
Sesi konferensi pers yang di harapkan oleh Deon akhirnya berakhir juga sesuai dengan tujuan dan juga ekspetasi.Dia akui Alifa memang pandai berargumen, meyakinkan khalayak umum walau di balik layar dengan piawainya.Satu yang tidak dia suka, adalah kemesraan pasangan suami-istri ini selalu di pamerkan.
Entah sengaja,atau memang mereka selalu bersikap romantis.Apapyn itu,Deon yang pernah mencintai Alifa tetap tidak suka dengan pemandangan yang tersaji di hadapannya.
"Oak".Deon, berpura-pura memuntahkan sesuatu ketika Alifa dan Akmal saling bergurau satu sama lain."Lebay".Ledek nya,tak suka.
Apa yang di harapkan nya sudah terlaksana dengan baik.Deon yang merasa muak dengan kemesraan dari pasutri yang di mabuk asmara,tanpa banyak bicara melengos pergi.Seperti biasa dia lakukan.
"Sayang".Panggil Akmal,lembut.Menangkup tangan Alifa."Kau,memuji pria lain di hadapan ku itu rasanya.Sakit".Jelas Akmal,sembari mengarahkan tangan Alifa ke dadanya.
Alifa terkejut bukan main,denyut nadi Akmal bergetar begitu hebatnya."Kayaknya jantung kamu yang bermasalah sayang,bukan hati kamu".Ucap Alifa, tersenyum simpul.
"Iya,jantung ku yang tetiba berdebar begitu kencangnya saat berada di dekat mu".
"Bulshitt".Umpat Deon,sembari melangkah pergi.
Akmal dan Alifa,saling pandang sesaat Deon main nyelonong pergi begitu saja,mana mengumpati mereka pula.
"Itu yang kau maksud,lelaki baik dan selalu memperjuangkan cinta nya?".Tanya Akmal, tepatnya menyindir Alifa.
Merasa di sindir,Alifa tersenyum manis."Hehe,maaf".Kata Alifa dengan polosnya.
Akmal di buat gemas oleh tingkah laku istri nya sendiri,dia menyentuh puncak kepala Alifa dengan gemasnya."Dasar istri kecil ku yang mengemaskan".
Renata, dengan sigap pula dia membersihkan diri,tak lama bagi dia untuk membersihkan diri di kamar mandi dengan kapasitas air nya yang memadai,belum lagi untuk kebutuhan lainnya.Dia harus bisa berhemat sebisa nya untuk menghemat pengeluaran juga.
Tak lupa Renata memasak menu andalannya sekaligus yang low budget begitu dia sudah selesai dengan kegiatan membersihkan diri.Nasi goreng, adalah menu andalannya.
Walau dia merasa bosan,dia juga sadar betul Rania mulai merasa merasa bosan dengan menu yang sama dan di konsumsi secara terus-menerus,tapi tak ada pilihan yang baik selain menu makanan itu.
"Pagi kak".Sapa Rania, yang sudah terbangun dari tidurnya dengan handuk tergantung di bahu nya,mata yang sayu dan sering nya menguap.Menahan kantuk yang masih menderanya.
"Pagi adik ku,sayang".Balas sapa renata,tersenyum.
"Nasi goreng lagi yah kak?".Tanya Rania,menghirup bau masakan yang tak asing baginya.
"Iya maaf yah dek".
Rania,tak menjawab pernyataan renata.Bukan kecewa,tapi di kejar waktu agar dia tak kesiangan berangkat ke sekolah lagi,mengingat ada kelas tambahan untuk nya.
Renata,menghela napasnya."Maafkan aku Rania". Sesalnya sembari menuangkan nasi goreng panas ke dalam piring.
Nasi goreng beserta dengan dua telur dadar telah tersaji di ruang tamu beralaskan tikar dan menyatu dengan tempat tidur mereka.Hanya itu pula menu sarapan mereka yang setiap harinya tersaji,bila bosan maka hanya telur ceplok saja itu pun harus di bagi dua.
Dalam kondisi memprihatinkan seperti ini,Renata teringat dengan kehidupan di masa lalunya sebelum peristiwa naas itu terjadi.Sebelum ayah nya pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.