My Introvert Girl

My Introvert Girl
Part 44



Sementara Renata pergi begitu saja,sama seperti pak Budi,sama seperti dirinya yang main pergi begitu saja.Meninggalkan lawan bicaranya di tengah-tengah percakapan.


Deon merasa frustasi dan marah terhadap Renata.Tak berkaca pada dirinya sendiri yang suka meninggalkan lawan bicaranya di tengah pembicaraan.


"Untung aku sayang".


Dia juga,pada akhirnya pergi untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda akibat peristiwa yang tidak sengaja yang mempertemukan mereka berdua.


Dua insan dengan pribadi yang berbeda,jenis kelamin berbeda,dan tujuan berbeda berjalan dengan gontai nya.Yang satu,memiliki beban masalah yang datang bertubi-tubi,sedang yang satu belum menemukan titik terang untuk menaklukkan hati wanitanya.


Di kejar waktu seperti kuli pabrik yang berlomba-lomba bangun lebih awal dan datang lebih awal agar bisa pulang lebih awal pula.Begitupun dengan Deon,dia di kejar waktu.Ada segudang rencana yang harus dia persiapkan sebelum semuanya terlambat.


Walau Renata tau,banyak pelanggan yang menatapnya sinis dengan kata hinaan khas mereka.Tapi, sebagai karyawan profesional dia memilih abai terhadap perlakuan kurang menyenangkan dari mereka.Toh,bukan mereka yang membayar gajih nya.


"Mukanya jangan di tekuk begitu".


"Mikirin ancaman istri sah nya kali".Timpal teman pelanggan di ikuti dengan tawa cekikikan.


Renata,mencengkram pinggiran baki.Kebetulan saat ini dia sedang betugas mengantar menu makanan pada salah satu pelanggan.


"Ini menu makanannya, silahkan di nikmati".Sahut Renata,di ikuti dengan senyum terpaksa.


Pelanggan itu menatap sinis pada renata."Gak usah pura-pura ramah kalau terpaksa". Katanya ketus.


Beberapa kali Renata harus menarik napasnya dalam-dalam, beberapa kali juga dia harus menguatkan diri pada sikap pelanggan yang seenaknya berperilaku.


"Maaf yah mbak,pembeli adalah raja dan penjual adalah dewa.Pelanggan harus di utamakan,tapi pelayan lebih utama.Jika kalian ingin di hormati,maka hormati orang lain juga".Jelas Renata,mengskakmat kedua pelanggan.


Jawaban telah sekaligus menohok, membuat kedua pelanggan itu melongo, mendengar jawaban tak terduga.


Sedang, kedua pelanggan yang memang berniat ingin mempermalukan Renata di tempatnya bekerja,kini balik di permalukan.Tak di sangka nya, seorang pramusaji pendiam bisa memberikan jawaban tak terduga.


"Sombong sekali".Ledek mereka.


"Sudah aku duga,tapi aku bukan tandingan kalian ".Gumam renata.


Benar kata pak Budi,orang pendiam jika terlalu di injak akan melawan seperti semut yang di injak pasti akan melawan dan sekali nya orang pendiam berbicara,itu mampu membuat mental kita jatuh sejatuh-jatuhnya.


Renata bukannya orang pendiam seperti pada orang pendiam kebanyakan,hanya dia malas berdebat untuk hal yang tidak bermanfaat.


Itu pula yang menjadi salah satu Alek menyukai Renata.Pemberani, seperti itulah dia menilai diri Renata di pramusaji pendiam.


Dia yang sejatinya selalu memperhatikan Renata bekerja tak peduli apa dan bagaimana dia bekerja.Tentu,tak melewatkan momen demi momen Renata terdiam saat di hina dan Renata yang angkat bicara.


"Tak salah aku menaruh hati padanya".


"Tak salah,kau dan dia cocok".Sahut pria yang ada di samping Alek.


Alek mendelik sebal."Ganggu aja,nih si kutu kupret".


"Jelas,toh meja kita bersebelahan.Apa yang kamu lakukan,apa yang kamu lihat termasuk hati kamu?.Dapat aku mengetahui nya".


"Kayak peramal aja".Gertak Alek.


Fahri,dialah pria yang selalu menganggu Alek.Sahabat sekaligus pengganggu hidupnya.