
Pria itu adalah Deon Wilson yang telah mengamati Renata dan rania sejak dia keluar dari halaman rumah sewanya, setelah dia debat panjang,kali lebar,kali tinggi dengan Bram Bramasta.
Sang asisten ingin tetap Deon menyamar sebagai karyawan rendahan,bukan bermaksud berbelas dendam tapi itu di yakini nya sebagai cara yang lebih baik untuk mendekati sang wanita,tapi Deon punya pemikirannya sendiri apalagi penyamarannya sudah terbongkar.
Renata,memang belum mengetahui tentang rahasia nya tapi dapat dia rasakan wanitanya sudah mencurigainya bahkan dalam penyamaran sekalipun.
"Sudah cukup, main-main nya Renata.Kau mencurigai ku?,maka akan aku tunjukkan jati diri ku terhadap mu"Gumam Deon, mencengkram stir kemudi.
Renata,tentu tidak tau tentang nasibnya dan masa depan nya nanti, baginya dia harus bekerja,bekerja dan bekerja demi menyambung kehidupan nya dan juga adiknya.
Deon yang sudah kesal dan geram terhadap wanitanya dengan sikap pendiam dan cueknya.Dia kemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi,melewati kedua wanita berparas cantik,dia membunyikan klakson mobilnya cukup keras dan lama.
Tid...Tid..Tid
Sengaja Deon, membunyikan klakson mobilnya hingga menganggu Indra pendengaran Renata dan rania.
"Shitt,gue udah di pinggir jalan bukan di tengahnya".Umpat Rania,geram dengan si pengemudi mobil.
Deon,malah tertawa terbahak-bahak mendapati Rania begitu geram dan emosi nya terhadap tindakan nya.Dia memang menghentikan mobilnya tepat di depan mereka berdua,demi melihat reaksi kedua kakak-beradik itu.
"Bagaimana rasanya di permainkan?,enak bukan?".Tawa Deon semakin kencang dan membahana.
Jengkel dan kesal,Rania terhadap si pengemudi mobil,dia berusaha mendatangi si pengemudi mobil yang terhenti tepat di depan mereka bermaksud memberikan sebuah gertakan,tapi baru saja dia hendak sampai mobil itu telah melaju,berhenti,melaju lagi, berhenti lagi terus saja begitu hingga Rania kelelahan sendiri.
"Oh,mau main-main rupanya".Gertak Rania,tak terima di permainkan.
"Loe beli,gue jual".Gertak Rania,semakin maju ke depan mobil.
Deon,memang bermaksud mempermainkan mereka,alhasil dia injak pedal gas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan gadis bocah yang emosi sendiri akibat kelakuan pengemudi tengil.
Meski, begitu Rania tak pantang menyerah terbukti saat dia berusaha dengan sekuat tenaga mengejar mobil yang seenaknya mempermainkan mereka.
"Dasar orang kaya tak tau diri,gak punya aturan,gak punya otak,gak punya nyali.Bisanya hanya menyerang lewat belakang,tak berani bersitatap langsung".Gerutu rania, melampiaskan emosinya lewat hujatan dan hinaan.
Laju lari Rania yang begitu cepat dan lincah tak bisa di tandingi oleh Renata,dia memang bisa mengejar namun efeknya dia menjadi kelelahan, napasnya jadi tersengal mengejar Rania dengan kecepatan lari maraton nya.
"Sudah dek,gak usah di hiraukan".Ucap Renata, terengah-engah.
Rania berbalik badan, mendengar ucapan Renata.Ada rasa kasihan pada sang kakak yang kelelahan akibat mengejar dirinya yang mengejar pria kaya tak punya nyali.
Rania berjalan kearah kakaknya,dia gandeng tangan Renata."Iya kak,maaf". Sesalnya.
Ulasan senyum Renata berikan untuk rania,dia menyentuh lengan rania dan membawanya berjalan ke jalan yang seharusnya.
Rania,jadi malu sendiri.Lihatlah karena ulahnya sendiri,dia berjalan kearah yang tak seharusnya,memaksa sang kakak menyeretnya kembali ke jalur yang seharusnya.
Kendati, demikian Renata tak pernah marah apalagi menunjukkan emosinya di hadapannya walau dia yang salah hanya kata-kata menusuk dan penuh makna dengan kata yang singkat,padat dan jelas.