My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 114



Sementara Deon, membiarkan Renata terduduk di sofa nya.Dia kembali melanjutkan pekerjaannya di balik layar.Memantau perusahaannya dan juga keberhasilan serta pencapaian perusahaannya melalui statistik pencapaian di layar laptopnya.


Dia kembali fokus tanpa menyadari akan keadaan Renata yang sudah kembali normal.Tak seperti tadi,dimana dia terduduk lemas dengan pikirannya yang entah kemana.


"Lah kok aku disini?".Renata mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah.


Semakin di perhatikan,dia malah menjadi khawatir sendiri pada dirinya sebab dia berada di ruangan Deon tanpa ada orang lain.Hanya dia dan Deon saja di ruangan besar nan berAC ini.


Renata menatap kearah bajunya,takut dia di lecehkan di saat dirinya tidak sadar.Buru-buru renata, memeriksa kelengkapan pakaiannya.Bajunya masih yang tadi,celana,sepatu kesemuanya masih lengkap dan yang tadi.


"Tenang saja,aku bukan laki-laki mesum seperti yang ada dalam pikiran mu".


Suara berat nan lembut itu, menyadarkan Renata akan kekhawatirannya.Dia menoleh pada sumber suara yang menatapnya tanpa ekspresi.


"Terus".


Deon,terkekeh.Dia tadi memang fokus dengan layar laptop nya,tapi fokusnya hilang saat ekor matanya tak sengaja melihat pergerakan Renata yang seperti mencemaskan sesuatu.


Deon,sengaja membiarkan Renata sibuk dengan pikirannya sendiri.Tiba-tiba Renata memeriksa kelengkapan pakaiannya.Jelas,dia tak terima di tuduh laki-laki mesum nantinya.


"Terus".Kata Renata lagi, seakan menantang diri Deon.


Deon, bangkit berdiri untuk menghampiri renata yang masih terduduk dengan kebingungannya sendiri.


Deon, mencondongkan badannya tepat saat dirinya berada di depan renata."Tenang saja,kau tidak akan bernasib sama seperti Rania".Jelas Deon.


"Haha..Haha".Tawa membahana dan menggelegar begitu jelas terdengar.


Renata, ketahuan memiliki pikiran negatif tentang Deon.Rasa kesal dan malu, membuatnya pergi sejauh mungkin.Dia tak henti-hentinya merutuki diri sendiri atas kebodohannya apalagi dia ketahuan oleh orang nya langsung.


"Bisa-bisanya aku berpikir seperti itu.Kalaupun iya,juga buat apa?".Gerutu Renata,tak henti-hentinya dia menyalahkan diri sendiri.


Renata kembali melanjutkan pekerjaannya hingga selesai,hingga saat itu pula kabar dari Rania belum dia dapatkan.


Di malam sunyi dan sepi,Renata kembali berjuang untuk bisa sampai ke rumah sewanya dengan membawa kegelisahan dan kekhawatiran yang sejak kemari mengisi pikiran nya.Rania belum ada kabar,apalagi pulang.


Dia harus kembali berjalan kaki,bukan tidak ada yang menawari tumpangan bahkan Alek dan Fahri belum menyerah hanya agar Renata pulang bersamanya.Tapi,lagi Renata selalu menolaknya.


Yah,menolak untuk kesekian kalinya ajakan mereka.Toh,sama aja dengan bahaya yang mengintainya di jalanan suatu saat nanti.Mungkin.


Langkah demi langkah dia susuri jalanan yang tak asing lagi baginya.Diantara pikiran nya tentang Rania,dia teringat akan ucapan Deon tadi siang.


"Apa tadi dia bilang?,nasib ku tak akan sama seperti Rania?".Renata menjeda ucapannya."Jangan. Jangan..Dia tau lagi masalah Rania atau mungkin.."Renata kembali menjeda ucapannya, berbagai pikiran negatif berkecamuk dalam diri Renata.


Pikiran dan hatinya tak sejalan.Pikirannya mengatakan iya,tapi hatinya menolak seakan ada perasaan lain yang tertuju pada Deon.


Renata, menghentikan langkah kakinya."Ini tidak mungkin kan?".Renata berusaha menyanggah pikiran nya tentang keterlibatan Deon atas musibah yang menimpa Rania."Apa sebenarnya motif dia?,apa mungkin iya benar dia dalang di balik semua ini?".