
Mata bertemu mata,jelas dia Tara kedua kornea mata mereka seperti menabuh genderang peperangan.Itu hanya berlaku untuk Renata saja,sedang untuk Deon.Matanya saja seperti menatap Renata dengan mengeluarkan kilat kebencian,tapi yang terjadi jauh di lubuk hatinya dia menginginkan renata.
Renata nya yang dulu periang,penakut dan patuh.Bukan Renata yang sekarang, banyaknya diam dan sekalinya bicara langsung menghancurkan mental seseorang.Bukan Renata yang dalam kilat matanya terdapat kebencian,bukan.Bukan renata nya yang sekarang,tapi Renata yang dulu.
Deon, menurunkan pandangannya tak berani menatap lama-lama wanita yang dalam hatinya masih tersimpan.
"Kenapa?,udah perih mata kamu?".Sindir Renata.
Deon, mengangkat pandangan nya.Menoleh kearah Renata yang seakan menantang dirinya dengan beribu-ribu kekuatan yang entah darimana dia dapatkan selama ini.
Tak ingin menambah luka hati untuk wanitanya apalagi sampai membuatnya membencinya,Deon melenggang pergi tanpa mengeluarkan kata sepatah pun.
"Apa itu yang kamu lakukan?".Tanya Renata."Apa itu cara kamu bertemu dengan orang yang telah kau hancurkan masa depannya?".
Deg
Deon yang memilih tak menggubris perkataan Renata,mendadak menghentikan langkah kakinya.
"Apa itu yang kamu lakukan setelah berhadapan langsung dengan orang bahkan dia tak mampu menatap dunia?".Semakin kesini,semakin berani saja Renata mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini tersimpan di relung hatinya.
Perlahan tapi pasti,Renata terus melangkah menghampiri Deon yang tak jauh darinya.Walsu keringat dingin dan kakinya bergetar hebat seiring langkah kaki nya terus melangkah maju menghampiri pria yang telah menghancurkan masa depannya,Renata tetap kuat tak gentar meski mungkin dia harus kembali mendapatkan tatapan tajam darinya.
Deon,masih berdiri mematung.Dia mencoba mendengarkan segala keluh kesah yang mungkin ingin di sampaikan sejak 3 tahun terakhir dan mungkin itu pula yang menjadi alasan terbesar di balik sikap diamnya.
Renata,maju ke depan Deon.Tatapannya tak kalah tajam dari tatapan Deon,tadi."Aku tau diri mu, bahkan kau menyamar pun aku mampu mengetahui indentitas mu.Deon Wilson".Gertak Renata,sembari menunjuk wajah Deon.
Deon,tetap diam tak terganggu apalagi takut.Diw menatap Renata tanpa ekspresi,dingin sikapnya dan tatapan nya tak mudah di tebak oleh lawan bicaranya.
Hidung Renata kembang-kempis akibat menahan emosi yang selama 3 tahun terakhir tak tersalurkan pada orang yang tepat,ia membeku dan mendiami seluruh hati renata.
"Kau sudah bertemu dengan orang yang telah menghancurkan hidup mu,lalu apa yang ingin kamu bicarakan?,apa yang ingin kamu tuntut atas diri kamu yang kata kamu tak mampu menatap dunia?".
Plak
Pertanyaan di balas dengan tamparan keras di pipi kanannya.Renata lah pelakunya,dia menatap Deon dengan penuh kebencian.Tak menyesal sudah menampar atasannya.Tak peduli baginya, dendamnya sudah sedikit terbalaskan,hanya sedikit dan masih banyak sisa amarahnya yang belum dia keluarkan.
Deon,mengelus pipi kanan yang mendapatkan salam dari tangan mulus sedikit kasar milik si pramusaji pendiam.Dia terkekeh,antara terkejut dan tak percaya dengan aksi berani Renata.
"Jika kekerasan mampu melampiaskan segala emosi dan amarah mu?,maka keluarkan renata.Ayo,tampar sekali lagi".Tantang Deon,sembari mengarahkan pipi kirinya ke hadapan renata.