
Dengan susah payah renata, akhirnya bisa membawa Rania keluar dari gerombolan ibu-ibu yang seperti ikan piranha bergerombol memangsa manusia.
Tapi, pakaian yang di kenakan renata tak serapih tadi,tak sebersih saat dia baru mengenakan nya.Pakaiannya menjadi lusuh,tak beraturan dan kotor karena mendapatkan sebuah tendangan dari salah satu gerombolan ibu-ibu tadi,belum lagi lemparan tomat mengenai kening dan bajunya.
Rania,sedari tadi tak henti-hentinya menangis histeris.Teringat kakaknya yang melindungi dirinya dari amukan ibu-ibu.
"Kak".Ucap Rania,lirih.
Renata,tak menjawab panggilan rania.Dia fokus merapihkan dan membersihkan baju nya agar tak terlihat lusuh dan kotor.
Rania,yang berada di samping renata.Dia memeluk tubuh kakaknya dengan begitu erat.Namun,Renata berusaha untuk melepaskan pelukan Rania.
"Lepaskan dek,nanti baju kamu ikut kotor".Sentak renata,sembari berusaha melepaskan pelukan Rania.
"Tidak akan".Teriak Rania."Tak akan pernah aku biarkan kakak menderita sendirian melawan fitnah ini.Aku tau ini hanya fitnah".Jelas rania.
Benar,apa kata Rania .Ini hanya fitnah belaka dan dia menjadi korban atas kejahatan yang tidak pernah sama sekali dia lakukan.
Renata, akhirnya luluh juga.Dia biarkan rania memeluk tubuhnya sesuka hatinya.Bukan tega, tapi dia sedang berusaha menata hatinya yang terluka.Ibarat kaca yang sudah retak,ibarat harga dirinya yang sudah jatuh sejatuh-jatuhnya.
Ingin rasanya,dia menangis, berteriak dengan kencang dan mengadukan nasibnya.Tapi,pada siapa.Alam semesta seperti tidak berpihak padanya, cobaan demi cobaan silih berganti menghampiri kehidupan nya.
"Biarkan aku memeluk mu,bagilah sedikit masalah mu dengan ku,kak".Ucap Rania."Kotoran di baju ku tak sebanding dengan nama mu yang sudah terlanjur kotor dan di cap sebagai hina".Jelas rania.
Tanpa permisi,air mata rania jatuh ke pipi nya.Susah payah dia mencoba untuk membendung air matanya,agar tak tumpah apalagi itu di hadapan rania.
"Aku adik mu,bukan orang lain bagi hidup mu.Sudah sepantasnya kau membagi masalah mu dengan ku.Berbagilah".Pinta Rania.
Renata, tersenyum."Pasti,dek".Kata renata,menghapus jejak air mata di pipinya.
Rania ikut membantu menghapus jejak air mata di pipi renata.Dia belai sentuh puncak kepala kakaknya.Bukan waktunya bagi dia untuk bersikap manja pada Renata, saatnya dia ikut membantu beban hidup yang di tanggung sendiri oleh renata.
"Sudah baik an,kak?".
Renata,mengangguk.Dia mungkin saat ini sudah bisa mulai menata hatinya yang terkoyak dan terguncang karena fitnah belum lagi kata sambutan dunia yang luar biasa,menguras tenaga dan air matanya menambah daftar luka di hati renata.Tapi, nanti.Siapa,yang akan menjamin hidup nya baik-baik saja.
Rania, mengandeng tangan renata.Berjalan menulusuri jalanan setapak yang penuh dengan orang lewat dan kendaraan yang berlalu lalang silih berganti.
Kebersamaan mereka harus terhenti di pertigaan jalan sebab arah tujuan mereka berbeda,saling melawan arus.
Rania, dengan berat hati harus melepaskan gandengan tangan kakaknya.Namun,Renata dengan senyuman manisnya mampu meyakinkan Rania bahwa semua akan baik-baik saja.
"Aku gak papa,dek.Aku sudah terbiasa menghadapi kerasnya hidup.Tak perlu memikirkan diri ku".Kata renata,mencoba meyakinkan rania.
Jelas,Rania tak mudah percaya begitu saja.Sulit baginya harus berpisah, sendiri-sendiri menjalani kehidupan.
"Aku baik-baik saja,dek".Kata renata lagi, meyakinkan.
Rania,mau tak mau dia harus berpisah dengan renata untuk melanjutkan aktivitas mereka.Menghadapi kerasnya dunia dengan cara masing-masing.