
Alek dan Fahri menepuk jidatnya masing-masing,tak percaya dengan ucapan Renata.
"Astaghfirullah".Ucap Fahri dan Alek, serempak.
Kedua cowok ganteng yang berperilaku baik tom and Jerry ini mendadak akur, mengucapkan istighfar terhadap ucapan Renata yang terlampau cuek bebek terhadap sindiran orang lain.
"Kamu ini patung apa manusia?".,
Tanya Fahri, bergeleng-geleng kepala.
"Kalau patung,mana bisa gerak begini.Bernapas,menjawab ucapan kalian".
"Telat".Sahut Fahri dan Alek secara serempak lagi.
Renata, tersenyum baginya kehadiran mereka berdua sudah seperti hiburan di pagi hari setelah sebelumnya malah bertemu manusia paling menyebalkan.
"Cieee,kompak bener.Jangan, jangan".Renata sengaja menjeda ucapannya, memperhatikan mimik muka Alek dan Fahri.
"Jangan, jangan apa Renata?,kalau ngomong jangan setengah-setengah ".Hardik Fahri.
Renata, bukannya menjawab dia malah berpura-pura berpikir dengan jari telunjuk mengarah pada kepalanya serta muka yang sengaja di tekuk.
"Gak usah sok berpikir keras".Ledek Fahri.
"Kok,kalian kompak terus.Jangan, jangan..Nungguin yah?".
Dengan santai Renata malah bercanda, sesuatu yang langka dia lakukan sepanjang 3 tahun terakhir nya.Kini kepribadian yang dulu itu seakan muncul kepermukaan di saat berhadapan dengan kedua predator.
Saat Renata, menikmati permainan yang mereka sendiri ciptakan.Sedang,Fahri dan Alek terlihat sebal dengan ucapan Renata yang seakan memperolok mereka.
"Buruan ngomong, jangan suka bercanda ".Gertak Alek, tersulut emosi juga.
"Jangan..Jangan..Jangan".
Dengan memasang wajah serius Alek dan Fahri mendengarkan dengan seksama ucapan Renata.Tapi,sekali lagi peribahasa'apa yang kamu tanam,itu pula yang kamu tuai'berlaku untuk kedua predator.Dimana Renata,ternyata mengerjai mereka.
"Jangan.. Jangan.. Pikir sendiri yah".Teriak Renata,sembari berlari kencang.
Sedang Fahri dan Alek terlihat kesal dan emosi terhadap tingkah laku Renata yang berhasil mengerjai mereka.
"Sialan,gadis pendiam itu telah berkamuflase menjadi wanita penggoda" .Gertak Alek.Mengcengkram tangan nya.
Deon,yang tak jauh berada di belakang mereka sampai-sampai memegangi perutnya yang semalam habis di hajar oleh Alek demi melihat raut wajah penuh kekesalan dari dua predator pemangsa wanita.
"Karma is real bos". Katanya diantara sela-sela tertawanya.
Rasa puas dan dendamnya akhirnya terbalaskan juga walau belum sepenuhnya setidaknya Renata sudah mempermalukan mereka.
Setelah di rasa cukup dia memperhatikan interaksi predator dan mangsanya yang di menangkan oleh mangsanya.Deon, akhirnya berjalan masuk.Toh,Fahri dan Alek juga sudah kembali menuju tempat kerjanya.
Dia sengaja,datang di jam terakhir selain ingin melihat kemunafikan dari dua predator yang mendadak akur,tapi dia juga sekalian memantau bangunan resto miliknya sendiri.
Yah,dia disini sebagai bosnya tapi juga sebagai karyawan rendahan demi menaklukkan hati wanitanya.Apapun dia rela lakukan,belajar dari kisah cinta terdahulunya.
Begitu dia masuk pun,dia sempatkan untuk mengecek keadaan sekitar.Seperti kursi,meja,alat dapur dan beberapa karyawan yang tengah bersiap memulai pekerjaannya.
Deon sudah seperti Intel saja, menyelidiki dan memantau sekitar mencari benda berharga atau musuh yang bersembunyi di balik bangunan.
Kegiatannya tak luput dari penglihatan pak Budi.Dia merasa heran dengan sikap karyawan barunya,yang bertingkah seperti pemilik resto nya saja, padahal dia sendiri belum tau wajah asli dari pemilik resto hanya namanya saja.
"Sedang apa,anak baru itu?".Tanya pak Budi pada diri sendiri, memperhatikan setiap gerak tubuh Deon.