
Alek dan Fahri, keduanya tentu bisa menemukan Renata dimana pun dia berada dan ikut menimbrung bahkan menganggu acara kencan buta nya Renata dengan pria yang seprofesi dengan mereka atau sekalipun dengan atasan mereka.Mereka jelas tak peduli.
Bagi mereka merpati jinak mereka harus mereka dapatkan setelah dengan susah payah mereka berjuang hanya demi seorang renata Kusuma Atmaja.
Tak adil bagi mereka jika orang lain yang tanpa berjuang bisa dengan mudahnya mendapatkan hati merpati jinak nya,sedang mereka yang sudah berjuang tak kunjung mendapatkan hatinya.
Keempat orang itu,satu wanita dan 3 orang laki-laki hanya saling diam.Tak ada yang bersuara,apalagi berusaha memecahkan keheningan diantara mereka.
Kring...Kring ...Kring
Suara bel,tanda istirahat telah usai berbunyi begitu nyaringnya.Menyelamatkan renata dasi kedua predator dan juga kecanggungan dia dan Deon.
"Hah,udah bel aja perasaan baru sebentar deh".Keluh alek tak terima.
"Hadeh,baru juga mau usaha udah ada peganggu saja".Fahri juga ikut mengeluhkan suara bel tanda istirahat telah usai.
Deon, tersenyum penuh kemenangan.Dua predator peganggu usahanya tak bisa berbuat apa-apa, bahkan tanpa ada hasil untuk mereka dalam merebut dan mendapatkan hati seorang renata Kusuma.
Deon bangkit berdiri."Bel telah berbunyi,memanggil kalian selaku chef yang bertanggungjawab atas hidangan makanan untuk sesegera mungkin menyiapkan makanan terbaik dan berkualitas, manjakan lidah mereka dengan masakan kalian". Instruksi Deon untuk Alek dan Fahri.
Alek dan Fahri, keduanya berdiri dengan terpaksa.Resiko menjadi bawahan memanglah seperti itu, mereka harus tunduk dan patuh terhadap perintah atasan mereka.
"Yah".Sahut Alek dan Fahri dengan terpaksa dan wajah cemberut.
Renata,juga sama.Dia sudah berdiri hendak pergi melanjutkan pekerjaannya yang tertunda sementara untuk sekedar merekatkan badannya yang terasa pegal.
"Mau kemana kau?".Tanya Deon, menginterupsi langkah kaki renata.
Renata, menghentikan langkah kakinya."Mau kerja lah,masa iya terus berdiam diri kayak orang punya duit gede aja".Jawab Renata,sembari melenggang pergi.
"Gadis itu_".Deon bergeleng-geleng kepala,sekali lagi dia di buat terkejut dan tak percaya dengan tingkah laku renata.
Setahunya tadi dia jinak dan bahkan terlihat menikmati kehadirannya tanpa merasa terganggu,sekarang dia malah seenaknya menyelonong pergi dengan kata-kata yang menohok.
Deon,tak berniat beranjak dari tanaman buatan rancangannya.Tak seperti Alek,Fahri dan juga renata.Dia masih betah berada disana,sembari berjalan mengelilingi tanaman yang begitu indah dan memanjakan mata.
Jenis tumbuhan bunga mawar dengan berbagai warna menghiasi setiap sudut tanaman dengan begitu indahnya,di tanam sesuai dengan jenis warna.
Warna-warni bunga mawar seakan mengingatkan dia pada wanita yang dulu pernah hadir dalam hidupnya.Dia pula yang melandasi ide cemerlang dalam pembuatan taman buatan yang mampu memanjakan Indra penglihatannya di resto cepat saji nya.
Deon, membentangkan tangan nya diantara tanaman bunga mawar penuh dengan duri, tak peduli dengan tangan nya yang mungkin akan terkena goresan duri dari tanaman bunga mawar yang dia rancang dan tanam sendiri.
"Aw".Deon mengaduh kesakitan,baru saja dia membentangkan tangannya.Tangan itu telah terkena duri dari tanaman bunga mawar.
Darah menetes keluar,meski sedikit tapi terasa perih.Seperih hatinya kala mengingat kenangan demi kenangan dia bersama dengan Alifa.Wanita yang dia cintai,tapi cintanya tak di perjuangkan.