
Helaan napas kecewa dan juga tatapan yang sayu mereka jelas menggambarkan kekecewaan mereka.Selama 2 jam mereka di buat menunggu,tapi big bos mereka malah asyik dengan layar laptopnya, seakan tak menghargai keberadaan mereka.
Pak Budi,dia tidak merasa kecewa seperti kebanyakan tamu undangan.Hatunya berlalu begitu kencangnya, takut-takut itu akan mempengaruhi jabatannya sebagai manager, bagaimana lah nasib ke depannya,yang lebih di khawatirkan nasibnya sama seperti keponakannya.
Dalam hati,dia beberapa kali dia menyanggah bahwa sosok berkharisma dan tampan di hadapannya bukanlah bog bos yang mereka nantikan, beberapa kali juga dia harus bergelut dengan akal logikanya tentang kebenaran yang mungkin akan segera dia dapatkan.
"Yang di depan itu Deon Artama,big bos kita sedang yang ada di sampingnya adalah Bram Bramasta,asisten pribadinya".
Entah sumber suara darimana,tapi penjelasan itu seakan menjatuhkan mentalnya.Susah payah dia menyanggah tentang kebenaran, seenaknya orang itu malah menjelaskan yang tidak seharusnya.
Pak Budi,menoleh pada sumber suara yang tadi memperkenalkan kedua pria yang ada di depannya, bermaksud meminta penjelasan tapi saat dia hendak ingin melontarkan pertanyaan pada pria yang duduk tak jauh darinya,suara berat nan lantang begitu terdengar.
"Selamat malam semua".Sapa Deon,masih duduk di kursinya.
Semua tamu undangan mengarahkan pandangan mata mereka ke sumber suara yang mana,suara itu bersumber dari Deon.
"Selamat malam juga".Sapa balik mereka, serempak.
Deon tersenyum,sinis.Dia tak berniat lagi untuk mengucapkan sepatah dua patah kata, menjeda nya terlebih dahulu.
Dia perhatikan raut wajah para tamu undangan, terkhusus untuk pak Budi saja.Yah,hanya pada pak Budi,tidak pada yang lain.
"Kau telah berani mengusik dan menghina ku,maka lihat dan saksikan sendiri pembalasan dari ku".Gumam Deon,tersebut smirk.
"Selamat malam dan selamat menikmati jamuan malam yang ada.Disini saya berdiri dan sengaja mengundang kalian disini,di acara spesial ini dan pada kesempatan langka ini".Tanpa basa-basi Deon,langsung berbicara pada intinya,tak ingin terus berbasa-basi yang ujung-ujungnya sudah basi.
Para tamu undangan yang tadinya sudah menghela napas kecewa,kini pandangan mereka seakan menatap memuja pada sosok Deon yang berkharisma dan juga tampan kendati sikapnya memang dingin dan tak peduli kepada mereka yang hanya sebatas bawahannya saja.
"Disini,saya ingin menceritakan sedikit pengalaman saya yang tidak mengenakkan dari seorang manager sombong dan arogan".Jelas Deon lagi.
"Manager itu berasal dari cabang resto yang ada di daerah Pluit".Deon,menjeda sebentar penjelasan nya,dia tatap wajah pak Budi yang semakin menunduk.
Sementara tamu undangan, mereka saling bertanya pada satu sama lain tentang sosok manager yang berada di daerah Pluit.Kasak-kusik jelas terdengar riuh rendah, memekakkan telinga.
"Diam!"Seru Deon,sembari mengangkat tangannya ke udara.
Suara riuh rendah bak segerombol lebah itu kini terhenti,hanya keheningan dan kesunyian menyelimuti ruang aula resto yang begitu dingin tapi tidak dengan pak Budi.Dia merasakan panas di sekujur tubuhnya,apalagi hatinya.
Dia bahkan sampai melonggarkan dasinya,demi meredam hawa panas yang menyebabkan kala kata demi kata begitu terlontar dari mulut deon.
Hatinya was-was dan cemas,takut Deon membocorkan sikap dan perilakunya terhadap dirinya yang bersikap arogan dan bahkan menuduhnya sebagai penyusup di resto nya sendiri.
"Tuhan,selamat hidup ku,karir ku dan masa depan ku".Harap pak Budi.