
"Deon".
Pria yang di panggil Deon,tersenyum.Tidak membenarkan,tidak pula membantah dirinya bernama deon.Hanya ulasan senyum yang dia berikan untuk wanita dengan pakaian sedikit lusuh.
"Nama dia Noel,bukan Deon".Sentak Sarah, menghalangi pandangan renata.
"Maaf,aku gak tau".
"Gak papa".Sahut pria itu,masih tersenyum manis kepada renata.
Sarah yang tak suka Renata berada dekat dengan karyawan baru yang meski terlihat culun tapi masih ada sisi gantengnya.Membelakangi Renata,memutus tatapan Noel terhadap renata.
"Sebaiknya kamu jangan dekat-dekat dengan dia.Dia itu pelakor, sikapnya aja pendiam aslinya tukang merebut suami orang".Sengaja Sarah menjelek-jelekkan renata di hadapan renata sendiri pada karyawan baru bernama Noel.
"Masa iya?".Noel pura-pura tidak tidak tahu agar bisa memancing pribadi Sarah.
Sarah, bukannya menjawab.Dia malah mengandeng tangan Noel.Berlari menjauhi renata yang menatapnya ambigu.
"Dia,bukan Deon?". Renata membeo."Tapi,kenapa hidung sama kornea matanya sama?".
Pria itu memang penampilan nya saja seperti pria culun dengan gaya rambut yang agak berantakan, memakai kacamata,baju di kedalamin seperti anak kecil yang tak kalah membuat nya terlihat seperti orang culun adalah ada tompel hitam di pipinya.
"Masa iya juga,Deon seperti itu".Kilah Renata lagi.
Tak ingin terus memikirkan hal yang tidak pasti.Renata,lebih memilih masuk ke dalam untuk melanjutkan aktivitasnya yang tertunda,di bawah tatapan pengunjung dan karyawan yang kebetulan tadi baru berkumpul, memperkenalkan karyawan baru mereka.
Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.Mungkin itu peribahasa yang cocok untuk menggambarkan nasib Renata yang malang,sudah di fitnah sebagai pelakor,datang terlambat bahkan mendapatkan tatapan sinis dan jijik dari rekan kerjanya.
Bahkan Alek sendiri,tak biasanya dia menjadi diam seribu bahasa tak lagi mencoba untuk menganggu nya.Renata,memang merasa senang dan damai kala Alek tak lagi menggodanya dengan rayuan maut.Hanya,saja sikapnya yang berubah tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri untuk dirinya, hatinya menjadi was-was.Takut, unggahan video yang memfitnah nya terlanjur tersebar luas.
"Malangnya nasibku".Gumam renata, berusaha bersikap cuek.
Nyatanya, Renata tetaplah manusia biasa.Walau dia sudah berusaha sekeras-kerasnya tak memperdulikan tatapan sinis mereka dan bisikan setan yang menghancurkan mentalnya.
"Gak nyangka yah, sikapnya aja kayak pendiam.Aslinya lebih buruk dari setan".
"Orang yang pendiam, biasanya diam-diam menghanyutkan".
Rekan kerja renata,tak henti-hentinya membicarakan keburukan tentang dirinya.Sengaja, berbicara dengan keras agar renata mendengarnya.
Deon,tak jauh dari sana.Dia diam memperhatikan, bagaimana rekan kerjanya mencela renata,sumpah serapah tak lupa di berikan pada diri renata yang sejatinya dia tidak tau menahu.
Deon, mengepalkan tangannya.Geram, terhadap unggahan video yang sudah terlanjur tersebar luas apalagi dia mengetahui dalang di balik semua ini adalah Alifa walau bukan dia yang menyebarkan nya.Tapi,melalui lidah tak bertulang,lidah setajam silet dan lidah tumpulnya telah menyakiti hati orang lain bahkan tega menggiring opini masyarakat untuk membencinya.
"Mungkin,aku datang di saat yang tepat".Gumam Deon,sebelum melangkah pergi.Meninggalkan renata yang fokus bekerja walau hatinya tak bisa di ajak kompromi.