palsu mereka yang mengiba".Jelas Rania,menahan rasa kesalnya.
Renata, bergeleng-geleng kepala.Tak di sangka nya sang adik bisa bersikap seperti itu melebihi dirinya.
"Benar kata orang, jangan membuat orang sabar karena diamnya orang sabar seperti angin dan marahnya orang sabar seperti air yang mengalir,yang siap menghantam".Gumam Renata,tersenyum bangga.