
"Re-Renata".Ucap Deon terbata-bata,antara terkejut dan tak percaya.Wanita pujaan hatinya dengan tatapan tajam nya,malah berdiri tepat di hadapannya.
Renata,tersenyum kecut lalu kemudian melenggang pergi, meninggalkan Deon dengan seribu tanya.
"Wanita itu?".Deon,tak habis pikir dengan penglihatannya sendiri.Renata,yang tadi tak nampak terlihat malah menyindirnya seakan dia jual mahal.
Deon, bergeleng-geleng kepala sembari tersenyum.Menertawakan kebodohannya,jelas Renata tak terlihat toh dia berdiri paling belakang seakan tengah mengamati gerak-gerik nya.
"Hah,untung aku tak bersikap berlebihan".Deon menghela napasnya, bersyukur pada diri sendiri yang mampu mengendalikan diri sendiri dari tatapan fans fanatiknya.
Deon,kembali melenggangkan kakinya menuju ruangan nya.Ada banyak hal yang harus dia lakukan,dari mulai memeriksa berkas, melakukan meeting daring hingga kesiapannya dalam mengungkapkan perasaannya pada renata.Wanita,pendiam.
Deon, berusaha untuk fokus melakukan pekerjaannya tapi bayang-bayang wajah cantik renata terus menghantui dirinya, membuyarkan konsentrasi nya dalam bekerja.
Dalam meeting daring pun,dia banyaknya diam, sesekali bengong, terkadang tersenyum tanpa alasan membuat kolega bisnisnya menatap penuh kebingungan.
Ingin rasanya menegur,tapi tak berani.Ingin rasanya memaki-maki tapi masih sayang keluarga.
Deon,tentu tak menyadari raut kesal dan tatapan penuh tanya dari kolega bisnisnya.Toh,dalam pikirannya terpenuhi oleh wajah cantik renata.
"Renata".Gumam Deon,seraya tersenyum di kala meeting masih berlangsung.
"Maaf pak".Sahut kolega bisnis Deon."Nama saya Reyhan bukan renata". Sanggahnya, membenarkan ucapan Deon yang mengumamkan nama renata.
Deon,terlonjak kaget tersadar dirinya masih sedang melakukan meeting dari g dan ada seorang yang memperhatikan nya di balik layar.
Deon, melonggarkan dasinya untuk menetralisir rasa gugupnya dan malu yang luar biasa karena ketahuan menyebutkan nama perempuan.
"Gak papa,mungkin bapak hari ini sedang bahagia karena wanita itu.Benar begitu pak?". Tanya kolega bisnis Deon,menelisik.
Deon, tak menjawab pertanyaan koleganya.Tak penting menurutnya,sebab masalah pribadinya adalah privasi yang harus dia jaga.
"Tak penting,lebih baik kita lanjutkan meeting Kuta".Ucap Deon dengan lantangnya.
Meeting kembali di lanjutkan dengan agenda pembahasan masalah dan cara mengatasinya, beberapa poin demi poin di lontarkan oleh Deon dan kolega bisnisnya bahkan terjadi debat alot diantaranya.
Sekitar 1-2 jam meeting itu berlangsung hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang,dimana pada jam seperti ini karyawan nya sedang beristirahat.
Kring ..Kring...Kring
Bel,tanda istirahat di mulai begitu nyaring berbunyi.Tak semua, hanya beberapa sengaja di berlakukan shift pembagian istirahat agar semua bisa terkendali.
Deon,yang teringat akan rencananya semalam yang dia buat sematang mungkin dan beberapa pertimbangan yang ada.Dia, buru-buru sekali keluar dari ruangannya.
Deon,mencari keberadaan Renata kesana-kemari dengan bunga mawar merah berada di tangan kanannya dan di saku celananya sudah dia siapkan sekotak cincin berlian berharga fantastis untuk dia persembahkan pada seorang renata.
Di kejar waktu,takut waktunya keburu habis Deon mencari keberadaan Renata dengan setengah berlari di kejar waktu dan target.
Tak ada,tak ada dimana-mana.Sosok Renata seakan raib di telan bumi padahal resto nya tak terlalu besar.
"Dimana dia?".Wajah bingung dan frustasi begitu terlihat di wajah tampan Deon yang bersih dan mulus tanpa noda.