
Akmal menangkap kecurigaan pada diri Deon yang sama seperti Renata, tatapan mereka kosong dan seperti ada beban masalah yang belum terselesaikan.
"Sepertinya kau kurang ngopi,mari aku ajak kau ke kantin.Kita ngopi bareng-bareng".Ajak Akmal, merangkul pundak Deon menjauh dari Renata dan Alifa.
Deon, mengangguk kepala.Benar,kata Akmal dirinya perlu sedikit ketenangan dengan menegak segelas,dua gelas cangkir kopi.
"Re,aku tinggal dulu yah?.Kamu baik-baik disini".Pamit Deon,mencium kening Renata yang mengendong bayi munggil berjenis kelamin laki-laki.
"Iya".Sahut Renata,tak keberatan dengan kepergian Deon.
Tak hanya Deon yang berpamitan pada istrinya,tapi juga Akmal.Dia juga sama berpamitan pada istrinya sebelum dia pergi.
"Ayo".Ajak Akmal,sembari melenggang pergi di ikuti oleh Deon.
Kedua pria yang dulu sempat bersaing demi mendapatkan cinta wanita blasteran ini,entah kenapa sekarang tiba-tiba berjalan dengan beriringan seperti seorang sahabat yang tanpa ada masalah di masa lalunya.
"Bye The way,kau sudah tau berita mengenai kelahiran Samantha?".Tanya Akmal,memecah keheningan.
"Aku sudah tau, bahkan kematian putranya saja aku tau.Dan si tua bangka itu malah menyalahkan kematian putranya pada ku".Geram Deon.
Akmal, menghentikan langkah kakinya.Informasi ini baru dia ketahui dari orang nya langsung,mungkin itu pula yang menyebabkan Deon bermuram durja.
"So?".Tanya Akmal,sembari berbalik badan menghadap deon."Itu yang membuat mu menjadi orang yang murung?".
"Haha...Haha..Haha".Deon, tertawa terbahak-bahak jelas bukan itu yang menjadi alasannya."Bukan mereka yang aku khawatirkan tapi istri ku, mal".Kata Deon, bergeleng-geleng kepala tak habis pikir dengan pola pikir Akmal.
"Yah ".
Akmal dan Deon,yang di satukan oleh suasana keduanya pergi ke kantin untuk meminum segelas dua gelas kopi dan mungkin untuk mengganjal perut mereka yang tiba-tiba berbunyi keroncongan meninggalkan istri-istri mereka yang tersenyum bahagia menyambut si kecil La-Nina dan El-Nino.
Wajah Renata,bersemu merah kala melihat wajah merah El-Nino yang terbungkus kain tipis,yang entah apa namanya.Renata,belum mengetahuinya.
Hal itu di lihat oleh Alifa yang terbaring diatas kasurnya sembari menete si kecil La-Nina.
"Kenapa?". Tanya Alifa,membeo.
Renata,menoleh kearah Alifa."Anak-anak mu cantik dan tampan,gemas bila melihat wajah-wajah munggil mereka".Jelas Renata,sembari menghampiri ranjang Alifa.
"Anak-anak mu juga pasti akan kalah menggemaskan nya dari anak-anak ku".Sahut Alifa, menggenggam tangan renata.
Renata,tersipu malu.Pasal nya dia belum berhubungan suami-istri setelah mereka di nyatakan sah menjadi sepasang suami-istri,belum siap lebih tepatnya belum ingin.Tapi,Alifa seakan tau apa yang ada dalam pikirannya.
"Cepatlah segera kamu memiliki anak,agar anak-anak ku bisa bermain dengan anak mu".Ucap Alifa,sembari mengelus perut renata.
"Iya, semoga di segera kan".Sahut Renata,yang sebenarnya itu hanya sebuah formalitas bukan do'a yang sesungguhnya.
Alifa dan Renata,masih asyik memperhatikan si kecil La-Nina dan juga El-Nino, kedua bayi itu seakan seperti boneka hidup bagi Renata dan juga Alifa karena kegemarannya hingga kegiatan mereka harus terhenti di kala Akmal dan Deon menghampiri mereka yang masih betah memperhatikan si kecil.
"Ada yang sudah di abaikan nih".Celetuk Akmal pada Deon.