
Renata,selalu mengutamakan sarapan terlebih dahulu diatas segala-galanya sebab sarapan adalah langkah awal sebelum memulai aktivitas kita yang padat merayap bak jalanan ibu kota yang padat akan pengendara lalu lintas dan seperti populasi ibu kota yang banyak dan padat.
Ada alasan lain di baliknya, dirinya yang pertama mengalami penyakit lambung di karena kan menyepelekan sarapan dan seringnya telat makan, menyebabkan dia memiliki penyakit lambung kendati menu sarapannya hanya berupa nasi goreng dan telur saja, baginya yang terpenting adalah sarapan.
Rania,yang biasanya dia berpura-pura tersenyum.Menikmati menu sarapan yang hanya berupa nasi goreng dan telur saja,kali ini dia tak perlu memasang senyuman palsu sebab menu sarapan kali ini berbeda.
"Kalau begini kan,aku jadi selera". Katanya sembari,mengambil omelette milik Renata.
Renata, dengan sigap menepis tangan Rania."Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang.Kau jangan berani mengambil hak milik orang lain".Nasehat Renata, melayangkan tatapan tajam.
Rania, menekuk wajahnya."Iya,iya ustadzah". Sindirnya,tak jadi mengambil omelette milik Renata.
"Jangan serakah".
"Iya, ustadzah bawel".Sindir Rania lagi.
Renata, menyantap menu sarapan buatan nya sendiri yang belum sempat dia makan.Sedang,Rania,dia tidak perlu di tanya.Baru juga selesai mandi,sudah langsung menyantap sarapan nya tanpa menunggu kakaknya sendiri.
....
Rania dan Renata,harus kembali terpisah.Berpisah hanya sementara dan di pisahkan oleh pertigaan jalanan dengan aktivitas dan kegiatan yang berbeda-beda,kabar baiknya akhirnya Rania bisa mendapatkan pekerjaan paruh waktu nya di rumah makan yang lain,bukan resto seperti dulu.
Begitu pun dengan Renata,dia pada akhirnya bisa bernapas lega,sebab beban hidupnya sedikit berkurang.Bukan karena Rania sudah memiliki pekerjaan baru,bukan.Melainkan sang paman dengan kesadaran dan kesediaan nya sendiri mau mengulurkan tangan demi menunjang kehidupan nya dan..Dan dia mau membantu, sedikit permasalahannya.
Dia lupa,akan pengagum rahasianya.Noel yang sudah dia hari ini dia rela,ikut berjalan kaki demi memantau wanitanya selama berada di jalanan.Rela,dia menempuh jarak yang tak sedikit demi melihat aktivitas wanitanya.
"Maju gak yah?".Sedari tadi, langkah kaki Noel bimbang, menentukan pilihan antara jalan saling bersisian dengan Renata atau tetap memilih di jalur aman saja.
Sesekali jalan Noel sedikit kencang, sesekali juga sedikit pelan efek dari kebimbangannya menentukan pilihan yang sama-sama sulit.
"Ayo Deon, semangat.Kamu harus merebut perhatian dan cintanya, jangan seperti anak ABG".Nasehat dirinya sendiri tertuju untuk dirinya.
Dengan langkah mantap,Deon akhirnya bisa menyusul langkah kaki Renata yang seperti biasa dia terlihat cuek dan tak peduli dengan kehadiran Deon yang sudah berada di sisinya,entah datang nya darimana.
"Hah,bocah ingusan itu lagi".Keluh Renata,menoleh sebentar pada datang nya Deon sebelum kembali menghadap ke depan.
Deon juga,ikut menoleh pada renata dengan tatapan memuja.Tak di sangka nya,dia bisa gugup bila berdekatan dengan wanita nya.Nyalinya tiba-tiba ciut,tak seperti biasanya.
"Oh Renata ku sayang,sikap pendiam mu menjatuhkan mental ku dan sikap jutek mu itu telah menghancurkan nyali ku".Gumam Deon,tak pernah luput tatapannya dari wajah cantik milik Renata.
"Lihat jalanan baik-baik".Sentak Renata.Menyadarkan Deon dengan kebodohan nya sendiri."Kau,tidak akan pernah sampai jika terus melihat diri ku". Ledeknya,sembari menoleh sekilas kearah Deon.
"Mata ku,mata mu juga.Kaki ku,kaki mu juga.Aku tak perlu melihat,sebab dari mata mu aku bisa melihat dengan jelas Mada depan kita dan dari kaki mu aku bisa melangkah menuju pelaminan".Sahut Deon alias Noel.
"Hah".Renata berdecih."Percaya diri sekali kau".Gertak Renata,kembali melihat ke depan.Masa bodoh dengan bocah ingusan tak tau diri.