My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 100



Rania Kusuma Atmaja,dia memang sudah mendapatkan pekerjaan freelance nya tapi di sebuah bar yang buka dari pukul 2 siang hingga 2 malam.Sebuah pekerjaan yang mungkin di pandang hina dan berbahaya untuk seorang gadis seperti Rania,dimana dia nantinya akan menjadi sasaran empuk bagi kaum Adam dalam menyalurkan hasratnya.


Tapi,Rania yang bertekad ingin membantu renata mengumpulkan pundi-pundi uang demi bisa bertahan hidup di kerasnya kehidupan ibukota, mengesampingkan segala bahaya dan resiko yang siap mengintai dirinya.


Dia juga sengaja menyembunyikan pekerjaan barunya dari sang kakak karena dia pasti akan melarangnya,untuk itu pula dia berusaha menyembunyikan pekerjaan nya dan meminta pulang di awal.


Kulit puti seputih susu,hidung mancung,bibir tebal dan rambut hitam lurus, menjadikan dirinya mudah di terima sebagai pekerja di bar tersebut.Siapa juga yang tak tertarik terhadap kemolekan tubuh rania belum lagi dia di haruskan untuk memakai pakaian minim semakin menambah daya tarik dan pesona gadis belia dari kampung yang berusaha merantau mencari sesuap nasi bersama dengan kakaknya,Renata Kusuma Atmaja.


Hari ini adalah hari kedua dia bekerja di bar tersebut,untuk sementara dia di pekerjaan sebagai pelayan yang mengantar minuman dengan kadar alkohol yang tinggi.Sebenarnya sudah dari kemarin dia ingin keluar saja dari pekerjaan yang memang berbahaya untuk anak gadis seperti nya.


Di hari pertamanya bekerja,Rania mendapatkan sebuah pelecehan dari tamu VVIP,dia yang mengantarkan minuman pesanannya tanpa menaruh curiga sedikitpun pada pria berdasi dan berpangkat entah dia kerja kantoran atau memang bekerja di sebuah instansi kepemerintahan yang jelas pria itu telah melecehkannya di hati pertamanya bekerja.


Pria itu, bahkan dengan terang-terangan menanyakan harga tubuhnya per jam.Namun, dengan tegas Rania menolaknya dan nasib baik masih berpihak padanya.


Hari ini,dia sudah sejak tadi terus membaca mantra, bibirnya komat-kamit seperti dukun membaca mantra pada pasien berharap kejadian kemarin tak terulang kembali dan si polos Rania bisa bertahan disana dengan segala resiko yang ada.


Hari ini pula,tamu dari ruang VVIP kembali memesan minuman beralkohol bahkan sekarang jumlahnya melebihi dari kemarin.


"Ada berapa tamu kira-kira yah,nyampe pesan minuman berbotol-botol?".Rania jadi penasaran sendiri,takut,cemas dan paranoid jelas menghantui dirinya.


Walau begitu mau tidak mau dia harus menjalani pekerjaannya apapun dan bagaimanapun nantinya,berharap sewa amor berpihak padanya seperti kemarin,jika memang tamunya lebih dari satu.


Tok..Tok .Tok..


Sebanyak 3 kali Rania mengetuk pintu,dia tak membutuhkan waktu lama agar si tamu membukakan pintu,sebab dia sudah membuka nya sebelum dia mengucapkan sepatah katapun.


Klek


Pintu terbuka dari dalam, menampakkan sesosok laki-laki tampan, berperawakan tinggi tegap berkulit putih sama seperti dirinya.Dia perhatian penampilan pria itu dari atas hingga bawah, begitu pun dengan pria itu.Memperhatikan penampilan nya dari atas sampai bawah sudah seperti detektif saja dia.


Deg


Betapa terkejutnya Rania,saat wajah pria itu terlihat dengan sempurna sedang menatap dirinya dengan beribu pertanyaan.Tak banyak pikir panjang,Rania menyimpan nampan nya terlebih dahulu sebelum dia lari terbirit-birit menghindari pria yang selama ini dia hindari.


"Apakah dia Rania?".Deon,membeo.Dia ingat-ingat kembali wajah pelayan yang mengantarkan nampan minuman nya.


"Tunggu".Teriak Deon,tersadar kembali akan wajah Rania yang di carinya.


Dia berusaha mengejar Rania yang berlari semakin cepat dengan sepatu high heels nya sudah seperti ahli saja dia dalam berlari tak kenal lelah apalagi sepatu yang di gunakan menyiksa kakinya.